Gereja: Komunitas atau Rutinitas?

Sepakbola merupakan olahraga yang digemari oleh banyak kalangan, dari anak‐ anak, remaja, orang tua, pria maupun perempuan. Banyak orang yang menyukai sepakbola dan memiliki tim yang diidolakan. Jika diamati sebagai penikmat olahraga ini, setiap tim memiliki pendukung fanatik yang selalu siap datang menyaksikan tim kesayangannya bertanding.

Fenomena ini menarik, pasalnya para pendukung tim sepakbola tidak pernah dibayar untuk menonton timnya. Sebaliknya mereka yang harus mengeluarkan dana untuk membeli tiket masuk. Tetapi, stadion sepakbola hampir tidak pernah sepi dari orang‐orang yang ingin melihat tim kesayangannya bermain.

Realita pendukung tim sepakbola membawa pada perenungan tentang komunitas yang ada di gereja. Gereja masa kini mulai tidak diminati oleh beberapa orang Kristen, mereka cenderung datang ke gereja hanya sebagai rutinitas semata. Orang Kristen seperti kehilangan makna bergereja sehingga gereja perlu memutar otak untuk membuat banyak orang kembali bergairah datang untuk bersekutu bersama.

Ini membawa kita pada pertanyaan: “Apakah kita (gereja) sebuah tempat komunitas atau rutinitas?

Injil Yohanes 6: 22‐24 mencatat kisah tentang orang banyak yang berduyun‐duyun mencari Yesus Kristus. Mereka tanpa lelah terus mengejar kemana Yesus pergi dan siap sedia untuk mendengar apa yang Ia ajarkan.

Apa yang mereka cari dari sosok Yesus? Apakah mereka hanya ingin mendapatkan sebuah mujizat yang Ia berikan? Ketika membaca kembali kisah yang ditulis oleh Injil Yohanes, orang banyak datang dan mencari Yesus bukan hanya untuk melihat mukjizat tetapi ada alasan yang mendasar.

Jika kita membaca kisah sebelumnya tentang bagaimana Yesus mengajar dan memberi makan bagi semua orang, dapat kita lihat bahwa orang banyak datang adalah untuk mendengar kebenaran dari pengajaran-Nya. Kebutuhan spiritual dari orang banyak yang mampu menggerakkan mereka untuk terus mencari Yesus.

Yesus Kristus tidak pernah memaksa mereka untuk mengikuti‐Nya dan tidak mengiming‐imingi orang banyak agar mau datang kepada‐Nya. Orang banyak tersebut datang karena mereka tahu bahwa pengajaran Tuhan dapat menjadi pegangan bagi kehidupan mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa yang menggerakkan orang banyak adalah pengajaran yang menyentuh kehidupan mereka sehingga membuat mereka dapat berkumpul dan mencari‐Nya.

Gereja masa kini semakin kehilangan maknanya, tidak sedikit orang Kristen menjadikan gereja sebagai rutinitas sehingga membuatnya tidak tergerak untuk mengikuti kegiatan yang ada. Tetapi, perenungan kita dalam Injil Yohanes menunjukkan bahwa gereja bukanlah tempat orang melakukan sebuah rutinitas. Gereja merupakan sebuah komunitas yang di dalamnya orang rindu untuk mendengar pengajaran Tuhan untuk menjadi bekal bagi kehidupannya bahkan dapat membagikannya kepada banyak orang.

Kesadaran ini yang perlu terus dilatih dalam diri orang Kristen masa kini sehingga gereja tidak perlu “memaksa” orang datang tetapi mereka datang karena kerinduannya untuk mendengar pengajaran yang diberikan. Sebagai komunitas yang membangun gereja juga terus membenahi dirinya agar pengajaran Tuhan Yesus Kristus dapat dipahami secara utuh.

Penulis: Galvin Tiara Bartianus, S.Si (Teol) – GKI Gading Indah

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA