Pdt Arliyanus tentang Pendidikan Politik dan Pemilu

Bebeberapa tahun belakangan, ada gairah baru gereja-gereja di Indonesia saat mulai membicarakan permasalahan sosial-politik. Melampaui tradisi pietis yang umumnya enggan membicarakan ini, mimbar-mimbar Kristiani di Indonesia sudah semakin sering menyerukan agar warga jemaatnya terlibat dan memberi kontribusi bagi bangsa.

Pergeseran ini diakui oleh Sekretaris Umum Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI, Pdt. Arliyanus Larosa. Menurutnya, apa yang terjadi terutama selepas pemilukada di Jakarta lalu menyadarkan bahwa gereja perlu terlibat dalam pendidikan politik. Ditemui di sela-sela Workshop Garuda Fellows awal Juli lalu di Cipanas, Pdt. Arliyanus mengapresiasi pembaruan ini.

Paling sederhana beberapa waktu sebelum Pilkada lalu, BPMS GKI melakukan launching lagu untuk pemilihan pilkada. Lagu itu itu dimintakan oleh banyak pimpinan-pimpinan sinode di berbagai daerah untuk disebarkan ke umatnya. Berarti kan upaya untuk pendidikan itu ada…” ujar Pdt. Arliyanus mengangkat contoh.

Pimpinan gereja-gereja sekarang sudah mulai banyak yang muda-muda… Mereka melihat bahwa gereja tidak boleh lagi memandang politik sebagai sesuatu hal yang mesti dijauhi. Bukan terlibat dalam politik praktis, namun untuk meningkatkan kesadaran warga tentang perlunya kita memberikan kontribusi yang konstruktif dalam kehidupan berbangsa,” lanjutnya.

Meski demikian, pendeta lulusan STFT Jakarta ini meyakini bahwa pembinaan yang demikian akan kurang tepat, jika hanya dikerjakan secara sporadis. Gereja harus lebih serius dan sistematis dalam mengajarkan tanggung jawab warga negara dalam materi pembinaannya.

 

Harus ada kurikulum-kurikulum yang jelas. Yang memang sengaja merancang dan memasukkan ini ke dalam materi katekisasi misalnya, soal tanggung jawab warga negara. Kemudian perlu adalah aksi-aksi yang menunjukkan bahwa kita adalah bagian dari bangsa ini. Kita bukan penumpang gelap. Kita adalah bagian yang turut aktif untuk membangun negara ini. Karena itu, semua yang ada di Indonesia adalah saudara kita. Maka harus ada aksi-aksi atau program-program yang bermanfaat bagi semua warga, tanpa terkecuali. Dengan tidak memandang suku agamanya apa,” lanjutnya bersemangat.

Memandang kontestasi pemilihan kepala daerah yang baru saja berakhir, serta persiapan untuk pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, Pdt. Arliyanus mengaku optimis, masyarakat Indonesia semakin dewasa. Menurutnya pengalaman pada Pilkada serentak Juni lalu, isu-isu primordial, walau masih terjadi di beberapa tempat, tidak terlalu mempengaruhi kualitas pemilihan.

Memang masih ada yang berupaya menarik ke isu-isu itu dan karena itu sangat emosional, memberi narasi terancam. Ini merupakan tugas kita yang mengaku nasionalis, dan tugas kita gereja dan pemuka agama lain yang mencintai bangsa untuk mengatakan bahw kita ini semua dalam track. Kalau semua masyarakat menyadari atau memahami bahwa kita sudah on the track menuju negara yang demokrasi dan maju, menurut saya upaya yang menyerang sisi primordial seperti itu tidak akan berhasil.

Bagi Pdt. Arliyanus, justru pada masa-masa seperti inilah pendidikan politik itu perlu terus disuarakan. Ia berharap ada upaya yang lebih strategis dan sinergi antara elemen yang mencintai bangsa ini untuk melakukannya.

Selama ini orang-orang yang menyatakan diri sebagai bhineka tunggal ika, cuma sporadis saja menanggapinya. Sementara yang mengusung isu primordial sudah cukup terprogram. Menurut saya, kita, sebagai umat Kritiani dan siapapun di Indonesia, yang ingin merawat kebhinekaan, merawat Pancasila, yang ingin merasakan pembangunan yang dirasakan semua artinya merata dan adil, mesti secara sistematis berupaya mengatasi isu-isu sentimen primordial,” tutupnya. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA