Teks-teks Paranesis

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang… Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda… Jangan menghakimi… Hai isteri tunduklah pada suamimu…

Kita mungkin sering mengutip kalimat-kalimat itu sebagai nasehat. Kalimat-kalimat itu sepertinya terdengar sangat Kristiani, karena mengutip secara langsung nasehat yang muncul di Perjanjian Baru. Juga, terkesan sangat universal dan selalu relevan. Namun ada kalimat-kalimat lain yang sebenarnya juga nasehat-nasehat di Perjanjian Baru, justru jarang kita pakai.

Ambil saja contoh kalimat nasehat Rasul Paulus pada Timotius ini: “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit.” (1 Timotius 5:23), atau di surat untuk jemaat Korintus: “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya (1 Korintus 11:5). Jarang sekali kita pakai sebagai nasehat untuk saudara-saudari kita, bukan?

Bentuk nasehat praktis seperti itu sangat banyak di Perjanjian Baru, terutama dalam surat-surat rasuliyah. Para penafsir Alkitab menggolongkannya ke dalam teks-teks paranesis (dari kata Yunani paraenesis, yang berarti nasehat, saran atau instruksi). Sebab, memang tidak semua Perjanjian Baru merupakan teks paranesis, bahkan teks-teks paranesis itu pun sering kali bercampur dengan narasi dengan konteks tertentu.

Teks-teks paranesis memberi kesan bahwa perintahnya adalah “barang jadi” yang siap untuk diterapkan secara langsung bagi kondisi dan situasi apapun. Bisa jadi sebagian memang demikian adanya, namun tidak selalu begitu. Belum tentu nasihat-nasihat yang diberikan langsung dapat diterapkan secara harafiah.

Oleh sebab itu, sebagai langkah pertama, penafsir perlu merekonstruksi teks yang ditafsirkan, dengan terlebih dulu menempatkan teks tersebut dalam konteksnya. Rekonstruksi ini meliputi penelitian atas penulis, alamat penerima, maksud penulisan, masalah-masalah yang dihadapi, jalinan historisnya dan bermacam-macam konteks lain yang ikut mempengaruhinya.

Baru kemudian langkah kedua, secara analitis penafsir berusaha menarik keluar pesan atau pesan-pesan yang hendak disampaikan, bukan malah memasukkan gagasan sendiri ke dalamnya. Tiap-tiap teks hendaknya diberi kebebasan untuk berbicara kepada kita. Pesan-pesan inilah yang kemudian, dalam langkah ketiga, diterapkan untuk menyelesaikan masalah-masalah kini dan di sini penafsir.

Langkah-langkah pendekatan hermeneutis seperti ini menjadi sangat penting diterapkan untuk teks-teks paranesis. Agar tidak sembarang menaruh penafsiran yang mungkin bukan menjadi maksud awalnya.

Sekedar memberi contoh, kalimat nasehat di awal tulisan ini Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang (2 Korintus 6:14), amat sering dikutip untuk menolak pernikahan beda agama.

Niatan itu mungkin ada benarnya dalam perspektif pastoral, tapi menggunakan ayat itu sebagai dasar tentu kurang tepat. Sebab Rasul Paulus tidak berbicara soal pernikahan di bagian ini. Justru, kita mengetahui secara kronologis Paulus sudah membahas panjang lebar soal perkawinan dalam suratnya yang pertama pada jemaat Korintus (1 Korintus 7), termasuk soal menyikapi perbedaan iman antar pasangan. Inilah contoh pentingnya meninjau konteks dalam menafsir teks paranesis.

Secara imaniah, kita tidak mesti pesimis atas kemungkinan terjadinya perbedaan penafsiran teks-teks paranesis, sebab Tuhan berkenan berfirman kepada kita, juga dalam segala kelemahan kita sekalipun. Lagi pula, perbedaan penafsiran mencerminkan kekayaan firman itu sendiri. Akan saling memperkaya dan saling melengkapi pemahaman kita atas teks yang ditafsirkan. Hal ini dapat terjadi jika para penafsir mendekati teks dengan langkah-langkah hermeneutis yang bertanggung jawab.

Disarikan dari Bahan PA GKI Kota Wisata: Menafsir teks-teks paranesis dalam PB

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA