Apa itu Leksionari?

Jemaat yang telah sekian tahun bergereja di GKI akan menyadari belakangan ada sejumlah perubahan yang dilakukan terkait bacaan Alkitab di hari Minggu. Istilah leksionari, semakin sering kita dengar, atau lebih tepatnya kita dengar kembali. Sekarang, menjadi format yang lazim dipakai untuk bacaan Alkitab.

Tentu perubahan itu bukan hanya sekadar menambah atau mengurangi apalagi hanya sekadar ikut-ikutan, karena gereja lain memakai. Penggunaannya tentu punya tujuan untuk membangun iman dan membahani pembinaan secara utuh, terarah dan tematik sesuai dengan peristiwa gerejawi (perayaan liturgis gerejawi).

Leksionari berasal dari kata Latin lectionarium yang secara harfiah berarti sebuah buku atau daftar bacaan. Dalam konteks gerejawi leksionari adalah, “Suatu kumpulan daftar bacaan Alkitab yang disusun dan ditujukan untuk memproklamasikan firman Tuhan dalam kebaktian.

Ada sejumlah bentuk leksionari yang pernah digunakan, terutama dalam tradisi Gereja Katolik. Sejauh ini Gereja Kristen Indonesia (GKI) menggunakan The Revised Common Lectionary (RCL) yang disusun oleh The Consultation on Common Texts dan merupakan revisi dari The Common Lectionary yang telah dipublikasikan pada tahun 1983. Format bacaan ini lazim dipakai di berbagai denominasi Protestan dan senada dengan Ordo Lectionum Missae 1969 yang digunakan di gereja Katolik.

Penyusunan leksionari pada hakikatnya merupakan suatu upaya ekumenis dari berbagai denominasi gereja untuk mewujudkan keeesan dari gereja-gereja Tuhan yang dilandasi oleh pengalaman bersama dalam membaca Alkitab yang adalah firman Tuhan. Dengan menggunakan leksionari, gereja dari denominasi yang berbeda dapat menghayati kebersamaan dan keserasian sebagai tubuh Kristus.

Secara lebih khusus leksionari bertujuan untuk menyediakan suatu pola umum dan keseragaman dari kesaksian Alkitab yang terwujud dalam kalender gerejawi. Leksionari juga menyediakan pedoman dalam penggunaan teks Alkitab yang dibaca setiap hari Minggu bagi penyelenggara ibadah dan umat.

Lebih jauh, leksionari berperan sebagai pembimbing untuk individu dan kelompok dalam membaca dan mempelajari Alkitab serta berdoa. Hal ini bisa dilakukan dengan mencantumkan daftar bacaan Alkitab untuk minggu berikutnya dalam warta jemaat, sehingga umat dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu. Dengan menggunakan leksionari, pembacaan Alkitab dari minggu ke mingggu berkaitan dan berkesinambungan sesuai dengan kalender gerejawi.

Dengan menggunakan pembacaan leksionari, seorang pengkhotbah tidak lagi bertanya-tanya, “Apa yang harus aku khotbahkan pada hari Minggu mendatang?” Melainkan “Tuhan, pesan apakah yang hendak Engkau sampaikan kepada kami melalui pembacaan ayat-ayat Alkitab ini?” Pengkhotbah juga akan tehindar dari kecenderungan untuk hanya mengkhotbahkan perikop-perikop favoritnya.

Diharapkan lewat leksionari, terjadi keseimbangan dalam pemberitaan Firman Tuhan. Seluruh elemen liturgi yaitu nyanyian, doa, elemen visual dan dramatik dalam ibadah akan lebih berfokus pada tema, pengkhotbah juga didorong untuk menemukan prespektif teologis yang baru dalam menggali teks atau ayat-ayat Alkitab daripada yang telah biasa dikhotbahkan.

Disarikan dari: Hermeneutika Leksionari, Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA