Pdt. Arliyanus: Sinode GKI dalam Orkestrasi Kebangsaan

Para pengerja yang terlibat dalam struktur kepengurusan lembaga GKI, perlahan akan mahfum dengan semua istilah dan singkatan khas organisasi GKI. Apalagi jika telah benar-benar memahami konsep kesatuan empat lapisan GKI di tingkat jemaat, klasis, sinode silayah dan sinode. Lantas mengerti peran yang diambil tiap elemen dalam kesatuan tersebut. Gambaran akan sinergi dan kesatuan gerak, niscaya semakin dapat diuraikan.

Kesan itulah yang muncul saat SELISIP bersua Sekum BPMS GKI, Pdt. Arliyanus Larosa. Diwawancara di sela acara Garuda Fellows Juli lalu di Cipanas, Pdt. Arliyanus mengurai panjang lebar, peran yang sebenarnya diambil oleh Sinode GKI dalam visi kesatuannya.

Kalau boleh diistilahkan Sinode GKI itu perannya meng-orkestrasi,” ungkap lulusan STFT Jakarta ini memulai. “Dalam konteks berkarya bagi bangsa misalnya, saat ini kita membagi peran tiap sinode wilayah. Misalnya kita minta sinode wilayah Jatim untuk memberi penekanan di bidang pemeliharaan lingkungan hidup, sinode wilayah Jabar terkait keterlibatan gereja di sosial politik, sinode wilayah Jateng soal pengembangan civil society. Ada sejumlah program yang dikerjakan masing-masing.”

Peran-peran itu diharapkan menjadi orkestrasi gerak sinergis. Sebab kekuatan untuk menggerakkan hingga ke grass-root itu ada di lingkup Sinode Wilayah. “Tentu ada program-program yang dilakukan oleh BPMS misalnya di tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia atau kampanye di media Sinode GKI. Tapi pelaksanaan lebih jauh di Sinode Wilayah,” Pdt. Arliyanus melanjutkan.

Ia mengaku sangat senang dengan berkembangnya kepedulian warga GKI untuk berkarya bagi bangsa. Hal yang semakin menujukkan bahwa GKI tengah dalam track yang sesuai, berkembang menjadi gereja yang terbuka dan mengindonesia.

Menggerakkan GKI untuk program yang karitatif dari dulu sangat gampang. Tapi kalau sosial-politik ini masih ada keragu-raguan. Namun, sudah ada trend membaik. Sekarang kalau kita mengadakan program-program kebangsaan, sudah tidak terlalu repot meminta kontribusi,” papar Pdt. Arliyanus.

Menurut pendeta yang sempat melayani di GKI Kepa Duri ini, keterlibatan untuk berkarya bagi bangsa adalah sebuah panggilan, yang semestinya sangat dihidupi oleh GKI. Ia meyakini kekhawatiran akan penolakan karena etnisitas atau identitas kekristenan, sudah tidak relevan lagi.

Fakta bahwa GKI berasal dari Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee adalah bagian dari identitas kita yang tidak pernah kita tinggalkan. Demikian pula fakta bahwa kita telah mengikrarkan diri sebagai gereja yang terbuka. Menurut saya GKI justru lebih enak masuk ke tiap elemen masyarakat. Karena kita inilah Indonesia. Di dalam GKI ada hampir semua suku di Indonesia ada,” jawabnya.

 

Bagi Pdt. Arliyanus ini lebih ke persoalan bagaimana mengusahakan perubahan paradigma. Bahwa isu politik itu sama dengan bidang kehidupan lain, tidak kotor. Seluruh bidang ini adalah bidang, yang menurut visi GKI, di dalamnya jemaat perlu terlibat untuk menyatakan kasih Allah.

Perubahan paradigma itulah yang tengah diusahakan bersama Sinode GKI dan tiap sinode wilayah, klasis serta jemaat. Di tengah keterbatasan yang ada, Sinode GKI beberapa kali merancang pembinaan strategis, agar isu-isu kebangsaan tidak sekedar dibagikan secara sporadis, namun dengan sengaja mengupayakan kader yang mumpuni di bidang-bidang untuk karya tersebut.

Yang kita coba sekarang baru di level pimpinan gereja dan kaum muda. Lalu kalau itu berhasil, kita bisa ajak sinode-sinode gereja yang lain, agar program yang sama juga dikerjakan. Mesti ada gerakan yang besar. Ini sedang ada momentumnya soalnya. Kesadaran kebangsaan apinya sedang tumbuh. Harus dijaga apinya itu,” lanjutnya kian bersemangat.

Pdt. Arliyanus tidak menampik, bahwa Sinode GKI belum maksimal dalam upaya mengkatalisasi dan mengorkestrasi gerakan tadi. Termasuk dalam melibatkan kaum muda serta pemanfaatan teknologi informasi untuk mengantisipasi perubahan zaman.

Keterbatasan sumber daya yang selama ini cukup disibukkan mengurus hal internal memang menjadi tantangan yang besar. Namun, ia berharap landasan yang telah dirintis di periode kepengurusan yang sebentar lagi berakhir ini, dapat dilanjutkan oleh kepengurusan BPMS selanjutnya. Menghasilkan orkestrasi yang menampilkan harmoni karya bagi bangsa, menghadapi perubahan yang kian kompleks. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA