Sifra dan Pua: Bidan yang Membangkang

Konsep civil disobedience (pembangkangan warga) sempat menjadi gagasan populer dalam sejumlah perkembangan teologi dan politik modern. Penulis klasik Amerika, Henry David Thoreau, pertama kali menggagas konsep ini untuk menggambarkan berbagai bentuk tindakan yang melanggar hukum tertulis, namun tanpa kekerasan, yang sengaja dilakukan oleh warga untuk menentang keberadaan hukum yang tidak adil dan tidak manusiawi. Konsep kemudian yang diusung para pejuang kemanusiaan seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr, untuk menjalankan aksi protes mereka yang tegas namun nirkekerasan.

Teolog Protestan Amerika, Reinhold Niebuhr menyebut bahwa semangat pembangkangan seperti ini pun sejak awal sudah merupakan bagian dari kekristenan. Jemaat Kristen mula-mula cukup banyak melakukan pembangkangan terhadap aturan yang melarang kebebasan beribadah.

Demikian pula dalam Alkitab, cukup banyak kisah tokoh saleh yang menentang aturan yang tidak adil, meski selalu berusaha menjadi warga negara yang baik. Seperti Daniel dan rekan-rekannya yang memilih tetap beribadah sehingga melanggar aturan raja (Daniel 3, 6), Rahab yang memilih menyembunyikan mata-mata di Yerikho (Yosua 2), Obaja yang melanggar perintah ratu dan menyembunyikan para nabi (1 Raja-raja 18), hingga Petrus yang memilih untuk tetap mengabarkan Injil kendati sudah dilarang (Kisah Para Rasul 5:29).

Namun cerita pertama Alkitab tentang sosok yang melakukan pembangkangan warga justru disematkan pada dua perempuan non-Israel, yaitu Sifra dan Pua, dua orang bidang yang biasa membantu persalinan di Mesir.

Kitab Keluaran menceritakan di zaman orang Israel semakin berkembang di Mesir, Firaun menekan dan memberlakukan kerja paksa. Ia pun memerintahkan agar bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani yang bersalin agar membunuh bayi yang dilahirkan bila bayi itu berjenis kelamin laki-laki (Keluaran 1:16).

Namun kedua bidan tadi, disebut oleh kitab Ulangan sebagai orang yang takut akan Allah. Mereka tetap membiarkan bayi-bayi itu hidup. Mereka berkelit dari Firaun dengan beralasan bahwa perempuan Ibrani umumnya kuat-kuat, sehingga sudah melahirkan sebelum bidan datang.

Dari namanya Sifra kemungkinan merupakan warga Mesir atau warga berbahasa Aram, sementara Pua merupakan nama Kanaan. Demikian pula, kenyataan bahwa mereka juga menolong persalinan orang Mesir mengisyaratkan bahwa keahlian mereka merupakan profesi lintas etnis. Keberanian keduanya menentang perintah Firaun, dan memilih mendahulukan sisi kemanusiaan, diapresiasi oleh kitab Keluaran dengan narasi bahwa mereka diberkati Allah.

Meski terbilang jarang dibahas, kedua bidan ini sangat diapresiasi dalam tradisi Yahudi. Teolog feminis Israel, Francine Klagsbrun, menyebut bahwa yang dilakukan keduanya merupakan contoh paling tua tentang pembangkangan warga. Sementara Rabbi Jonathan Magonet menilai keduanya memberi teladan paling awal dan paling kuat dalam perlawanan terhadap rezim yang jahat. **arms

Ilustrasi: British Library

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA