Merawat Kebangsaan Sebagai Sebuah Gerakan Bersama (1)

Merawat Kebangsaan Sebagai Sebuah Jalan Senyap (?)
Setelah melayani Kebaktian Umum I di salah satu Jemaat GKI pada Minggu 13 Mei 2018, saya membuka HP dan membaca salah satu pesan Whatsapp dari seorang sahabat, yang akrab saya panggil Kang Jufri.

Isi pesannya : “Selamat Hari Minggu Pak Pendeta, atas nama umat Islam, saya mohon maaf atas apa yang terjadi di Surabaya pagi ini, tolong sampaikan kepada umat pak pendeta, bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘Alamiin, agama yang penuh rahmat dan damai. Para pelaku teror di Surabaya ini bukanlah umat Islam yang sesungguhnya. Mari kita segera buat literasi, aksi damai, dll. untuk menyikapi apa yang terjadi pagi ini.” Demikianlah isi pesan dari Kang Jufri atau Gus Jufri atau Muhammad Jufri, Ketua GP Ansor Kota Bekasi.

Dari pesan tersebutlah baru saya mencari tahu, bahwa ternyata di pagi itu terjadi teror bom di Surabaya, yang berlokasi di tiga gereja, yakni di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jl. Ngagel, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jl. Arjuno, dan GKI Jl. Diponegoro. Setelah beritanya semakin viral, muncullah beragam respons dari masyarakat, mulai dari yang mendoakan, mengutuk, sekadar berbagi video dan gambar kejadian di sosial media, atau bahkan mengatakan itu adalah pengalihan isu.

Terlepas dari beragam respons yang muncul, namun tindakan terorisme ini telah menjadi masalah kebangsaan. Masalah kita bersama. Bukan hanya menjadi masalah ketiga gereja yang menjadi lokasi pengeboman, atau masalah ketiga sinode tersebut. Bukan hanya masalah NU atau Muhammadiyah, dua organisasi Islam yang kerap terdepan menyikapi isu kebangsaan. Bukan hanya masalah TNI/Polri. Bukan hanya masalah Surabaya, tapi masalah Indonesia!

Dalam kondisi ini, maka Gereja perlu memeriksa diri: Apakah berbagai upaya merawat kebangsaan di Indonesia pada saat ini sudah menjadi pergumulan, panggilan, dan gerakan kita bersama sebagai sebuah Gereja? Atau masih menjadi sebuah jalan senyap dan perjuangan yang bersifat insidental dan individual?

Insidental, karena perjuangan merawat kebangsaan, baru bergelora ketika eksistensi gereja kita diganggu oleh pihak lain? Sedangkan jika gereja lain, agama lain, atau kelompok lain yang eksistensinya diganggu seolah bukan menjadi “urusanku”? Individual, karena merawat kebangsaan hanya menjadi urusan mereka anggota Jemaat yang gemar soal politik dan kebangsaan, sedangkan bagi mereka yang tidak terlalu tertarik akan wacana merawat kebangsaan, bicara soal politik dan kebangsaan dinilai memusingkan dan tidak mempunyai masa depan.

Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak tanggal 27 Juni 2018 lalu pun masih muncul kalimat yang mengatakan : “Gereja ‘gak usah macam-macam bicara soal politik dan kebangsaan, nanti membangunkan macan tidur. Selama kita bisa beribadah dengan tenang, ya nikmati saja.

Entah siapa yang dimaksud oleh yang bersangkutan sebagai macan yang sedang tidur tersebut, sehingga membuatnya paranoid kalau-kalau macan tersebut bangun.

Ada juga yang mengatakan: “Ya nikmati saja Libur Nasional Pilkada Serentaknya, pemilunya ‘gak usah ikut. Toh siapapun pemimpinnya sama saja.” Sebuah sikap apatis yang sungguh miris, bukan?

Jika kita bersikap demikian, tentu ini dapat menjadi sebuah paradoks. Ketika di satu sisi, kita (baca: umat Kristen) ingin mendapat keadilan di negeri ini, dan mengklaim bahwa umat Kristen bukanlah “penumpang gelap” di negeri Indonesia, dengan menyatakan bahwa semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum (equality before the law), namun di sisi lain kita bersikap pragmatis dan apatis.

Karenanya, kita sebagai Gereja perlu menyadari untuk keluar dari kenyamanan “singgasana dan istana” Kristiani kita. Atau meminjam istilah Immanuel Kant, bahwa kita perlu “terbagun dari tidur dogmatis”, yakni kini dengan bersikap kritis dalam merawat kebangsaan, dan menjadikan isu kebangsaan bukan sebuah jalan senyap, melainkan sebuah gerakan bersama.

(bersambung)

Penulis: Pdt. Alexander H. Urbinas (Wakil Ketua BP Gerakan Kebangsaan Indonesia)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA