Agar Bonus Demografi bukan Bencana

Kita mungkin sudah berkali-kali mendengar apa yang didengung-dengungkan sebagai bonus demografi. Secara statistik, Indonesia akan mendapat anugerah bonus demografi selama rentang waktu 2020-2045, yang mencapai puncaknya pada tahun 2030.

Pada saat itu, diperkirakan jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun kebawah dan orang tua berusia 65 keatas). Bonus demografi ini tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu rasio antara kelompok usia yang tidak produktif dan yang produktif. Pada 2030 angka rasio ketergantungan diprediksi Indonesia akan mencapai angka terendah, yaitu 44%, artinya setiap 100 orang usia pekerja produktif akan menanggung 44 orang warga yang di luar usia produktif.

Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang akan mengalami bonus tersebut, Timor Leste, Filipina dan sejumlah negara berkembang lain di Asia, Afrika dan Amerika Selatan juga akan mengalami bonus yang sama.

Namun tentu saja, itu semua adalah perhitungan secara statistik. Perhitungan itu mengandaikan orang-orang di usia produktif memang bekerja, serta mendapatkan pekerjaan yang layak untuk penghidupan dan kesempatan itu merata bagi semua warga. Jika tidak, maka alih-alih suatu anugerah, bonus demografi itu justru bisa menjadi bencana. Tak heran, jika pemerintah kita pun menggenjot sekian banyak infrastruktur dengan harapan kesempatan usaha bisa kian merata di berbagai daerah.

Tapi, sekedar memeratakan dan mempersiapkan infrasturktur nampaknya belum cukup. Dunia kerja dan kesempatannya di masa-masa mendatang pun bisa jadi kian jauh melesat dalam perubahan. Berbeda dengan cara-cara industri klasik, perlahan kita mulai melihat model-model baru dalam dunia usaha, terutama sejak penetrasi digital.

Yang paling terlihat tentu saja model bisnis yang amat menekankan kekuatan modal dan sistem informasi dengan tinggal mengeksplorasi partisipasi serta sarana fisik yang sudah ada. Walhasil kita pun melihat perusahaan terbesar di industri wisata, justru tidak memiliki maskapai ataupun hotel, hanya menyediakan aplikasi dengan fasilitas yang memanjakan dari sarana fisik yang ada. Perusahaan transportasi yang justru tidak memiliki kendaraan atau pengendara, hanya bermitra dengan sekian banyak orang lewat aplikasi kendaraan online. Bentuk yang mungkin tidak terbayangkan bahkan belasan tahun lalu.

Namun, bersamaan dengan itu kita pun melihat munculnya sekian banyak kebutuhan dan peluang yang baru. Bagaimana kaum muda pengguna sosial media dan permainan, justru menarik keuntungan besar dan menjadikan itu sebagai profesi, misalnya. Juga bagaimana pergaulan bisa menjadi sangat luas dan semakin egaliter.

Di sisi lain, hal itu ternyata tidak selalu linear dengan pemikiran yang terbuka, sebab gejala menguatnya primordialisme dan fundamentalisme justru semakin menunjukkan trend. Banyak kemungkinan pertentangan yang mengarah pada konflik.

Orang menganggap disrupsi seperti ini hanya berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasinya saja. Namun, disrupsi sejatinya mengubah bukan hanya cara berbisnis, melainkan juga fundamental bisnis dan juga masyarakatnya. Mulai dari struktur biaya sampai ke budaya, dan bahkan ideologi industri, yang mau tak mau juga akan meluas mempengaruhi keseharian.

Kaitannya dengan bonus demografi, ini berarti kita bukan hanya akan menyongsong besarnya jumlah generasi usia produktif, tapi juga munculnya sekelompok generasi yang bisa jadi sama sekali berbeda dengan kita dalam hal nilai, gaya, kebutuhan, tujuan, dan banyak aspek lainnya.

Bagaimana rupa mereka dan seberapa besar mereka berhasil di masa mereka berkarya? Kita – keluarga, negara, komunitas, gereja – hanya bisa memperkirakan dan mempersiapkan. Namun apakah kita sungguh-sungguh dalam kedua hal itu? Dalam memperkirakan, berarti kita serius mengamati, memikirkan dan tanggap atas perubahan dan pergeseran yang terjadi. Dalam mempersiapkan, berarti kita dengan aktif dan berani mencoba banyak cara baru.

Untuk konteks gereja nampaknya kita memang masih ketinggalan jauh, padahal kita tengah menyatu dengan tiga pergumulan itu (bonus demografi, disrupsi teknologi dan bisnis serta pergeseran budaya). Para pelayan di gereja sebenarnya tidak bisa lagi semata-mata hanya berpikir sebagaimana pelayanan yang sudah terjadi berabad-abad lamanya. Pola pikir dan pola pelayanan harus segera berubah, jika gereja tetap ingin menjadi sandaran yang relevan.

Bonus demografi jika dikelola dengan tepat akan menjadi kesempatan yang besar bagi gereja dan bangsa. Asalkan generasi kita memang adaptif dan relevan untuk itu. Siap atau tidak siap, fenomena tersebut sedang terjadi di berbagai penjuru dunia. Bagaimana kita menyikapinya. Akankah kita dan generasi penerus kita di gereja ini menjadi orang yang berkarya atau justru menjadi mereka yang mengalami bencana? **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA