Persahabatan yang Autentik

Persahabatan merupakan hal yang paling mendasar dalam kehidupan manusia oleh sebab itu, sejak semula Tuhan mengatakan, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej. 2:18). Persahabatan merupakan ekspresi shalom, yakni hubungan damai yang akrab dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia dan dengan sesama makhluk hidup. Persahabatan merupakan bagian penting shalom karena di dalam persahabatan mencakup relasi yang benar, autentik, harmonis, menyenangkan dan saling membangun.

Rasul Petrus mengingatkan perlunya persahabatan dimaknai secara autentik. Dalam mengamalkan kasih persaudaraan (persahabatan, Yunani: philadelphia), kita menyucikan diri lewat oleh ketaatan kepada kebenaran melalui Roh Kudus (1 Petrus. 1:22).

Hidup autentik adalah mengasihi dengan kasih persaudaraandengan tulus ikhlas atau tidak munafik, sehingga kita bersungguh-sungguh (ektenos: dengan intens) saling mengasihi dengan hati yang murni.

Persahabatan akan menjadi tidak menyenangkan apabila tidak lagi autentik. Saya percaya setiap kita merasa tidak mampu hidup autentik. Ternyata, bukan mengandalkan kemampuan diri sendiri melainkan pada pertolongan Roh Kudus kita menaati kebenaran sehingga jiwa kita disucikan.

Meski ada sejumlah pendapat soal etimologinya, tapi ada pandangan populer bahwa kata tulus dalam bahasa Inggris “sincere” berasal dari kata Latin “sine cere” yang berarti “tanpa lilin.” Di masa lalu biasanya pedagang porselin menutupi produknya yang retak dengan lilin sehingga garis retakan tidak lagi kelihatan. Sedangkan pedagang yang jujur memberi label “sine cere” (tanpa lilin) yakni membiarkan garis retakan tetap terlihat, tanpa ditutupi.

Yang menarik adalah kata “munafik” berasal dari kata “hipokrisis” yang berarti berakting atau bersandiwara. Seorang munafik adalah seorang yang berpura-pura yakni berakting agar ia tampak menakjubkan. Apabila kita selalu berakting, tidak menjadi diri sendiri, maka kita adalah seorang “hipokrisis” yakni seorang yang tidak autentik.

Benar, bahwa tidak mudah untuk tidak menutupi kelemahan dan kerapuhan diri sehingga kita cenderung melapisi retakan diri dengan “lilin” yakni apa yang kita miliki dan kerjakan. Kita pun berakting. Bukankah ini yang dilakukan oleh Adam dan Hawa saat mereka jatuh ke dalam dosa? Reaksi mereka adalah takut telanjang dan bersembunyi (Kej. 3:10). Karena takut merasa tidak berharga, akan kelemahan dan kerapuhan kita bersembunyi di balik prestasi, pencapaian, kepintaran, dan pertunjukkan.

Jujur saja, dibutuhkan kekuatan, rasa aman dan pribadi yang stabil untuk dapat hidup autentik. Seorang yang autentik menganut prinsip, seperti yang dikatakan oleh D.L Moody “This is who I am. This is everything I am and this is all I am – nothing more, nothing less, nothing better, nothing worse.

Untuk menjalin persahabatan yang menyenangkan, selain menerima diri kita dan bersikap rendah hati terhadap diri sendiri, Petrus mengajak kita untuk membuang beberapa penghalang persahabatan yang autentik. Segala kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

Setiap kita mengetahui bahwa hal-hal di atas sangat merusak bagi sebuah komunitas. Bersikap jahat, kasar, tidak menghargai sesama, menjerat dengan strategi, menjebak dengan kelicikan, saling menjatuhkan, berpura-pura, dengki, berkeinginan jahat, berkata-kata fitnah, bergosip. Hal-hal tersebut merusak kepercayaan (trust). Ini semua merupakan musuh terbesar persahabatan yang autentik baik dalam keluarga, rekan sepelayanan, kolega, maupun di masyarakat.

Kehidupan yang autentik membuat diri kita bertumbuh. Pertumbuhan terjadi melalui kerinduan rohani seperti seorang bayi yang baru lahir merindukan susu yang murni. Setelah mengecap kebaikan Tuhan, kita akan terus bertumbuh.

Kiranya melalui kehidupan yang autentik kita dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan rumah rohani (1 Pet. 2:5). Dengan menjadi diri yang autentik, kita membuka diri bagi anugerah Allah, dan percaya kepada dia dengan tulus untuk diubahkan oleh firman-Nya. Mari belajar menjalin persahabatan yang autentik!

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Duta Mas

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA