Di Balik Lagu Suci Suci Suci

Holy, Holy, Holy… Lord God Almighty…

Marry Allanson menemukan seuntai puisi yang dimulai dengan kata-kata itu di tumpukan kertas kerja almarhum suaminya, Reginald Heber. Selepas kematian sang suami di awal April 1826, Allanson baru menyadari kalau suaminya telah menulis sejumlah larik puisi yang sebenarnya diperuntukkan untuk menjadi lagu-lagu pujian di gereja. Pada puisi yang ditemukannya tadi, tertulis keterangan bahwa itu diperuntukkan untuk kidung di Minggu Trinitas (hari Minggu pertama setelah Pentakosta, yang menekankan penghayatan pada doktrin Trinitas Kristiani).

Reginald Heber, adalah seorang uskup di Gereja Anglikan di era 1820-an. Ia melayani sekian banyak tempat di berbagai penjuru Kerajaan Inggris, bahkan hingga menjadi uskup di Kalkuta, India. Di masa mudanya Heber juga dikenal sebagai penyair dan petualang yang menjelajah wilayah-wilayah Skandinavia dan Eropa Timur.

Tapi masa Heber melayani di gereja Inggris adalah era yang ditandai dengan pertentangan teologis sengit. Sumber pertentangan itu telah berlangsung dua hingga tiga abad sebelumnya. Setelah melepaskan diri dari Gereja Katolik pada 1534, gereja Inggris sempat mengadopsi semangat Protestanisme, bahkan dalam bentuk yang Puritan. Namun, ada juga gerak untuk tetap mempertahankan tradisi Katolik. Hal yang di abad berikutnya menghasilkan dua tampilan Gereja Anglikan, yaitu tradisi low-church (lebih tradisional dan mirip Katolik) dan high-church (lebih reformis dan mengikuti semangat Protestan).

Perdebatan yang cukup menonjol di era Heber adalah terkait kidung yang dinyanyikan dalam liturgi. Sebagian besar gereja high-church kurang menyukai lagu-lagu yang belakangan diciptakan, sebab terlalu sederhana dan menonjolkan sisi subyektif dalam penghayatan teologisnya.  Lucunya, faksi yang paling Puritan di tradisi low-church pun bersikap sama. Mereka, meski tidak menyukai komposisi musik yang rumit-megah ala gereja high-church, namun juga tidak terlalu suka kidung yang terlalu emosional. Di era itu, untuk menghindari pertentangan, penggubah kidung biasanya hanya membuat kidung untuk satu dua jemaat yang mereka gembalakan, seringkali anonim.

Namun cerita kidung ini justru unik. Tahun 1861 Marry Allanson menunjukkan lirik tulisan suaminya pada John Bacchus Dykes, seorang organis dan menjabat sebagai imam gereja Anglikan di satu paroki kecil. Dykes, yang berasal dari tradisi high-church, sangat menyukai syair itu. Bentuknya tradisional, mengikuti tradisi trisagion (tiga kali menyeru: suci) yang menukil dari Yesaya 6:3 dan Wahyu 4. Namun, juga menekankan penghayatan komunal karena mengajak orang masuk dalam pujian pada Trinitas.

Secara kebetulan, Dykes sudah merancang melodi untuk mendaraskan pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, yang tentunya sangat menekankan doktrin Trinitas. Jadilah melodi yang diberi judul Nicaea itu disusun ulang untuk syair Holy, Holy, Holy ciptaan Heber tadi.

Ternyata kidung itu menjadi amat populer di Inggris. Lagu ini kemudian dipakai hampir semua denominasi gereja di Inggris termasuk oleh umat Katolik, Baptis dan Metodis. Lagu itu pun segera populer di banyak gereja di dunia. Di Indonesia kita pun cukup sering menyanyikannya (KJ No. 2, KPPK No. 60, dengan judul Suci, Suci, Suci).

Syair sederhana yang sempat terlupakan itu ternyata justru melintasi batas-batas pertentangan teologis yang melatarinya. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA