Di Balik Lagu Ya Tuhan Tiap Jam

Awalnya mungkin ini hanyalah pengalaman sederhana. Di tengah kesibukan sebagai istri dan ibu muda, Annie Sherwood Hawks merasa kebutuhan yang sangat besar untuk beristirahat. Saat itu bulan Juni 1872, ia baru berusia 37 tahun dan terbilang kerepotan mengurus tiga orang anak dengan jarak usia yang dekat. Suaminya Charles Hial Hawks adalah seorang bankir di New York dengan kesibukan kerja yang sangat menyita waktu.

Di tengah suasana seperti itu Annie merasa ia sangat membutuhkan Tuhan untuk menemaninya, terlepas entah ia mengalami suka maupun duka dalam keseharian. Saat itulah ia mulai mengulang-ulang syair: “I need Thee every hour, most gracious Lord; No tender voice like Thine, can peace afford… (Aku memerlukan Dikau tiap jam, ya Tuhan Maha Rahmat… Tiada suara lembut seperti-Mu yang mampu memberi damai).

Syair berjudul I Need Thee Every Hour itu belakangan digubah musiknya oleh Robert Lowry pendeta di Hanson Place Baptist Church, New York, tempat keluarga Annie beribadah. Pendeta Lowry menambahkan pengulangan frasa “I need Thee…” di bagian refrain lagu itu, sebagai refleksi keberserahan diri. Lagu ini kemudian sangat populer, serta diterjemahkan ke banyak bahasa. Dalam Bahasa Indonesia kita mengenalnya sebagai kidung dengan judul Ya Tuhan Tiap Jam (Kidung Jemaat No. 457)

Sejak muda Annie memang punya bakat menulis syair. Di usia 14 tahun ia pernah menulis puisi-puisi yang dimuat di koran lokal New York. Pendeta Lowry pun mendorongnya untuk menulis sejumlah syair untuk lagu-lagu di jemaat mereka. Dari tahun 1868 Annie telah menulis syair untuk dibuatkan musiknya di gereja itu. Himne-himne dengan judul “In the Valley“, “Good Night“, “Why Weepest Thou?“, dan “Who’ll Be the Next to Follow Jesus”, adalah contoh syair yang ditulis Annie. Semua musiknya digubah oleh Robert Lowry.

Tapi, lagu Ya Tuhan Tiap Jam ini ternyata jauh lebih populer dari himne-himne ciptaan Annie lainnya. Selepas dipopulerkan dalam sejumlah KKR kaum Baptis di era penginjil legendaris Amerika, Dwight L. Moody, lagu itu banyak dipakai sebagai kidung di berbagai denominasi gereja.

Selepas kematian suaminya tahun 1888, Annie Hawks pernah merefleksikan ulang pengalamannya atas lagu itu. Ia meyakini, bahwa kata-kata dalam kidung Ya Tuhan Tiap Jam sebenarnya melampaui pengalaman personalnya.

Awalnya saya tidak terlalu paham mengapa himne ini menyentuh hati begitu banyak orang. Barulah setelah saya sendiri mengalami kesedihan mendalam setelah suami saya wafat, dan menyanyikan ulang lagu itu, saya beroleh pemahaman baru atas syair yang saya tuliskan… Saya bersyukur bisa dipakai memberkati banyak orang lewat pengalaman sederhana ini…,” ungkap Annie waktu itu. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA