Gereja (yang) Menghidupi Kemerdekaan

Beberapa daerah yang pernah menjadi tempat tinggal saya, masih terekam dengan baik betapa indahnya semarak menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak bulan Juli, segala persiapan sudah dilakukan dan disiarkan, baik di sekolah-sekolah dan juga perkampungan-perkampungan.

Kemeriahan lampu-lampu (yang dirangkai dari batang bambu) di setiap lorong perumahan terlihat warna-warni, setiap RT/RW membuat gapura dengan warna merah putih, kerja bakti membersihkan dan menghias kampung, lomba-lomba yang dipersiapkan menjelang tanggal 17 Agustus (makan kerupuk, tarik tambang, panjat pohon pinang, balap karung, lomba menyanyi, olahraga dan lain sebagainya); semua dilakukan dengan gegap gempita untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI tahun demi tahun.

Malam puncak seluruh rangkaian acara dilakukan bersama-sama dengan keberadaan panggung yang mengundang warga masyarakat untuk ikut serta (terutama juga pembagian hadiah dari berbagai lomba yang sudah dilakukan). Singkat cerita, seluruh rangkaian kegiatan yang dipersiapkan dan dilakukan adalah untuk memelihara (mempertahankan) arti perjuangan para pahlawan untuk merebut kemederkaan, sehingga terus melekat di dalam diri setiap warga masyarakat.

Merayakan Kemerdekaan setiap tahun yang dimaknai sebagai sebuah momen untuk menunjukkan saling peduli, saling bekerja sama, saling menopang, saling menjaga, saling mengasihi, saling melayani di tengah keragaman yang ada di Indonesia. Bukankah semua itu terlihat dari berbagai perlombaan yang terjadi?

Makna Sebuah Kemerdekaan
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dijelaskan bahwa kata “merdeka” adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa; sedangkan kata “kemerdekaan” diartikan sebagai keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi), kebebasan.

Secara sederhana dapat diartikan bahwa kemerdekaan adalah kondisi yang sudah bebas dari perhambaan atau penjajahan dan memiliki kebebasan untuk dapat berdiri sendiri.

Apabila sejenak kita melihat arti kata “merdeka” dalam Alkitab, yaitu pembebasan dari status perbudakan. Misalnya saja seorang budak Ibrani hanya bisa bekerja selama enam tahun saja dan tahun yang ke tujuh diijinkan keluar sebagai orang merdeka dengan tidak membayar tebusan apapun (Kel.21:2, Ul.15:12). Kemerdekaan juga diartikan kebahagiaan berdasarkan pembebasan dari perbudakan, memasuki kehidupan baru dalam sukacita dan kepuasan yang tidak diperoleh dari kehidupan sebelumnya.

Contohnya saja dalam Yeremia 34:8-9, “Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan, supaya setiap orang melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya.

Dalam Galatia 5:13 tertulis: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain  oleh kasih.

Penegasan serupa dituliskan dalam 1Kor.7:22, “Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.”  Bukankah hal ini menegaskan kembali bahwa orang-orang Kristen (Gereja) diutus bertindak untuk melayani di tengah Bangsa dan Negara Indonesia?

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan pengakuannya oleh dan di dalam dunia telah diperoleh Bangsa Indonesia melalui perjuangan dan jerih lelah yang panjang. Hari Jumat, 17 Agustus 1945, kumandang para Proklamator memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia yang disambut kemeriahan dan kebahagiaan oleh rakyat Indonesia menjadi momentum sejarah yang tidak bisa dilupakan bahkan diabaikan oleh kita sebagai warga masyarakat.

Tentunya dengan modal kemerdekaan, sebuah bangsa akan memiliki harga diri dan mampu bersama-sama duduk berdampingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Selama 73 tahun Indonesia berkancah di hadapan negara-negara lain untuk menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah bangsa jajahan lagi, namun bebas dari perbudakan dan sudah mampu untuk berdiri sendiri.

Indonesia memiliki ideologi yang sangat kental dengan kondisi Bangsa dan Negara Indonesia sendiri, yaitu Pancasila. Pancasila mengartikan bahwa keragaman hadir di tengah-tengah bangsa ini. Pancasila bukan hanya menjadi sebuah ideologi yang indah ketika dibacakan bahkan didengarkan, namun sesungguhnya sulit untuk diwujudkan ketika setiap warga negara tidak memahami dan memaknai kemerdekaan yang mengiringi lahirnya Pancasila.

Pancasila adalah pola hidup masyarakat Indonesia; apabila hakikat dari Pancasila ingin terwujud, maka jadikan Pancasila sebagai pola hidup bersama yang dimulai dari diri masing-masing Warga Negara Indonesia. Sudahkah Pancasila menjadi pola hidup bersama sebagai masyarakat Indonesia selama ini?

 

Kemerdekaan dan Gereja
Gereja ada di dalam Negara, itu artinya gereja memiliki peran untuk kemajuan sebuah negara di mana gereja ada. Gereja memiliki tugas panggilan untuk mempertahankan kemederkaan yang sudah diraih selama ini. Ada baiknya kita perlu merenungkan beberapa hal yang dapat memaknai kembali arti sebuah kemerdekaan di tengah kehidupan bergereja selama ini, antara lain:

  1. Gereja tidak terjebak di dalam melakukan pembangunan fisik gereja belaka, namun gereja mempunyai peran dan tanggung jawab untuk melaksanakan pembangunan manusianya (warga gereja). Ada baiknya kita sebagai Gereja menilik sejenak, seberapa banyak khotbah-khotbah dan kegiatan-kegiatan gerejawi yang mengarahkan kepada cinta Tanah Air, berbagi dengan sesama yang berbeda (suku agama ras antargolongan), mengajarkan nilai-nilai nasionalisme kepada anak-anak dan generasi muda? Sudahkah ini menjadi perhatian kita?
  2. Gereja adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat di mana gereja ada. Gereja pun harus terlibat aktif dalam mendukung kegiatan masyarakat sekitar gereja. Upaya-upaya apa saja yang sudah dilakukan gereja untuk menjalin relasi dan berkolaborasi dengan lembaga-lembaga yang ada di masyarakat? Atau justru yang muncul adalah sikap kecurigaan satu sama lain?
  3. Pancasila menjadi pola hidup warga negara dan warga gereja. Apakah nilai-nilai Pancasila juga mengiringi perencanaan dan pelaksanaan program-program gerejawi selama ini? Bentuk kasih dan pelayanan seperti apa yang sudah dilaksanakan oleh gereja untuk masyarakat selama ini? Bukankah kasih yang Tuhan Yesus ajarkan menerobos batas-batas di tengah keragaman? Atau gereja-gereja terlalu sibuk untuk melayani dirinya sendiri?

Mari kita renungkan sejenak, apabila di satu kecamatan terdapat beberapa denominasi gereja, bersehati dan berkolaborasi untuk mengerjakan misi Allah untuk wilayah itu? Bukankah ini adalah sebuah harmonisasi yang indah selayaknya kesehatian para pejuang untuk merebut kemerdekaan tempo dulu?

Hadirnya gereja di tengah negara ini adalah mengerjakan Missio Dei (Misi Allah) untuk mewujudkan Damai Sejahtera Kristus. Alangkah indahnya ketika Gereja menghidupi kembali semangat kemerdekaan Indonesia di tengah kehidupan persekutuan, pelayanan dan kesaksiannya. Wujudkanlah kesaksian yang hidup itu dengan perilaku saling peduli, saling bekerja sama, saling menopang, saling menjaga, saling mengasihi, saling melayani di tengah keragaman.

Gereja jangan terjebak di dalam ego masing-masing, yang enggan melihat kebutuhan sesama di sekitarnya. Keengganan untuk menjalin relasi dan berkolaborasi dengan sesama gereja sekitar akhirnya hanya akan memunculkan keenganan untuk menjalin relasi dan berkolaborasi dengan lembaga yang berbeda dengan gereja di masyarakat. Sebagai bangsa yang merdeka, seharusnya 17 Agustus 1945 menjadi komitmen bersama yang terus menggerakkan setiap gereja untuk terus menerus mewujudkan karya-karya demi kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia.

Teruslah berkarya dan berkaryalah terus. Selamat Merayakan dan Memaknai Kemerdekaan RI ke-73 Tahun. Solideo Gloria.

Penulis: Pdt. Charliedus R. Saragih (GKI Camar – Bekasi)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA