Pengharapan yang Terpenuhkan

Seorang dokter di Schranton, Pennsylvania, mengalami kesulitan ketika menolong seorang perempuan yang akan melahirkan bayinya. Sang dokter memberitahu suami perempuan itu tentang kondisi istrinya dan meminta persetujuan suami itu untuk tindakan medis. Dokter lalu berupaya mengeluarkan bayi dari rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga sementara sang suami berdoa untuk keselamatan istri dan bayi yang akan dilahirkan.

Dengan alat khusus, dokter itu berusaha mengeluarkan kepala bayi terlebih dahulu, namun tiba-tiba darah segar muncrat, disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar menggelantung, baru kemudian kepala bayi. Sang dokter berusaha keras mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu, namun terdengar bunyi gemeretak tulang rawan yang patah karena proses tersebut. Akhirnya tubuh bayi yang lebih menyerupai seonggok daging utuh keluar.

Awalnya dokter itu memerintahkan perawat membersihkan tubuh bayi untuk segera dimasukkan kantong mayat. Namun herannya, ketika dibersihkan, perawat melihat ada denyut jantung bayi yang lemah. Bayi itu langsung dikirim ke ruang khusus dan hidupnya berhasil diselamatkan. Ia tumbuh menjadi seorang anak dengan bentuk tubuh tidak biasa. Ia diberi nama William Cutts.

Ketika anak-anak lain seusianya sudah bisa berjalan, William baru belajar merangkak, kepala bagian kanan agak besar, mata kanan rusak berat, sehingga tidak bisa melihat. Tetapi orang tuanya melihat harapan dan membesarkannya dengan penuh kasih. “Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada,” demikian doa orangtuanya.

Masyarakat Moni, Papua kini mengenang William Cutts sebagai misionaris yang melakukan penginjilan ke wilayah mereka sejak 1948. Meskipun banyak mengalami kelemahan fisik (William sering menyebut diri sebagai weak thing in Moniland, yang lemah di tanah Moni), banyak orang Moni yang percaya dan diberkati melalui pelayanan yang ia kerjakan bersama istrinya Gracie. Salah satu ayat yang begitu dipegang William adalah panggilannya, adalah nats yang berbunyi “Justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna,” (2 Korintus 12:9).

Pengharapan seperti orang tua William lah yang juga digemakan oleh nabi Yeremia. Yeremia dikenal juga sebagai “nabi yang meratap.” Ia bukan menangisi diri sendiri tetapi yang terutama adalah menangisi bangsanya. Nabi Yeremia menjadi saksi kengerian yang luar biasa ketika orang-orang Babel melakukan penyerangan ke Yerusalem pada tahun 586 SM. Bait Suci yang dibangun oleh Salomo dan telah berdiri selama ratusan tahun, dijarah dan dihancurkan. Para warganya diangkut ke pembuangan di tanah Babel sementara hanya sedikit penduduk yang ditinggalkan di Yerusalem, mereka mengalami kelaparan dan kesulitan hidup karenanya.

Sementara merenungkan penderitaannya yang menyedihkan, sang nabi menyadari betapa itu semua telah merendahkan jiwanya. Dia tahu bahwa Allah mempedulikan orang-orang yang rendah dan tertindas, sehingga dia menyatakan harapannya dalam Ratapan 3:22-39 menceritakan tentang kebaikan TUHAN dan kepasrahannya pada jalan-jalan keagungan TUHAN; ia menulis, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu,” (Ratapan 3:22- 23).

Pengharapan Yeremia berasal dari pengalaman pribadinya saat merasakan kasih setia Tuhan dalam perjalanan hidupnya, dan dari pengalamannya akan janji-janji Allah di masa lalu, “TUHAN itu baik bagi orang yang berharap kepada-Nya; bagi jiwa yang mencari Dia.” (ayat 25). Kiranya kepenuhan pengharapan yang sama ada selalu di hati kita.

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Kota Wisata

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA