Emeritasi Pdt. Henry Efferin

SAS… Mungkin karena bertumbuh dewasa di era 1970-an, Pdt. Henry Efferin memakai inisial itu untuk menyampaikan hal-hal yang direfleksikannya sebagai warisan pelayanan. SAS, disini tentu bukan merujuk pada grup rock legendaris Indonesia tadi, tapi pada tiga hal yang bagi Pdt. Henry penting dalam tugas kepemimpinan dan pelayanan gerejawi.

Poin pertama dari SAS itu adalah Simplicity, dalam arti seorang pemimpin pelayanan harus meneladani kesederhanaan dan kebersahajaan Kristus, dalam karya dan tampilan. Ini penting agar pelayan Tuhan bisa diakses oleh tiap lapisan masyarakat. Sementara yang kedua adalah Authenticity, dimana pemimpin haruslah otentik, tidak perlu khawatir menampilkan diri apa adanya, meski punya kekurangan yang terlihat. Tidak perlu meniru atau iri dengan gaya orang lain. Yang terakhir adalah Security, seorang pelayan haruslah merasa aman dan nyaman diri sendiri dan menularkan rasa yang sama pada yang dilayaninya.

Pesan itu disampaikan oleh pendeta GKI Anugerah ini dalam kebaktian emeritasinya, Senin (23/7). Di kebaktian yang bertempat di Aula Lt. 3 GKI Anugerah itu, pemberitaan firman dan pelayanan emeritasi dipimpin oleh Sekretaris Umum BPMSW GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, Pdt. Jotje Hanri Karuh. Seperti lazimnya dilakukan di GKI Anugerah dan beberapa jemaat di Klasis Priangan, kebaktian ini pun diselenggarakan dalam dua bahasa, Indonesai dan Mandarin.

 

Tema Purnabakti bukan Purna Karya diangkat sebagai refleksi. Hal yang mengingatkan Pdt. Henry dan para pelayan Tuhan lainnya bahwa pelayanan tidak terbatas hanya jabatan dan fungsi struktural di majelis jemaat, klasis, sinode wilayah atau sinode GKI. Status seorang sebagai pelayan Tuhan, termasuk sebagai pendeta, tetaplah diemban hingga akhir hayat.

Inilah yang juga menjadi harapan sekaligus rasa syukur jemaat GKI Anugerah. Pdt. Henry diharapkan tetap menumbuhkan dan mewariskan kesepenuhan hati dalam melayani. Pada sejumlah sambutan dan testimoni yang disampaikan dalam acara, kehidupan pelayanan pendeta yang menjadi gembala GKI Anugerah sejak 1992 ini, dinilai telah menumbuhkan warisan spiritual yang signifikan bagi gereja.

Di usia pelayanan kependetaan selama 29 tahun itu, Pdt. Henry telah mengemban berbagai tanggung jawab dan melampaui apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang pendeta. Bagi pendeta lulusan SAAT Malang dan Trinity International University ini, saat seseorang telah melayani dengan sepenuh hati, maka usia, jabatan struktural atau kondisi apapun tidak akan membatasi kesungguhan. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA