Hospitalitas

Kata hospitality, bermakna penerimaan serta penghiburan yang ramah dan murah hati kepada tamu, pengunjung atau orang asing. Dalam bahasa sehari-hari, hospitality biasa diterjemahkan menjadi “keramah-tamahan.”

Bagi kita, istilah tersebut mungkin lebih akrab dikaitkan dengan dunia “sekuler”, khususnya industri hiburan dan turisme seperti hotel, penginapan atau industri-industri berbasis jasa. Tentang bagaimana menyambut para pelanggan dengan ramah, agar mereka betah dan puas, sehingga akhirnya menjadi pelanggan tetap dan pada akhirnya menguntungkan bagi si penyelenggara jasa.

Sangat menarik kalau kita mempelajari asal kata (etimologi) dari kata hospitality. Hospitality berasal dari kata bahasa Latin hospitalitas, dari akar kata hospes, yang uniknya bisa bermakna baik “tuan rumah” maupun “orang asing.” Bahkan kata hospes merupakan bentuk lain dari kata hostis, yang juga berarti “musuh” (dari sini kita menemukan kata bahasa inggris hostility, “permusuhan”).

Dari kata hospes ini kita menemukan kata hospital yang bermakna “ruang tamu”, “penginapan”, yang tentunya mensyaratkan keramah-tamahan dan sambutan hangat. Dari sini kita mengenal berbagai kata yang menunjuk tempat penginapan, misalkan hospice (penginapan bagi para peziarah pada masa perang salib, dikelola oleh Orde biarawan-ksatria, knight hospitaler), atau juga kata hostel.

Sayangnya, kata hospital dalam bahasa Indonesia justru diterjemahkan menjadi “rumah sakit,” yang maknanya menjadi sangat berbeda. Padahal, kalau bisa disimpulkan, hospitality mau menunjukkan satu sikap ramah dan murah hati dari seorang tuan rumah, baik kepada seseorang yang berkunjung, sekalipun seorang asing atau bahkan seorang lawan.

Dalam Alkitab, hospitalitas juga menjadi sebuah tema yang sangat penting. Dalam budaya Israel (dan Timur Tengah pada umumnya) merupakan kewajiban mulia, bahkan utama, untuk menyambut seorang tamu dengan penuh hormat dan kehangatan.

Kita ingat, misalnya Abraham, yang ketika melihat tiga orang asing berdiri di depannya, dengan tergesa-gesa “berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka lalu sujudlah ia sampai ke tanah…” Lalu “… mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya.” (Kejadian 2:1-8). Atau secara agak ekstrem, Lot yang bahkan rela memberikan anak-anak perempuannya sebagai ganti para tamunya yang hendak digagahi oleh orang-orang dari Kota Sodom (Kejadian 19:1-9). Hal yang tidak masuk akal kita sekarang, tapi hanya bisa dimengerti dalam kerangka pemahaman hospitality masyarakat Timur Tengah.

Namun dalam pemahaman iman Kristiani, tema hospitalitas menjadi lebih penting lagi, karena bukan hanya sekadar kewajiban kultural saja, melainkan sebuah konsekuensi iman. Bahwa sebagai orang percaya kita wajib menyambut siapa saja, bahkan orang asing. Semata-mata karena kita sendiri – yang adalah manusia berdosa – sudah disambut oleh Allah lewat kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus (Roma 5:8).

Hospitalitas adalah cara orang-orang Kristen menyatakan hospitalitas Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, dalam Gereja, hospitalitas bukanlah sekadar sebuah program, kegiatan, apalagi kalau hanya sekadar bertujuan beramahtamah dengan pengunjung kebaktian dengan tujuan agar kelak ia mau menjadi anggota gereja, seperti yang berlaku dalam industri jasa.

Sebagaimana dikatakan oleh Diana Butler-Bass, seorang teolog Kristen: “Hospitalitas bukanlah sebuah program, atau satu jam khusus dalam hidup pelayanan jemaat. Hospitalitas adalah jantung dari cara hidup Kristiani, simbol yang hidup dari keutuhan dalam Allah.

Sebagai bagian tema dan juga cita-cita bersama untuk menjadi “Rumah Kedua” (Second Home), maka kita juga akan bersama-sama membangun dan menjadikan hospitalitas sebagai jantung dari hidup pelayanan kita. Untuk itu, ada banyak hal yang harus bersama kita pelajari dan lakukan sebagai satu komunitas, satu keluarga besar. Juga akan dilakukan beberapa hal yang dirasa penting untuk menciptakan atmosfer yang mendukung dan membangun hospitalitas, khususnya dalam pertemuan-pertemuan kita, baik dalam ibadah minggu maupun kegiatan-kegiatan lain.

Mari bersama kita saling menyambut, bersama-sama kita juga menyambut siapapun yang Tuhan hadirkan dalam hidup persekutuan kita, sebagaimana Kristus sudah menyambut kita dalam kasih-Nya.

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Gading Indah

Ilustrasi: Ikon Andrey Rublev

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA