Merawat Kebangsaan Sebagai Sebuah Gerakan Bersama (2)

(Lihat Bagian 1)

Pemulihan atas Trauma Polarisasi di Tengah Perebutan Kekuasaan
Salah satu penyebab apatisme warga negara atau warga gereja terhadap politik di Indonesia disebabkan oleh polarisasi atas politik identitas – misalnya agama – yang ternyata masih menjadi barang laku sebagai dagangan politik. Kasus Pilgub DKI 2017, intimidasi dalam kegiatan Car Free Day karena perbedaan pilihan politik yang terpampang di kaos, tindakan-tindakan persekusi, berita hoax di sosial media, membuat sebagian warga trauma, dan memilih untuk tidak kritis dan terbuka terhadap logika politiknya.

Padahal seperti yang dikatakan oleh Niccolo Machiavelli, seorang filsuf yang dikenal menggagas pemikirannya dalam ilmu politik dan filsafat politik, bahwa negara janganlah sampai dikuasai oleh agama. Bagi Machiavelli, agama bukan menjadi tidak penting, melainkan agama dapat mendukung patriotisme dan memperkuat pranata-pranata kebudayaan, namun bukan sebagai kendaraan kepentingan politik yang dapat menyebabkan perpecahan dan perselisihan.

Label haram-halal, kafir-non kafir, yang disematkan dalam konstelasi politik di Indonesia, bahkan di level akar rumput, membuat masyarakat terkotak-kotak dan terpecah-pecah. Bagi mereka yang jengah atas polarisasi akut ini dan ingin menikmati kenyamanan akhirnya menyebrang berbondong-bondong, terhisab ke dalam sebuah kelompok yang disebut silent majority. Padahal tentu kita menyadari, bahwa politik identitas atas nama agama adalah strategi politik dari para perebut kekuasaan, serta menjadi rombongan besar silent majority bukanlah pilihan yang tepat bagi kita.

Menurut teolog John Stott, pada akhirnya hanya dua pilihan bagi orang Kristen dalam menentukan sikap terhadap dunia – dalam tulisan ini terhadap isu kebangsaan. Pertama, ialah pelarian, dan yang kedua adalah komitmen atau keikutsertaan. Pelarian berarti menyatakan sikap menolak pergumulan dunia, dengan cara berpaling daripadanya, membelakanginya, cuci tangan, bahkan tidak mau tahu. Sebaliknya komitmen dan keikutsertaan berarti dalam keprihatinan kita atas pergumulan dunia, kita menghadapkan wajah kita kepada dunia, membiarkan tangan kita kotor, lecet dalam pelayanan terhadap dunia akibat merasakan dalam lubuk hati kita gejolak kasih Allah yang tak dapat dipendam.

Memiliki komitmen dan keikutsertaan dalam merawat kebangsaan di Indonesia dengan tidak menjadi silent majority, pada akhirnya adalah sebuah pilihan yang riil bagi kita umat GKI, karena itu adalah panggilan kita sebagai umat Allah. Karena juga dalam membangun peradaban yang baik, tidak bisa dilakukan oleh sekelompok orang atau golongan saja. Melainkan seluruh komponen harus maju bergerak seirama dalam gerakan bersama.

Tuhan Mencipta Bangsa Indonesia, Warga Turut Merawatnya
Kita sungguh mengimani, bahwa Allah kita adalah Allah yang baik, yang membenarkan orang-orang berdosa, Juruselamat bagi orang berdosa, “Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Keluaran 34:6). Tetapi juga Ia adalah Allah yang menghendaki keadilan di tengah bermasyarakat.

Dalam Yeremia 29:7 dikatakan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada ALLAH, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Artinya sebagai umat Allah, kita memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan tempat di mana kita ada, sekalipun kita tidak nyaman di dalamnya, tanggung jawab dan panggilan Allah bagi kita untuk berpartisipasi menghadirkan damai sejahtera tidak dapat diabaikan.

Lahirnya Badan Pelayanan Gerakan Kebangsaan Indonesia di GKI SW Jabar pada Juni 2017, menjadi alat dan wadah GKI bahwa sebagai sebuah gereja, GKI ingin terlibat secara lebih aktif dalam sebuah gerakan untuk merawat kebangsaan.

Walaupun ada yang mengatakan: “Kami sudah ‘kok sejak dulu terlibat merawat kebangsaan, minimal di kelurahan, kecamatan atau kota dimana kami ada,” namun akhirnya perjuangan dalam merawat kebangsaan ini, menjadi perjuangan per-kelompok atau per-jemaat, belum menjadi gerakan atas nama yang sama. Atau bahkan menjadi perjuangan beberapa nama pendeta atau penatua atau anggota jemaat tertentu, yang bisa saja tidak mengatasnamakan Jemaat atau Sinode GKI. Akhirnya urusan merawat kebangsaan menjadi urusan personal dan bisa kembali menjadi jalan senyap.

Agar urusan merawat kebangsaan ini, menjadi sebuah gerakan bersama, mari kita persiapkan dan mulai di dalam kehidupan Jemaat kita. Mari kita buat program-program yang bertemakan kebangsaan di dalam program kerja jemaat. Mari kita latih dan dorong umat di Jemaat kita, untuk menyampaikan literasi-literasi kebangsaan di dalam media. Baik lewat status di sosial media, kutipan, artikel, atau bahkan renungan warta. Mari kita buka percakapan-percakapan yang membahas masalah sosial, politik, ekonomi di negeri kita, selepas kita mengikuti kebaktian atau persekutuan. Mari kita masukan kalimat dan pesan kebangsaan di dalam liturgi ibadah, bahkan di dalam khotbah.

Mari kita libatkan partisipasi warga gereja, pada khsususnya pemuda di gereja kita untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan kebangsaan. Sementara pemuda-pemuda NU dan Muhammadiyah misalkan, terus melahirkan pemimpin-pemimpin muda, yang fasih dan cakap berbicara di depan umum dalam menyampaikan sikap dan pemikiran tentang Islam Kebangsaan dan NKRI, kita masih terbuai dengan romantisme Eka Darmaputera, Nathan Setiabudi, atau kini Albertus Patty.

Mari kita merawat kebangsaan di Indonesia, tanah dan negeri yang diberikan Tuhan kepada kita. NKRI Harga Mati! Salam Kebangsaan!

Penulis: Pdt. Alexander H. Urbinas (Wakil Ketua BP Gerakan Kebangsaan Indonesia)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA