Ronaldo dan Messi Pulang

Aksi dua pesepakbola tenar dunia, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, tidak akan dijumpai lagi dalam Piala Dunia 2018 setelah Argentina dan Portugal tersingkir. Betapa pilu bagi pencinta sepak bola kelas dunia melihat kedua negara jagoan mereka harus pulang. Dua orang pemain handal yang memiliki segudang prestasi, rupa-rupanya tidak menjamin negaranya untuk memenangkan kejuaraan bergengsi tersebut. Padahal mereka dikategorikan sebagai pemain terbaik dalam satu dekade terakhir ini. Mereka sukses membawa klubnya masing-masing berjaya di Eropa. Berbagai gelar individu dan klub telah mereka raih. Kira-kira apa sebabnya?

Dalam beberapa tulisan di surat kabar dan media elektronik mengenai sepakbola, rupa-rupanya banyak pengamat yang menyayangkan pola bermain tim sepakbola kedua negara ini. Mereka terlalu bergantung kepada nama besar seorang pemain. Mereka lupa kalau sepakbola bukanlah permainan tunggal, melainkan permainan tim. Berhasil tidaknya sebuah tim sepakbola bukan hanya tergantung dari satu dua pemain, melainkan bagaimana kerjasama tim sebagai suatu kesatuan. Benar bahwa ada beberapa pemain kunci yang akan sangat menentukan aliran serangan dan kekuatan pertahanan, tetapi mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa jika pemain lainnya bermain buruk.

Dari peristiwa ini, apa yang bisa kita pelajari sebagai gereja? Kita belajar bahwa gereja sedang bertanding, hampir sama seperti pertandingan sepakbola. Namun bukan pertandingan dalam bentuk fisik, melainkan pertandingan rohani. Gereja sedang bertanding untuk terus menyatakan kasih Allah di tengah dunia. Melawan kekuatan-kekuatan dunia yang sedang menjauhkan anak-anak Allah dari kasih-Nya yang besar. Terkadang gereja menang, tetapi tidak jarang akhirnya gereja kalah. Gereja akhirnya menjadi sama dengan dunia. Melupakan apa yang menjadi tugasnya, yaitu menggarami dan menerangi dunia.

Hampir sama halnya dengan dunia sepakbola, gereja tidak bisa berpangku tangan kepada orang-orang tertentu saja. Roda kehidupan gereja tidak hanya terletak di pundak para pendeta, penatua, atau aktivis saja, tetapi seluruh anggotanya. Pelayanan di gereja ini sangat banyak. Namun, masih saja banyak bidang pelayanan yang belum tergarap. Persoalannya terletak kepada jumlah pelayan yang itu-itu saja. Semangat melayani yang semula meluap-luap akhirnya menyusut karena keletihan dan kemampuan yang terbatas.

Oleh sebab itu, di dalam kesempatan ini pula saya mengajak kita semua untuk membangun gereja kita bersama-sama. Setiap orang memiliki keunggulan tetapi jika hanya perseorangan maka seperti Argentina dan Portugal, gereja tidak akan bisa maju menghadapi pertandingan berikutnya.

There is no superman but surely there is superteam.

Penulis: Pdt. Timothy Setiawan (GKI Kebonjati)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA