Pancasila dan Spiritualitas khas Indonesia

Sepanjang bulan Juni, diskusi tentang Pancasila cukup banyak digelar. Hal itu menyentuh banyak lini kehidupan. Ada yang meninjau aspek sejarah, ada pula yang meninjau perkembangannya di masa kini. Sejumlah pandangan kritis pun terus bermunculan, mengguncang sekaligus mengokohkan kembali pemikiran kita tentang dasar negara.

Tapi ternyata ada pula diskusi yang menyentuh ranah lain. Bagaimana menghayati Pancasila juga secara spiritual.

Bagi saya sekarang ini Pancasila itu sudah sesuatu yang sangat-sangat bagus, dan untuk menghayatinya kita perlu perjuangan spiritual. Maka bagi saya temuan Pancasila dengan kelima silanya itu bukan cuma sekedar temuan rasional, tapi juga temuan spiritual,” K. H Taufik Damas menyampaikan pernyataannya itu dengan penuh keyakinan dalam sebuah diskusi di Rabu (20/6).

Bagi Wakil Khatib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta ini, rahmat Allah benar-benar dirasakan saat akhirnya para pendiri bangsa kita bisa menemukan titik temu dan mengatasi sekian banyak perbedaan yang ada saat merumuskan dasar negara.

Kalau ada kelompok agama di Indonesia yang tidak bisa melihat bahwa Pancasila itu merupakan anugerah Tuhan untuk Indonesia, bisa jadi karena penghayatannya tidak spiritual. Bisa saja mereka sangat tekstual, kaku dan tidak bisa menerima perbedaan. Karena untuk bisa menemukan hal yang bisa diterima bersama di masyarakat majemuk itu bukan murni kerja rasional semata. Itu adalah kerja spiritual,” lanjut K.H Taufik.

Apa yang disampaikan rekan sepanelnya, itu sangat disetujui oleh Pdt. Royandi Tanudjaja. “Saya nyaris tidak bisa membayangkan seandainya pada waktu itu para pemimpin bangsa kita tidak bisa bersepakat merumuskan dasar negara. Bisa jadi Indonesia tidak ada, atau setidaknya tidak seperti yang kita hidupi sekarang,” ungkap pendeta jemaat GKI Gunung Sahari ini.

Bagi Pdt. Royandi teladan para pemimpin bangsa itu adalah laku spiritual dan memang diinspirasi oleh Yang Mahakuasa. “Kalau bukan karena pimpinan Tuhan, ya tentu sulit untuk merumuskan persatuan. Manusia kan pada dasarnya punya semangat untuk jadi egois dan mementingkan kelompoknya. Tapi dalam proses itu kita melihat semangat yang diusung untuk menghormati, berkorban, berbuat baik. Itu kan nilai-nilai keilahian, jadi benar ini memang sangat spiritual,” lanjutnya.

Kedua pembicara ini bersepakat, kontekstualisasi keagamaan di Indonesia memang harus merangkul nilai-nilai Pancasila ini. Apa yang dikampanyekan dalam jargon semisal Islam Nusantara, atau 100% Kristen, 100% persen Indonesia, adalah suatu penghayatan yang perlu terus diaplikasikan dan direfleksikan dalam spiritualitas keseharian umat beragama di Indonesia. **arms

(Dikutip dari Talkshow Pancasila, RPK FM, 20 Juni 2018)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA