Sakramen Baptisan Anak?

Di dalam kekayaan tradisi gereja, kita mengenal perbedaan‐perbedaan dalam pemahaman dan praktik gerejawi. Termasuk dalam hal sakramen baptisan kudus bagi anak-anak. Ada gereja yang mempraktikkan baptisan kudus anak, tapi juga ada yang tidak mempraktikkannya. GKI termasuk dalam gereja-gereja yang mempraktikkannya.

Tanpa mengurangi penghargaan pada hak asasi tiap orang dan tiap denominasi untuk memiliki dan mempraktikkan apa yang menjadi keyakinannya, mari kita melihat lagi perbedaan yang memang ada dalam hal baptisan kudus anak dan apa yang diajarkan oleh GKI.

Kecuali Gereja Ortodoks Timur, umumnya gereja yang mempraktikkan bentuk baptisan selam (semisal gereja-gereja Baptis, Pentakosta dan Kharismatik) adalah gereja yang juga menolak baptisan anak. Alasan penolakan ini karena pandangan bahwa baptisan hanya untuk orang dewasa dan anak yang lebih besar, yang sudah punya pengertian.

Bagi gereja-gereja ini baptisan dilakukan hanya setelah seseorang mendapatkan pengalaman “lahir baru” – yakni setelah “menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.” Pada saat lahir barulah, orang dewasa menjadi seorang Kristiani, yang terpilih dan keselamatannya terjamin selamanya, setelah itu barulah dilakukan pembaptisan.

Biasanya, kelompok tradisi baptis selam ini menggantikan praktik baptisan anak menjadi penyerahan bayi dan anak, dengan bersandar kepada Luk 18:16, “Biarkanlah anak‐anak itu datang kepada‐Ku, dan jangan kamu menghalang‐halangi mereka, sebab orang‐orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Kelompok‐kelompok tadi lebih suka mengartikan ayat ini bukan sebagai baptisan melainkan “penyerahan” anak‐anak kepada Yesus.

Namun, Gereja-gereja Reformasi, termasuk GKI, memahami bahwa “penyerahan” bukanlah sakramen dan tidak diperintahkan sebagai sakramen oleh Yesus Kristus. Bagi GKI, sakramen adalah tanda dan meterai yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri untuk menandai dan memeteraikan janji Allah, bahwa oleh pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib setiap orang yang percaya diselamatkan. Namun berbeda dengan yang menolak baptisan anak, bagi GKI tanda dan meterai itu tidak boleh diabaikan sejak usia bayi atau anak.

Sejak Perjanjian Lama kita melihat bahwa Tuhan Allah telah mengikutsertakan bayi dan anak‐anak dalam ikatan perjanjian kasih karunia‐Nya. Di dalam Kejadian 17:7 kita membaca Tuhan mengikatkan diri dalam perjanjian dengan Abram “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun‐temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” Tanda perjanjian yang diberlakukan saat itu adalah sunat yang dikenakan pada anak laki‐laki sejak berumur delapan hari (Kej 17:12).

Secara konsisten pengikutsertaan anak dalam ikatan perjanjian kasih karunia Allah ini dilanjutkan oleh Perjanjian Baru. Saat Pentakosta, ketika orang banyak bertanya apa yang harus mereka perbuat, Rasul Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing‐masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:28). Ia tidak membatasi hal itu hanya bagi orang dewasa, malahan berkata “kamu masing‐masing.” Ia pun menambahkan, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak‐anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” (Kis 2:39; bdk Kej 17:7‐11).

Baptisan kudus anak merupakan ajaran reformasi yang dipegang oleh GKI. Hal itu dipraktikkan berdasarkan keyakinan bahwa anak‐anak dalam keluarga orang percaya terhisab dalam perjanjian Allah. Tentu dalam sakramen baptisan kudus anak, orangtualah yang mengikatkan diri dalam perjanjian dengan Allah dengan disaksikan Jemaat‐Nya. Perjanjian untuk mendidik, membesarkan anak dalam pengenalan, kasih dan ketaatan pada Tuhan sampai si anak cukup dewasa untuk mengakui baptisan yang telah diterimanya itu.

Sebab itu, penolakan terhadap baptisan kudus anak dengan alasan anak‐anak belum mengerti, tidaklah diterima oleh GKI. Pandangan seperti itu menahan hak anak untuk menerima meterai suci dari Perjanjian kasih karunia Allah dan membedakan secara hakiki manusia ciptaan Allah.

Penulis: Pdt. Ronny Nathanael (GKI Gading Indah)

Foto Ilustrasi: Baptisan di GKI Beringin

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA