Piala Dunia dan Pesan Tidak Lelap

“Que Dios iba ayudar, que no iba a salir,Allah bersama kami dan tidak akan membiarkan kami keluar…” Itulah pernyataan Lionel Messi setelah pertandingan sepak bola Piala Dunia 2018 antara Argentina melawan Nigeria. Pertandingan itu berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Argentina. Seperti diceritakan oleh The Guardian, Messi pemain kawakan Argentina ini tampak sangat yakin bahwa Argentina akan berhasil merebut piala pertama FIFA World Cup 2018 di Rusia.

Apakah keyakinan Lionel Messi itu akan benar-benar jadi kenyataan? Pertandingan Sabtu (30/6) kemarin, di Kazan Arena Rusia, menjawab pertanyaan itu. Ternyata Perancis menghempaskan mimpi pemain berjuluk La Pulga ini.

Bagi saya, pertanyaan agak nakal yang dapat diajukan kepada Messi adalah: “Apakah pernyataan imannya, bahwa ‘Allah bersama kami dan tidak akan meninggalkan kami,’ masih dapat disampaikannya ketika tim Argentina mengalami kekalahan dan harus pulang kampung?

Saya tidak mau berspekulasi tentang ini. Pasalnya, bukankah memang banyak orang seringkali mampu menyatakan imannya, bahwa “Allah itu baik dan selalu beserta dengan aku; Dia tidak pernah meninggalkan aku,” setelah mereka mengalami peristiwa baik sesuai dengan harapan mereka sendiri? Apa yang orang akan ekspresikan ketika ia mengalami peristiwa buruk yang membuatnya sakit atau susah? Apakah ia masih mampu memuji dan memuliakan Allah? Apakah ia menyayikan syukur bagi Allah atas segala peristiwa?

Saya berpandangan, yang namanya iman kepada Allah itu semestinya merupakan hal yang tetap. Itu tidak berarti bahwa saya menutup mata terhadap adanya dinamika iman pada diri seseorang. Dinamika iman menunjukkan bahwa iman itu hidup. Iman itu bertumbuh seperti benih di tanah. Ia mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi (Markus 4:26-27).

Sekalipun sangat kecil seperti biji sesawi, jika benih itu tetap di dalam tanah dan hidup, maka ia akan “…tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya” (Markus 4:32). Iman seharusnya merupakan sebuah kemantapan hati yang aku nyatakan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan; kemantapan hati bahwa aku hidup di dunia ini dengan tetap berjuang mengarahkan hati kepada Allah sehingga aku, dari sehari ke sehari, mampu meneruskan berkat rahmat-Nya bagi sesama manusia dan segala ciptaan-Nya.

Yang seharusnya tetap itu adalah iman kepada Allah dan puji syukur kepada-Nya. Yang tidak tetap adalah peristiwa demi peristiwa dalam hidup ini. Kekalahan tragis Jerman pada babak penyishan grup Piala Dunia ini merupakan salah satu contoh nyata. Tim Jerman biasanya tampil hebat di lapangan kelas dunia. Namun, kehebatannya itu tidak tetap! Tragis, tim nasional Jerman dikalahkan Korea Selatan 2-0. Mantan juara pertama Piala Dunia 2014 itu pulang kampung bukan dengan tersanjung, tapi tersandung.

Peristiwa dalam hidup ini tidaklah tetap, karena itu seharusnya kita tidak lelap. Tetaplah bangun! “Talita kum,” kata Yesus (Markus 5:41). Kita perlu senantiasa memelihara iman dan keyakinan pada Allah, sembari mengalami banyak hal yang tidak tetap di dunia ini.

Penulis: Pdt. Hendri M. Sendjaja (GKI Samanhudi)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA