Peh Cun dan Kesetiaan

Hampir semua kita tahu makanan kwecang (dari ketan, dimakan dengan gula jawa yang sudah dimasak), atau bacang (terbuat dari beras dan ketan isinya bervariasi: ada udang, daging plus merah telur asin, jamur). Makanan dengan empat kerucut dan dibungkus dengan daun bambu itu rasanya memang luar biasa. Hao che, katanya. Itulah makanan khas pada saat orang Tionghoa memperingati hari Peh Chun (Duan Wu). Senin lalu (18/6), warga Tionghoa pun kembali melakukan tradisi ini.

Salah satu kisah untuk tradisi Peh Chun bermula dari seorang tokoh sastra Qu Yuan (343-289 SM) dari kerajaan Chu. Ia bukan hanya terkenal sebagai sastrawan, tetapi juga sebagai menteri yang dipercaya dan setia, sehingga teman-teman menteri yang lain iri kepadanya. Mereka memuji-muji Qu Yuan, tetapi sebenarnya ingin menjatuhkannya. Umumnya mereka setuju rencana menyatukan kerajaan Chu dengan kerajaan Chin, karena mereka akan diberi posisi tinggi. Qu Yuan tidak setuju dengan rencana teman-temannya, sehingga ia pun dibenci.

Rencana jahat teman-teman Qu Yuan diwujudkan dengan menekan tim dokter istana agar menetapkan pantang garam secara total bagi raja yang sedang sakit. Akibatnya, kondisi raja semakin lemah. Mengetahui kejahatan teman-temannya, Qu Yuan dengan diam-diam membungkus garam dalam bambu dengan empat kerucut dan menggantungnya di atas langit-langit, tepat di atas mulut raja. Tujuannya, agar garam tersebut dapat menetes di mulut raja, sehingga raja pulih kembali.

Rencana Qu Yuan itu diketahui dan ia dituduh meracuni raja. Qu Yuan tidak mau berurusan dengan pengadilan, lalu bunuh diri dengan cara menyebur ke sungai Mi Luo. Ketika rakyat mendengar peristiwa itu, maka rakyat mencari jenazah Qu Yuan. Rakyat melemparkan nasi yang dibungkus dengan daun bambu dengan bentuk empat kerucut ke dalam sungai Mi Luo. Tujuannya supaya, ikan-ikan tidak memakan tubuh Qu Yuan. Mereka juga menabuh genderang di perahu untuk mengusir roh-roh naga yang jahat, yang dapat mengganggu roh Qu Yuan. Peristiwa ini dikenang di sepanjang tahun dengan nama Peh Chun, yang ditandai dengan perahu naga (dragon boat).

Perayaan Peh Cun di Pekalongan (Antara)

Cerita Qu Yuan mengajak kita semua untuk melihat kesetiaan. Qu Yuan tidak ingin bersekongkol dengan para pengkhianat raja, sekalipun diiming-imingi imbalan besar. Ia tetap setia kepada raja yang sedang sekarat. Ia setia walaupun harus mati dengan cara yang kontroversial.

Belakangan, terutama dalam dunia politik, makin sulit kita jumpai orang-orang yang mempunyai karakter yang setia, konsisten, teguh pada kebenaran dan integritas yang tinggi. Banyak orang terpikat dan terjebak oleh tawaran materi, kedudukan, kekuasaan yang sudah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi.

Kesetiaan itu merupakan karakter yang harus dimiliki. Dalam Lukas 16:10-13 Yesus mengingatkan kita bahwa tidak mungkin bagi kita untuk menaruh kedua kaki kita di atas kedua perahu. Kita dituntut menjadi orang setia seperti Qu Yuan.

Saat orang tua Tionghoa yang menceritakan kesetian Qu Yuan dalam perayaan Peh Cun kita belajar beberapa hal. Pertama kita harus melatih kesetiaan sejak usia dini. Peranan kita sebagai orang tua besar untuk melatih karakter setia kepada anak-anak sejak kecil. Pendidikan karakter bukan terjadi begitu saja atau pada saat kita sudah tua.

Demikian pula, pelatihan karakter kesetiaan bukan saja dilakukan sejak kecil, tetapi juga diperlukan latihan-latihan atau perkara-perkara yang kecil. Kalau seseorang terlatih dengan perkara yang kecil, maka ia juga akan melatih dirinya dengan perkara yang lebih besar lagi.

Terakhir, pelatihan karakter kesetiaan bukan saja dilakukan sejak kecil dan dimulai dengan perkara yang kecil; tetapi membutuhkan sebuah keteladanan. Anak-anak akan meniru setiap peran yang dimainkan oleh orang tua. Sebagai orang tua, sering kali tidak sadar bahwa gaya, perilaku, keputusan-keputusan yang kita ambil, kata-kata yang kita lakukan setiap hari dapat ditiru oleh anak-anak. Mereka juga dapat meniru kesetiaan kita sebagai orang tua.

Seiring enaknya kwecang dan bacang, meriahnya pesta perahu mengiring Peh Cun. Marilah kita juga belajar menjadi murid Tuhan Yesus yang setia.

Penulis: Pdt. (Em). Sugiarto Sutanto (GKI Taman Aries)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA