Menghayati Hari Anak dan PPK Tabitha

Setiap tanggal 23 Juli negara kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Dalam pelaksanaannya, berbagai acara peringatan akan diadakan selama bulan Juli, HAN akan menjadi momentum untuk apa yang disebut sebagai bulan Anak. Biasanya kemeriahaan bulan Anak tersebut akan sangat terlihat pada akhir pekan yang terdekat dengan HAN, seperti pada tahun ini, banyak lembaga dan komunitas yang merayakan HAN pada Minggu (22/7) lalu.

Dalam momen peringatan bulan anak dan HAN tersebut kita menyadari bahwa di sekitar kita, cukup banyak anak yang mengalami kesukaran lewat sakit-penyakit yang mereka idap atau mungkin tidak teraksesnya pendidikan. Kesukaran ini pun semakin besar tatkala mereka berasal dari keluarga dengan tingkat penghasilan yang rendah serta kurang punya daya untuk mengakses layanan kesehatan atau pendidikan yang mereka butuhkan. Cita-cita agar anak Indonesia menjadi Anak GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul, Sehat), sebagaimana ditemakan dalam HAN tahun ini, masih merupakan pekerjaan rumah besar buat pemerintah dan masyarakat kita.

Gereja sebagai bagian dari masyarakat, tentu dapat berperan dalam membantu agar layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai dapat juga diperoleh oleh mereka yang kekurangan, secara khusus bagi anak-anak yang merupakan masa depan masyarakat kita.

Penggalangan dana, baik yang sifatnya karitatif maupun yang rutin adalah cara paling lazim. Di lingkup GKI, momen HAN tahun ini dipakai oleh sejumlah jemaat untuk mengkhususkan persembahan bagi yang membutuhkan dana kesehatan atau beasiswa.

Demikian pula beberapa jemaat juga bergerak lebih jauh agar layanan kesehatan dan pendidikan yang rutin bagi anak-anak ini dapat terakses. Tentu lebih berat dan membutuhkan konsistensi. Disini peran gereja dituntut tidak sekedar memberi dari jauh namun hadir dan tinggal bersama yang dilayaninya.

Selain hari anak nasional, tanggal 23 Juli juga sebenarnya punya makna peringatan tersendiri di lingkup GKI Sinode Wilayah Jawa Barat. Di tanggal ini, 50 tahun lalu, Perkumpulan Penghiburan Kedukaan (PPK) Tabitha resmi dibentuk sebagai badan pelayanan di GKI SW Jawa Barat. Mengusung moto Sobat di Kala Duka, serta nama tokoh Perjanjian Baru yang terkenal suka menolong sesama, PPK Tabitha telah berupaya sekian lama hadir untuk melayani pelayanan kedukaan bagi mereka yang membutuhkan.

Dua peringatan ini sebenarnya sangat indah untuk direfleksikan. Mengetukkan panggilan lembut di hati kita untuk saat ini hadir bagi sesama dan bagi masa depan. Baik dalam konteks masa depan yang terlihat, yaitu bagi anak-anak, maupun dalam konteks yang kita harapkan, yaitu harapan kita akan kekekalan saat kita menemani rekan-rekan yang telah ditinggalkan kerabat mereka. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA