Nadia dan Harapan Ekumenisme Awam

Ini karena terjebak…,” tutur Nadia Nathania dengan tawa datar. Dalam wawancara SELISIP di jeda kegiatan WE-UP 2018 (17-19/8), Nadia mengisahkan bagaimana dirinya terlibat dalam isu-isu ekumenis. Keterlibatannya di Komisi Pengembangan Pemuda (KPP) Sinode GKI memang mau tak mau membuatnya celik akan permasalahan terkait dialog antar iman, kesetaraan gender, keadilan ekonomi, lingkungan dan sejumlah isu ekumenis terkait peran gereja itu.

Karena sering diutus di forum-forum itu, akhirnya melihat banyak rekan-rekan di gereja lain yang sudah ikut dalam iring-iringan semangat ini,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai desainer grafis ini meminjam ungkapan khas Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Menurut Nadia, di GKI isu-isu belum begitu membumi di jemaat.

Seringnya hanya di level pimpinan gereja. Bahkan di khotbah-khotbah pendeta untuk jemaat atau klasis hal itu pun jarang dimunculkan. Seolah itu hanya urusan Sinode. Kalau ada perutusan untuk ke forum-forum tadi seringnya yang diutus pendeta, calon pendeta atau mahasiswa teologi, sangat jarang kader laymen (awam).

Sekretaris KPP Sinode GKI sejak 2014 ini, menyadari memang sering kali itu terkait prioritas yang digumulkan dalam jemaat. Sayangnya, karena tidak ada upaya lebih, tidak ada jembatan agar isu ekumenis pelan-pelan masuk ke dalam kehidupan gereja di tingkat jemaat.

Saya sendiri, juga beberapa teman-teman muda, sempat merasa tidak nyambung lagi kalau ngobrol dengan bahasan di jemaat. Tentu kami tidak bisa begitu, kami berusaha untuk tetap concern di pelayanan tertentu di jemaat sambil berusaha menyebarkan semangat ini. Sangat lambat memang, karena ini personal, bukan sesuatu yang struktural,” lanjutnya.

Ada kebiasaan di GKI yang dikritisi oleh Nadia, yaitu kecenderungan untuk memikirkan dan mengerjakan sendiri upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan seperti tadi. Meski sepertinya baik dalam niatan, namun ia menilai dalam sejumlah permasalahan, hal itu kurang tepat.

Kalau orang Sunda bilang kan harus katanaagaan, kawaktuan dan kaotakan… harus sanggup dari sisi tenaga, waktu dan pemikiran. Seringnya karena belum sampai kesana, akhirnya tidak dikerjakan sama sekali. Padahal kita bisa bekerja bersama yang lain, mengingat permasalahan yang ada sering kali mendesak untuk diatasi. Nggak mesti selalu bergerak dengan nama yang singkatannya GKI…,” tawa Nadia semakin lepas saat membahas bagian ini.

 

Dari sekian banyak bahasan ekumenis, Nadia mengaku lebih terpapar dalam bahasan terkait dialog antar agama dan kesetaraan gender. Keterlibatannya di komunitas literasi film dan buku LayarKita, serta kontribusinya untuk Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) dan SAPA Institut – dua lembaga yang concern di isu sosial dialog agama serta pemberdayaan perempuan dan anak di Bandung – diakuinya cukup banyak memberi sumbangsih pemikiran maupun ruang untuk berkarya.

Alumnus Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan ini menilai isu lintas agama belakangan sudah mulai populer di GKI, terlebih sejak naiknya bahasan dan sentimen terkait SARA selepas 2014. Namun, terkait kesetaraan gender memang masih kalah jauh.

Bisa jadi itu karena di jemaat yang berlatar belakang kelas menengah, hal itu tidak terlalu kelihatan sebagai masalah. Kita jadi kurang sadar ada banyak permasalahan besar yang dialami perempuan lain, terutama dari kelompok masyarakat yang berbeda (isu terkait kekerasan seksual, pernikahan dini, perdagangan orang, dll). Juga konstruksi yang bias gender yang tetap terjadi di jemaat,” papar warga jemaat GKI Guntur ini.

Di tengah kompleksitas yang demikian, Nadia tetap optimis bahwa isu dan semangat yang digumuli dalam gerakan ekumenis bisa dihidupi oleh jemaat GKI. Interaksinya secara personal dengan kaum muda GKI menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Demikian pula sekian banyak individu warga jemaat GKI yang berkarya di luar struktur gereja untuk memberi kontribusi pada masyarakat, yang langsung atau tidak langsung juga merupakan perwujudan semangat ekumenisme awam.

Lantas, seberapa yakin hal itu bisa dihidupi oleh GKI sebagai satu institusi dan struktur gereja? “Yah, tahukan kenapa nama saya Nadia? Nadia itu artinya hope… jadi saya memang punya banyak harapan,” tutupnya dengan senyum kecil. **arms

FotoAmelia Samulo Pangestu

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA