Lagu Kristiani Tertua

Pertanyaan tentang apa lagu Kristiani tertua memang memiliki sejumlah kesulitan untuk dijawab.

Istilah Kristiani itu sendiri menyimpulkan ambiguitas, sebab sejumlah nyanyian Mazmur tentu telah menjadi bagian dalam ibadah Kristiani yang paling awal. Namun, menyatakan Mazmur hanya sebagai nyanyian Kristiani tentu kurang tepat, sebab nyanyian-nyanyian itu sudah lebih dahulu dipakai dalam ibadah umat Israel dan kemudian Yudaisme, dengan sejumlah variasi nada dan irama.

Di sisi lain, istilah lagu itu sendiri terkadang sulit ditentukan. Sejumlah teks dalam Perjanjian Baru memang ada yang memuat kidung pujian, seperti tulisan Paulus untuk jemaat Korintus yang menganalogikan Yesus sebagai hikmat (1 Korintus 1:22-24, 30-31), atau himne kenosis di Filipi 2:5-11. Umumnya di tengah teks Perjanjian Baru, bentuk lagu dapat dikenali antara lain dari bentuk sastranya, ritmenya, kosakatanya yang tidak begitu lugas, tata bahasa atau susunannya. Namun batasan itu tidak selalu bisa ditentukan dengan jelas. Pun sejumlah lagu itu sudah tidak diketahui lagi notasinya.

Para pakar himnologi umumnya bersepakat untuk membatasi lagu Kristiani dalam pengertian nyanyian yang sengaja dituliskan oleh jemaat Kristiani di luar parafrasa baku teks Alkitab bahasa asli, meski sangat mungkin mengutipnya, serta masih memiliki petunjuk notasi yang memungkinkan kita menyanyikannya dengan nada yang menyerupai aslinya.

Dalam pengertian ini, himne yang ditemukan pada papirus di Oxyrhynchus (sekarang El-Bahnasa, Mesir) adalah kidung Kristiani tertua yang dituliskan dan bisa diketahui. Para ahli memperkirakan bahwa manuskrip yang memuat kidung pujian pada Trinitas Maha Kudus ini berasal dari kisaran tahun 250 M. Dalam manuskrip Oxyrhynchus, memang masih ada bagian nyanyian yang hilang, namun nada dan irama khas Yunani-nya masih dapat dilihat dengan jelas.

Lagu Kristiani lengkap tertua yang bisa diketahui adalah kidung Terang Gembira (Yunani: Phos Hilarion, Latin Lumen Hilare). Lagu ini tercatat dalam rekap sejarah Konstitusi Rasuli (Latin: Constitutiones Apostolorum) selepas pertengahan abad ke-3 Masehi. St. Basilius Agung (329-379 M), Bapa Gereja Kapadokia, pernah menuliskan bahwa di masanya, kidung itu sudah dianggap sebagai kidung yang sudah sangat lazim, bahkan dianggap tua. Sehingga membuka kemungkinan bahwa nyanyian yang biasa dikumandangkan pada sembahyang senja ini, sezaman atau lebih tua dari himne di papirus Oxyrhynchus.

Kidung Terang Gembira hingga saat ini masih digunakan, umumnya dalam litrugi senja di Gereja-gereja Ortodoks, Katolik, Lutheran, Anglikan dan sejumlah gereja Episkopal. Tentu saja sudah ada sekian banyak variasi dalam nada dan iramanya. Bahkan band kristiani kontemporer Casting Crown, juga pernah memakai syairnya dalam aransemen yang lebih bernuansa rock. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA