Ruang Interaksi di Gereja

Salah satu kebutuhan hidup manusia sebagai mahluk sosial adalah kebutuhan akan adanya ‘ruang’ dalam hidupnya. Baik ruang untuk dirinya sendiri maupun ruang untuk hadir dan ada bersama dengan mahluk hidup lainnya.

Dalam rancangan tata kota misalnya selalu mensyaratkan adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH), yaitu bagian tanah yang tidak dibangun/didirikan bangunan, tapi dijadikan ruang yang ‘hijau’, seperti taman atau hutan kota, yang idealnya mencakup 40% dari luas keseluruhan suatu daerah hunian/kota.

RTH dapat berfungsi sebagai “paru‐paru kota”, mengurangi dampak polusi udara, sebagai sarana perlindungan/konservasi tanaman/binatang tertentu tapi juga sebagai sarana masyarakat berjumpa, bertemu satu sama lain. Lewat RTH, manusia dapat berinteraksi dengan alam dan sesama manusia.

Contoh lain adalah konsep yang beberapa tahun lalu mulai digagas oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yaitu Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA), yaitu suatu ruang publik di tengah kawasan hunian yang bisa dilengkapi dengan berbagai sarana bermain dan belajar anak‐anak. Selain itu, RPTRA juga bisa dilengkapi dengan berbagai sarana yang berguna bagi komunitas/masyarakat, seperti perpustakaan, ruang pertemuan, ruang laktasi (menyusui), singkatnya memberikan kenyamanan, keamanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat untuk berinteraksi satu sama lain.

Kebutuhan akan ruang itu juga kiranya perlu jadi pertimbangan, saat kita menggagas gereja kita sebagai gereja yang menghidupi semangat hospitalitas, menjadi rumah kedua atau istilah-istilah yang mengisyaratkan adanya ruang bersama. Apakah ruang itu juga ada di gereja?

Kita mesti menyadari perlunya tersedia ruang interaksi yang memadai. Ruang yang tidak mewah tapi nyaman dan membuat orang betah bercakap‐cakap, berbagi cerita satu sama lain. Ruang yang dapat dimanfaatkan untuk berbagi ide, harapan tapi juga pergumulan, baik pribadi maupun sebagai sebuah persekutuan. Ruang yang dapat memfasilitasi hospitalitas, keramahan satu sama lain di antara anggota tubuh Kristus.

Gereja-gereja kecil di desa atau di perkotaan masa lalu umumnya secara tak disengaja punya ruang yang demikian. Entah di dekat konsistori atau halaman depan/samping gereja. Tempat anggota jemaat, juga masyarakat sekitar bisa berinteraksi dengan terbuka.

Namun, belakangan di sejumlah gereja perkotaan hal tersebut kian kurang. Gereja hanya jadi gedung kebaktian dan slot-slot ruangan yang dipakai tiap komisi atau kantor untuk staf gereja. Biasanya pertemuan personal di luar agenda acara justru dilakukan di tempat lain.

Tentu saja ruang seperti ini bukanlah hal wajib. Namun kian menyadarkan kita bahwa saat kita menekankan agar jemaat menjiwai suatu semangat, tentunya harus dibarengi banyak aspek, termasuk dalam hal ini aspek fisik gedung gereja.

Penulis: Pdt. Sthira Budi Purwosuwito (GKI Gading Indah)

Foto: Dunia Travel

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA