Menyembuhkan Bumi

Mengenang tahun 80-an, Bandung setiap pagi sering berselimut kabut dingin. Kini, 30 tahun berlalu, rumah, kantor, gereja dan berbagai tempat tak lagi nyaman tanpa penyejuk ruangan.

Kurang dari 2 generasi, Bandung mengalami perubahan suhu tertinggi maupun terendah sebesar 2 derajat celcius. Kenaikan yang sangat signifikan! Kini hujanpun menjadi penebar ketakutan baru bagi banyak warga yang pernah kebanjiran.

Belakangan ini kita semakin sering mengalami cuaca ekstrim dengan dampak kerusakan yang semakin besar dan luas pula. Banjir Jakarta yang terjadi berulang di awal tahun diperkirakan menimbulkan kerugian 20 T, cukup untuk menafkahi 3 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan selama 1 tahun!

Analisis sebuah konsultan global menunjukkan kaitan pola perubahan iklim dengan membubungnya harga komoditas selama 6 tahun terakhir. Badai ganas, banjir besar, dan kemarau panjang telah memutus rantai pasokan barang keperluan publik dan dunia usaha.

Dampak yang tak begitu kelihatan berlangsung dalam kepunahan spesies. Era 1850-1950, satu spesies punah per tahun. Memasuki tahun 1989 meningkat tajam menjadi 1 per hari, dan tahun 2000 meroket menjadi 1 per jam.

Dalam 50 tahun, 25% spesies akan punah karena pemanasan global! Tak terbayangkan apa yang terjadi pada kehidupan jika prediksi ini menjadi kenyataan.

Bumi yang diciptakan Allah dengan sungguh amat baik memang sedang sakit, sakit keras, kronis, dan terus memburuk. Keberlanjutan ciptaan dan kehidupan terancam.

Eksploitasi dan Pengabaian
Kerusakan ekologi utamanya terjadi karena eksploitasi sumber daya alam. Meski sering dibungkus dengan tujuan pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, penghisapan dan pemerkosaan bumi menempatkan banyak orang terutama yang miskin dan penduduk negara berkembang dalam resiko besar.

Sementara, segelintir orang, perusahaan, dan negara yang menikmati keuntungan paling besar, semakin bernafsu untuk menambah kekayaan dan harta miliknya dengan eksploitasi tanpa batas.

Saat yang sama, kebanyakan kita tidak merasa cukup penting untuk bersikap dan bertindak memelihara bumi. Tak jarang kita turut merusaknya karena mengira dampak dari tindakan kita tidak cukup berarti.

Tanpa sadar, pola pikir kita juga dikendalikan oleh sistem ekonomi yang kalau kita dalami ternyata tidak sesuai dengan nilai dan keyakinan kita.

Keserakahan, materialisme, dan egosentrisme mendominasi pilihan dan keputusan kita sampai kita tidak memperhatikan dan mempedulikan dampaknya bagi bumi.

Respon Gereja
Kerusakan alam dan lingkungan terjadi berbarengan dengan ketidakadilan ekonomi dan keduanya diyakini saling terpaut. Atas isu global ini, selama 30 tahun terakhir gereja-gereja sedunia mengadakan pertemuan konsultasi, berefleksi bersama mencari kehendak Tuhan bagi seluruh ciptaan-Nya dan mendengarkan panggilan-Nya bagi gereja.

Melalui pertemuan-pertemuan yang disebut Kairos (the moment of truth), gereja mendalami isu ketidakadilan ekonomi dan kerusakan ekologi.

Di antara tonggak penting yang dicapai adalah definisi proses Alternative Globalization Addressing People and Earth (AGAPE). Proses ini menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita menjalani kehidupan beriman dalam konteks globalisasi?”

Ada pula program yang berfokus pada penghapusan kemiskinan, menentang akumulasi kekayaan dan menjaga keutuhan ekologis berlandaskan pada pemahaman bahwa kemiskinan, kekayaan dan ekologi (poverty, wealth, and ecology – PWE) berkelindan secara utuh.

Kemudian komitmen iman berupa rumusan Konfesi Accra sebagai respon terhadap empire dan kapitalisme. Selanjutnya badan-badan ekumenis dunia membentuk forum yang disebut dengan Oikotree.

Forum ini merupakan ruang edukasi, relasi, identifikasi, diskusi, dan saling belajar bagi mereka yang merindukan hidup beriman di tengah ketidakadilan ekonomi dan kehancuran ekologi. Secara ringkas, gereja menjalankan proses penyadaran – pendidikan, pengakuan iman, dan mengambil tindakan.

GKI membersamakan pemikiran dan langkahnya dalam menghadapi ancaman bagi kehidupan dengan memfokuskan agenda persidangan majelis di aras sinode, sinode wilayah, dan klasis pada gagasan AGAPE-PWE dan Oikotree.

Selain itu, perhatian pada lingkungan juga ditegaskan pada Konfesi GKI yang konsepnya mulai diperkenalkan kepada jemaat.

Konfesi yang melengkapi Pengakuan Iman yang selama ini kita kenal, memberi penegasan pada keyakinan bahwa Allah mengasihi seluruh ciptaan dan mengundang kita umat-Nya mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan baik bagi seluruh ciptaan.

Karenanya, selain kepada sesama manusia kesaksian kita juga harus mencakup kepada bumi. Saatnya kita memandang pertiwi sebagai sesama yang harus dihargai dan dipelihara.

Komunitas Transformatif
Sebagai gereja, kita diingatkan untuk mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah ekologi di lingkungan sekitar. Kita harus mendengar ratapan bumi dan menyikapinya dengan serius. Saatnya bagi kita mengembangkan sikap kritis kepada diri sendiri, penguasa, dan pemodal yang membiarkan, mengeksploitasi, dan menghisap alam ini.

Sebaliknya, kita perlu menyatakan keberpihakan kepada bumi yang sedang sakit. Integritas iman kita dipertaruhkan jika kita diam saja dan tak bertindak.

Sebagai komitmen awal, GKI telah menelurkan kebijakan dan panduan praktis terkait lingkungan dalam kehidupan bergereja. Kita sepakat untuk mereduksi penggunaan kertas, plastik, daya listrik melalui pertukaran data secara elektronik, penggunaan gelas menggantikan air dalam kemasan, serta penggunaan lampu hemat daya.

Inisiatif ini diharapkan menjadi bagian dari keseharian kita semua. Kita terpanggil untuk terus mencari alternatif atas kebijakan dan kebiasaan yang membebani dan menambah derita bumi.

Mengingat kompleksnya masalah lingkungan yang ada, negara terbesar pun tak mampu mengatasinya sendirian. Untuk itu, kita perlu membangun kolaborasi lintas iman, bangsa, budaya, dengan LSM, bersama pemerintah, serta bergandengan tangan dengan semua komunitas, perusahaan, dan lembaga yang berjuang untuk pemulihan bumi.

Bersama mereka kita mencari jalan keluar berupa praktik yang mengurangi beban bahkan memulihkan bumi. Bukan mustahil, bersama tetangga, kolega, atau sahabat, kita memikirkan dan mencoba ide penghematan seperti transportasi bersama, penggunaan alat rumah tangga bersama, serta berbagi buku dan alat olahraga.

Mari nyatakan kasih pemulihan Allah dengan membarui sikap dan perilaku keseharian kita kepada bumi yang dicintai-Nya.

Penulis: Jeffrey Samosir

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA