Pembinaan Pelayan GKI Kuningan

Di tengah riuhnya senam pagi, Pdt. Pramudya Hidayat malah maju ke depan. Tapi ia bukan menyampaikan sesuatu untuk jemaat yang sedang asyik berolah raga, namun untuk direkam dalam video Sapa Jemaat yang merupakan rubrik Multimedia GKI Kuningan. Dengan gaya santai, namun belum terlalu mirip vlogger masa kini, ia mengabarkan soal acara Pembinaan Pelayan dan Aktivis GKI Kuningan.

Kita perlu belajar untuk luwes, namun keluwesan itu perlu dibarengi dengan makna, alasan, motivasi dan pengajaran yang benar. Untuk itulah kita belajar bersama dalam pembinaan pelayan kali ini. Untuk mengisi dan memberi dasar pada pelayan-pelayan Tuhan di jemaat,” jelas Pdt. Pramudya terkait acara pembinaan itu.

Dari Kamis Hingga Jumat minggu lalu (12-13/7) para pelayan dan aktivis GKI Kuningan mengikuti pembinaan yang berlangsung di Wisma Hening Griya, Batu Raden, Jawa Tengah. Sekitar 70-an peserta, warga jemaat dari yang remaja, pemuda hingga usia dewasa, berangkat bersama dari GKI Kuningan sejak pagi hari Kamis. Mereka menempuh sekitar 5 jam perjalanan hingga sampai pada tengah hari di lokasi acara.

Momen ini pembinaan kali ini memang cukup banyak diisi pembelajaran dalam kebersamaan. Seperti di hari kedua, dimana para peserta belajar lewat sejumlah permainan out-bond untuk membangun tim dan kerjasama. Namun, dari sisi konseptual, di hari pertama, para peserta juga belajar tentang hakikat dan prinsip-prinsip penatalayanan di gereja.

 

Pdt. Theofanny Sutanto dari GKI Gatot Subroto, Purwokerto mengisi dua sesi pembinaan di hari pertama. Pdt. Theofanny berbagi soal model-model yang ada dalam kehidupan berjemaat, serta menegaskan sejumlah prinsip yang dianut GKI selama ini dalam mengerjakan pelayanan gerejawi. Tidak hanya membagikan secara monolog, kedua sesi juga diisi dengan berbagi pengalaman antar tiap pelayan serta seberapa relevan konsep-konsep itu dipraktikkan selama ini.

Diskusi ini berlangsugn seru, sejumlah perbedaan pendapat disampaikan, namun diselingi canda-tawa keakraban. Para peserta mengaku mendapat inspirasi dan disegarkan kembali soal hakikat pelayanan dan didorong untuk mengevaluasi yang mereka kerjakan selama ini.

Ini merupakan ciri GKI yang mengakomodasi keunikan dan perbedaan menjadi sinergi,” komentar Pdt. Pramudya. “Mudah-mudahan GKI Kuningan bisa terus menghasilkan pelayan yang berjiwa demikian serta mampu terus belajar berkoordinasi dan bekerja sama,” harapnya. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA