Nama Orang Kristen

Kalau dibolehkan menentukan nama sendiri, nama apa yang akan kita pakai? Nama apa pula yang akan kita sematkan untuk anak-anak kita? Tiap orang tentu punya sekian banyak pertimbangan untuk hal itu. Terkadang harus melibatkan orang-orang baik itu kerabat, maupun tokoh yang ia hormati untuk memberikan nama.

Tapi di lazimnya orang Kristen, terkadang memang memakai nama-nama tertentu. Dalam tradisi gereja Katolik, Ortodoks atau sejumlah mazhab klasik Protestan, pemberian nama baptis sudah merupakan pakem yang harus diikuti. Biasanya diambil dari tokoh-tokoh Alkitab, malaikat atau orang suci sepanjang sejarah gereja.

Kebiasaan seperti itu memang bukan hal wajib di kalangan Protestan yang lebih baru, termasuk dalam tradisi GKI. Meski demikian, kecenderungan itu tetap terlihat. Nama-nama khas Alkitab semacam Christian, Martha, Samuel, Rachel, Thomas, Debora, Maria, Daniel, Naomi, Nathan, Daud, Jeremy, Peter, Joas, lumayan lazim ditemukan di warga jemaat GKI, terutama di generasi terkini. Meski dalam porsi lebih sedikit, nama malaikat seperti Mikael, Gabriel atau tokoh gereja berikutnya seperti Agustinus, Helena, Nikolas, atau Luther dan Calvin juga sering dipakai.

Trendnya pun cenderung berubah-ubah. Jika dulu lebih menyukai bentuk khas Indonesia semisal Daud, Yusuf, atau Yeremia, umat Kristiani sempat pula lebih menyukai bentuk khas Barat seperti David, Joseph, atau Jeremy. Belakangan varian yang lebih Ibrani juga menonjol semisal Mosheh, Hadassah, Yehoshua atau kata-kata khas Ibrani seperti Shekinah dan Shalom. Bahkan terkadang ada yang cukup berani memakai nama gelar Tuhan semisal El-Shaddai, Shebaoth atau Rapha dalam namanya.

Nama boleh jadi menyimpan doa, syukur, harapan pun bisa menjadi pernyataan iman. Nama Samuel (Tuhan mendengar) atau Ismael (Tuhan telah mendengar) adalah contoh bagaimana nama dijadikan kesaksian syukur. Elia (El ialah Yehowah), Yosua (Yehowah adalah keselamatan), Yoab (Yehowah adalah Bapa) misalnya, adalah deklarasi iman.

Biasanya pemberian nama dengan mengacu pada tokoh berharap teladannya dapat menginspirasi kehidupan yang diembani nama. Atas pertimbangan inilah beberapa nama terkadang dihindari. Misalnya saja, terbilang sedikit orang Kristen yang menamai anaknya Yudas, karena khawatir diidentikan dengan Yudas Iskariot. Padahal salah satu rasul lain pun ada yang bernama Yudas dan nama itu sendiri (dalam varian Ibrani Yehuda) adalah bentuk ucapan syukur.

Kadang karena kekhawatiran yang sama, beberapa nama yang diasosikan keyakinan lain juga tidak dipakai. Padahal pemebedaan itu tidak selalu mudah diterapkan. Nama Slavic, Vladimir, misalnya meski terkesan di luar pakem nama Kristiani justru bisa dimaknai sangat Kristiani saat merujuk bahwa Vladimir, Pangeran Damai, yang dimaksud adalah Yesus. Demikian pula nama India, Narahari, manusia-ilahi yang oleh sebagian shadu Kristiani disana dirujukkan pada Yesus. Atau Nama Arab, Abdullah yang sebenarnya searti dengan Obaja, sama-sama berarti hamba Allah.

Di Indonesia varian semacam itu mungkin belum terlalu banyak. Nama Kristiani khas Nusantara yang pernah dipakai semisal Kristantoro (bentara Kristus), Alifdanya Munsyi (Pewarta Sang Alfa dan Omega) atau Panondang (Sang Terang), mungkin terdengar tak begitu populer. Namun, tak ada salahnya memunculkan varian yang lebih kreatif, jika ingin menunjukkan ciri kekristenan dalam nama. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA