Seri Dapur Sejarah: Jemaat Patekoan

Pa Tek Kwan, delapan teko. Itulah nama awal jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Perniagaan.

Pertengahan abad ke-17, Gan Djie, seorang saudagar Totok asal Ciangcu (Zhangzhou), memindahkan usahanya dari Gresik ke Batavia. Gan Djie menikah dengan perempuan berdarah Bali dan memulai usaha dagang di wilayah ini.

Tidak hanya berdagang, keluarga ini dikenal amat murah hati. Setiap hari mereka menyediakan delapan teko berisi teh, yang boleh diminum siapa saja yang melintas. Kebaikan hati ini sangat menyentuh banyak orang, sehingga mereka menyebut jalan di depan rumah saudagar itu sebagai Jalan Patekoan.

Awal Penginjilan
Dua ratusan tahun berselang, hanya satu kilometeran dari situ, Gan Kwee, penginjil dari Amoy (Xianmen) melakukan penginjilan kepada warga Tionghoa. Buahnya tahun 1868 ada 17 orang yang kemudian mengaku percaya dan dilayani baptisannya oleh Ds. de Gaay Fortman. Mereka pun memulai persekutuan rumahan di sekitar wilayah itu. Paling sering di rumah milik keluarga Gouw Ko (dekat Jl. Angke sekarang).

Persekutuan ini berkembang, menggerakkan hati keluarga Gouw Ko untuk menghibahkan empat rumah di Patekoan untuk dijadikan gedung gereja tetap. Pemerintah Hindia Belanda kemudian memberi status resmi kepada jemaat Patekoan pada tahun 1899.

Jemaat Patekoan pun turut mengembangkan pelayanan dan berkonsolidasi dengan jemaat-jemaat lain yang melayani warga Tionghoa. Puncaknya, bersama jemaat Tionghoa Senen, Indramayu, Bandung dan Cirebon, jemaat ini membentuk Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Kho Hwee Djawa Barat (THKTKH KHDB) pada 12 November 1938, yang kemudian diresmikan di bawah binaan lembaga misi Belanda NZV pada 24 Maret 1940. THKTKH KHDB inilah yang menjadi cikal-bakal GKI Sinode Wilayah Jawa Barat.

Di masa itu gairah penginjilan warga Tionghoa sangat terlihat. Penginjil legendaris Tiongkok, Dr. John Sung datang ke Jakarta tahun 1939 mengadakan serangkaian kebaktian penginjilan. Ini berimbas pada pertumbuhan jemaat, termasuk di Patekoan. Jemaat ini bahkan membuka sejumlah pos penginjilan di Cilegon, Tangerang, Bogor dan Karawang. Sayangnya selepas pemerintahan Jepang, pelayanan ke pos-pos itu terhenti karena terputusnya banyak jalan utama.

Pembelahan dan Penyatuan
THKTKH Jemaat Patekoan tetap berkembang hingga era kemerdekaan RI. Meski sejak itu berganti nama menjadi Jemaat Perniagaan, seiring bergantinya nama jalan legendaris itu.

Tahun 1952, gedung gereja tak mampu lagi menampung kebutuhan jemaat yang besar. Sebagian jemaat yang berbahasa Hokkien sulit mengatur waktu ibadah. Merekapun mulai merintis kebaktian di gedung baru di Jl. Pinangsia, hingga sekarang menjadi jemaat yang kita kenal sebagai GKI Gloria (Pinangsia). Jemaat berbahasa Hokkien lainnya, tetap menjadi bagian dari jemaat Perniagaan, kemudian di tahun yang sama didewasakan menjadi jemaat sendiri, yang disebut GKI Kanaan (Jembatan Dua).

Perjalanan memang tak selamanya mulus, 10 Mei 1953 terjadi perselisihan yang disebut sebagai Peristiwa Patekoan. Ada perbedaan pendapat sengit antara majelis jemaat dengan beberapa anggota tentang persoalan intern organisasi gereja. Walau majelis Patekoan telah mengundang Khoe Hwee THKTKH, perselisihan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik sehingga akhirnya Jemaat Patekoan terbagi dua. Sebagian tetap sebagai jemaat Patekoan (Perniagaan) dan menyatakan keluar dari THKTKH Djawa Barat, dan sebagian lainnya pindah ke Jl. Krekot 28 (sekarang Jl. Samanhudi, kita kenal sekarang sebagai GKI Samanhudi).

Namun di tahun 1960, rekonsiliasi ternyata dapat dilakukan. Jemaat Perniagaan kembali bergabung dengan Sinode, yang saat itu sudah berganti nama menjadi GKI Jawa Barat. Di tanggal monumental 10 Mei 1960 jemaat inipun resmi mengusung nama sebagai GKI Perniagaan.

Dalam perjalanan ini kita pun melihat Jemaat Patekoan telah berkembang menjadi empat jemaat GKI, yaitu GKI Perniagaan, GKI Samanhudi, GKI Gloria Pinangsia dan GKI Kanaan Jembatan Dua.

Terus Berbuah
Bulan lalu, usia penginjilan Jemaat Patekoan genap 150 tahun. Peristiwa bersejarah ini tentu menautkan jemaat pada refleksi panjang.

Pdt. Debora Rachelina dari GKI Perniagaan mengakui banyak pembelajaran yang dapat diambil dari sejarah jemaat ini. “Kita sempat mengalami proses bertumbuh, kemudian menghadapi tantangan perpecahan, namun melihat bagaimana penyertaan Tuhan menjadikannya indah dan berbuah menjadi berkat,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkap Pdt. Frida Situmorang dari GKI Samanhudi. Baginya tak ada yang lebih untuk dikatakan selain ungkapan syukur, bagaimana kasih Allah tersalur begitu murah hati pada tiap orang yang terlibat dalam sejarah panjang jemaat ini. Sebagaiamana nama awalnya Patekoan, tiap-tiap buah pelayanan jemaat ini, ingin selalu menjadi teko, saluran Sang Air Kehidupan bagi sekitarnya… **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA