Himne dan Menghargai Warisan

Pada suatu waktu, dalam sebuah kebaktian, ketika seluruh anggota jemaat berdiri dan mengambil sikap sempurna, musik mulai mengalir mengiringi larik kata-kata dalam alunan nada-nada, dan seluruh ruangan hanyut dalam kedahsyatan pujian.

Lalu, terdengarlah suara yang berseru-seru: “Salah iki, ngawur tenan. Oiii…. hymn,… hymn… bukan mars!! Wah, payah tenan.” Meski keras, tapi suara parau karena faktor umur itu, tak mampu mengubah suasana, menjadi seperti yang ia harapkan.

Kata-kata itu mengubah pikiran saya, yang kebetulan berdiri di sebelahnya. Orang tadi adalah Pdt. Em. Hosea Abdi Widhyadi pengarang Himne GKI. Hasil karyanya hampir selalu dinyanyikan dalam banyak kesempatan kebaktian persidangan atau hari ulang tahun GKI. Hal ini membuat saya selalu ingat bahwa banyak jemaat yang menyanyikan lagu ini dengan cara yang salah dalam kebaktian mereka.

Persoalan itu hampir selalu muncul, bukan hanya ketika kita menyanyikan Himne GKI, namun juga ketika kita bicara tentang himne secara umum. Himne sering dipahami dalam ruang antara: antara tahu dan tidak tahu. Tepatnya kita tidak sungguh-sungguh tahu.

Apa yang dipersoalkan oleh pengarang Himne GKI tadi, memberi kesan bahwa himne itu terkait dengan cara menyanyikannya. Dia berharap lagu itu dinyanyikan dengan suasana yang agung dan megah. Bukan seperti “Maju Tak Gentar,” yang dimaksudkan untuk membangun semangat, seperti orang mau maju perang. Jadi dalam hal ini, himne terkait cara menyanyikan.

Himne juga bicara tentang peruntukan. Tujuan dari himne diciptakan adalah pujian untuk Tuhan. Faktanya, istilah himne sering dibedakan dengan puji-pujian Kristen yang lahir di zaman pop. Di sini juga timbul persoalan. Jika pop rohani juga merupakan pujian yang diperuntukkan bagi Tuhan, bukankah pop rohani pun sebenarnya merupakan himne? Jadi, himne itu harus dikaitkan dengan apa?

Himne yang kita bayangkan saat ini, agaknya juga dikaitkan dengan sebuah era atau perjalanan sejarah musik. Kita harus akui bahwa kekristenan kita saat ini merupakan warisan dari kekristenan Barat, di mana puji-pujian dalam kebaktian gereja pernah menjadi “raja”. Musik dan pujian berkembang pesat pada zamannya dan memengaruhi seluruh Eropa dan kehidupan masyarakatnya, bahkan hingga hari ini.

Jadi bagi kita, himne itu terkait dengan tiga hal: cara (suasana yang hendak dibangun), peruntukan atau tujuannya, dan pengaruh sebuah era yang kita warisi. Dalam makna itu himne dipahami sebagai pujian yang dinyanyikan dalam suasana yang agung dan megah, yang dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan, yang kita warisi dari kekristenan Barat pada zamannya.

Perjalanan memahami himne yang rumit ini menjadi alarm bagi kita tentang pentingnya menghargai apa yang telah Tuhan beri. Warisan yang tak boleh kita tinggalkan dan dilupakan. Seperti halnya perjalanan rumit umat Israel, yang ingin selalu diingat oleh pemazmur saat menungkap: “Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setia-Mu,… Namun diselamatkan-Nya mereka oleh karena nama-Nya, untuk memperkenalkan keperkasaan-Nya.” (Mazmur 106 : 7 – 8)

Sebab dalam penghayatan warisan seperti itulah dasar iman dibangun, penyertaan Tuhan dirasakan dan kehendak Tuhan dinyatakan, kiranya salah satu kekayaan yang Tuhan beri dan kita miliki ini juga bisa terus kita ingat dan kita hidupi.

Penulis: Pdt. Natan Kristiyanto (GKI Kayu Putih)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA