Semangat Ekumenis di WE-UP GKI

Percakapan ekumenis selama ini memang kebanyakan hanya di level pimpinan gereja. Target WE-UP ini sebenarnya mengenalkan isu-isu ekumenis ke kalangan pemuda. Harapannya hal-hal yang menjadi pergumulan ekumenis itu sampai ke masyarakat.” Nadia Nathania mengungkapkan tujuan awal yang digumuli dalam Workshop Ekumenis Untuk Pemuda (WE UP) sejak pertama kali diselenggarakan dua tahun lalu.

Nadia yang merupakan tim acara di WE-UP tahun ini menjelaskan bahwa WE-UP pertama kali diselenggarakan dua tahun lalu di Yogyakarta oleh Komisi Pengembangan Pemuda (KPP) Sinode GKI. WE-UP 2016 kala itu berfokus pada pengenalan isu-isu ekumenis bagian kaum muda GKI. Isu terkait dialog antar agama, lingkungan, keadilan dan kesetaraan menjadi hal yang disampaikan pada perwakilan pemuda dari tiap klasis di Sinode GKI.

WE-UP 2018 merupakan workshop lanjutan dari kegiatan tersebut dengan fokus lebih spesifik terkait mengupayakan keharmonisan hidup dengan sesama, khususnya dalam konteks keragaman dan kebinekaan di Indonesia.

Workshop berlangsung sejak Jumat hingga Minggu (17-19/8) di Villa Cikahuripan, Kabupaten Bandung Barat. Ada empat belas orang peserta GKI yang mengikuti kegiatan ini. Mereka merupakan perutusan dari sejumlah klasis di GKI Sinode Wilayah Jawa Barat dan Sinode Wilayah Jawa Tengah. Sepuluh orang pemuda-pemudi lintas iman dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dan Gerakan Pemuda Inklusi (Gradasi) Cimahi dan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) juga turut mengikuti dua hari awal workshop ini sebagai mitra belajar para pemuda GKI tersebut.

WE-UP 2018 membahas sejumlah isu-isu terkait harmoni kemanusiaan di Indonesia. Selain kebaktian pembuka dan penutup, WE-UP 2018 diisi tujuh materi sesi, beserta sejumlah sesi refleksi di renungan pagi dan malam.

 

Di hari pertama, Jumat (17/8) Pdt. Esther S. Hermanus menjadi pembicara di kebaktian pembuka. Pendeta GKI Maulana Yusuf ini mengangkat momen perayaan kemerdekaan RI untuk memberi inspirasi pada kaum muda agar menggumuli isu ekumenis dalam konteks yang dihadapi bangsa Indonesia. Sesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyegaran isu-isu ekumenis di tiga matra (gereja, sesama dan semesta), yang dipaparkan oleh Pdt. Albertus Patty.

Selepas kedua sesi ini, pembelajaran workshop berikutnya diikuti bersama perwakilan pemuda lintas iman. Bersama kaum muda GKI ini, mereka dengan serius, namun penuh keakraban, berdiskusi serta menerima materi terkait gejala konflik, prasangka, literasi media, pembuatan konten perdamaian, serta upaya membangun jaringan. Momen yang tentunya menegaskan semangat ekumenis dengan cara yang implementatif. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA