Seri Tokoh: Eka Darmaputera yang Menghidupi Teologi (1)

Tidak ada yang menyangka sosok berbadan kurus dan agak nakal itu akan menjadi seorang pendeta.

Lahir pada 16 November 1942, Thie Oen Hien berasal dari keluarga Tionghoa yang amat sederhana di Mertoyudan, Magelang. Tapi berbeda dengan kebanyakan anak keturunan Tionghoa, ia lebih sering bermain bersama kawan-kawan kecilnya yang kebanyakan anak tentara. Meski berkali-kali dilarang orang tua, karena khawatir rawan perkelahian, ia tetap membandel.

Sore-sore begitu keluar dari rumah dengan pakaian biasa, di rumah teman, saya ganti sarung dan peci, kemudian kami jalan keliling kota. Kadang-kadang terlibat perkelahian di sana sini,” pernah suatu kali ia bertutur.

Oen Hien, yang belakangan kita kenal dengan nama Pdt. Eka Darmaputera, mengaku suka sekali berbaris ala tentara. Setelah lulus SMA ia bahkan sempat mendaftar ke akademi militer, namun tidak diterima.

Ia kemudian memutuskan beralih ke jalur yang jauh berbeda: masuk ke sekolah teologi. Kenapa? Sebenarnya lebih karena keuangan keluarganya yang memang tidak memungkinkan dia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Satu-satunya kemungkinan yang terbuka adalah masuk STT dengan beasiswa.

Kondisi keuangan keluarga juga yang membuat Eka sedari kecil tidak bersekolah di sekolah-sekolah yang lazim dimasuki oleh warga etnis Tionghoa. Membuatnya terbiasa sejak awal bergaul dengan rekan dari berbagai latar budaya dan agama.

Bagi Eka semua kondisi itu tak lain adalah panggilan Tuhan. “Saya tidak memilih untuk menjadi pendeta. Bahkan tidak ingin menjadi pendeta. Tapi ini seperti Tuhan sendiri yang menentukan. Seolah-olah saya tidak ada pilihan lain, selain menjadi pendeta,” ungkapnya saat diwawancara salah satu majalah Kristen.

Latar yang begitu kompleks turut membentuk kepribadian dan watak teologis yang tumbuh dalam diri Eka. Lebih jauh, kehidupannya di Asrama STT Jakarta turut membentuk pemikiran dan pengalamannya terkait teologi, ekumenisme, gereja dan bangsa. Lewat pergaulan yang intensif dan penuh semangat muda itu pula ia menemukan potensi diri sebagai pemikir, praktisi organisasi dan orator yang ulung.

Semasa mahasiswa Eka lebih banyak aktif di organisasi kemahasiswaan. Ia masuk ke Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia sejak semester dua (1962), kemudian menjadi pengurus pusat organisasi tersebut. Di waktu bersamaan GMKI juga merintis berdirinya Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI), yang membuat Eka banyak berpergian ke berbagai kota di Indonesia. Saat menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa STT Jakarta, ia pula yang mempelopori keterlibatan STT di berbagai forum pemuda. Tak jarang ikut berdemonstrasi bersama lembaga kemahasiswaan lain.

Di berbagai forum inilah Eka memperoleh ladang luas untuk mengasah kemampuannya berorganisasi dan berorasi. Pengalaman itu seringkali tentu sering dianggap kurang “berciri pendeta” oleh kebanyakan dosen dan rekannya yang berpandangan konservatif. Tak jarang ia ditegur dan mengalami sejumlah kesulitan dalam studi. Padahal, Eka mengaku ia melakukan itu lebih karena motivasi agar sekolah teologi tidak terasing dari dinamika masyarakat luas dan berjuang bersama dengannya.

Praksis yang demikian akhirnya semakin mematangkan pandangan-pandangan teologis Eka. Pemikiran-pemikiran yang kerap disuarakan lewat khotbah dan tulisannya sangat berpengaruh pada warna kekristenan di Indonesia, setidaknya dalam tiga pokok permasalahan: peran teologi bagi gereja, gerakan kesatuan gereja, dan keterlibatan gereja membangun Indonesia yang begitu majemuk. Dalam tiga hal ini, Pdt. Eka tidak hanya berwacana. Ia benar-benar menghidupi setiap detil yang dia ungkapkan.

Eka adalah pendeta jemaat, pengkhotbah dan penulis Kristen yang ulung sekaligus juga akademisi teologi yang brilian. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi ekumenis di Dewan/Persekutuan Gereja Indonesia, juga turut merintis dengan kritis upaya penyatuan tiga Sinode GKI. Ia pun aktif dalam berbagai forum demokrasi dan perintis dalam dialog lintas iman di Indonesia. Disertasinya di Boston College di Boston dan Seminari Teologi Andover Newton (1982), bahkan mengkaji secara mendalam terkait Pancasila sebagai ideologi yang tepat dan terbuka bagi Indonesia.

Disinilah kita melihat bagaimana Eka begitu memegang prinsip bahwa teologi haruslah dikritisi sekaligus dihidupi oleh gereja. Seperti pernah sekali ia rangkum dengan begitu bernas:

“Gereja sukses dalam memikat banyak anggota, tetapi hidup tanpa teologi, tidakkah itu namanya organisasi massa atau klub rohani, tapi pasti bukan gereja? Kalau gereja sukses dalam mengusahakan keuangan, tetapi hidup tanpa teologi, tidakkah lebih tepat namanya adalah CV atau firma, tapi pasti bukan gereja? Kalau gereja sukses dalam pekerjaan sosial, tetapi hidup tanpa teologi, tidakkah lebih tepat namanya adalah sebuah yayasan sosial, tapi pasti bukan gereja?

Gereja semakin jauh dari teologi. Akibatnya gereja tidak lagi pantas disebut gereja. Tetapi sekaligus dengan itu, teologi juga semakin jauh dari gereja. Akibatnya, teologi tidak pantas pula disebut teologi. Gereja tanpa teologi? Seperti Pak Tani tak punya cangkul. Teologi tanpa gereja? Seperti pada pameran, ketika sebuah cangkul dikagumi, tapi bukan untuk dipakai. Jelaslah, betapa yang kita cita-citakan, adalah gereja yang berteologi. Tentara yang diperlengkapi dengan ilmu ketentaraan. Pak Tani yang mempunyai cangkul.” **arms

Sketsa: Arizar Ghiffari/validnews.co

Baca juga: Eka Darmaputera yang Menghidupi Teologi (2)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA