WE-UP dan Melepas Prasangka

Beatrice begitu senang mengikuti rangkaian Workshop Ekumenis Untuk Pemuda (WE-UP) 2018. Ia paling menikmati sesi diskusi yang mempertemukannya dengan rekan-rekan muslim dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Pemudi utusan GKI Klasis Bandung ini mengaku baru pertama kali punya pengalaman diskusi yang intens, menyentuh banyak tema yang sulit didiskusikannya di keseharian.

Di tempat kerja memang ada rekan-rekan yang berbeda agama. Namun, jarang bisa berdiskusi terkait hal-hal seperti ini. Saya sendiri awalnya punya prasangka yang kurang mengenakkan, karena pernah beberapa kali mengalami diskriminasi. Tapi baru kali ini bisa berdiskusi dengan bebas, bahkan menyentuh tema-tema yang selama ini sensitif,” ujar Beatrice bersemangat.

Cerita yang sama, datang dari Agung. Pemuda utusan GKI Klasis Semarang Timur ini juga merasakan hal yang sama. “Ternyata tema-tema ekumenisme seperti di WE-UP ini bisa juga didiskusikan dengan terbuka bersama rekan-rekan agama lain. Ke depannya saya kira kita bisa lebih jauh lagi, bukan sekedar belajar bersama, tapi juga ada proyek yang dikerjakan bersama.” Agung optimis, semangat dan pembelajaran serupa bisa ditularkan ke acara-acara pemuda di gerejanya.

Tidak hanya para pemuda GKI yang merasakan hal itu. Desan, mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati pun mengaku awalnya ia agak canggung, namun perlahan bisa jadi cair dan berkolaborasi. “Saya sama sekali tidak punya bayangan awal soal bagaimana tipe pemuda GKI, tapi setelah beberapa kali diskusi di kelompok, kami bisa saling berbagi banyak isu. Hal yang sangat menarik,” ujar Desan.

 

Selama tiga hari penyelenggaraan WE-UP 2018, sejak Jumat hingga Minggu (17-19/8), memang ada lima sesi yang diikuti bersama oleh peserta lintas agama, yaitu dua sesi prasangka, literasi media, pembuatan konten damai dan membangun jaringan ekumenis. Sepuluh orang pemuda-pemudi lintas iman dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Gerakan Pemuda Inklusi (Gradasi) Cimahi dan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) Bandung turut mengikuti dua hari awal workshop ini sebagai mitra belajar pemuda-pemudi GKI.

Para pemuda GKI tengah belajar bagaimana menghadirkan semangat ekumenis di tengah konteks keberagaman Indonesia. Ini sekaligus merupakan kesadaran bahwa tidak mungkin berkerja sendiri di tengah sekian banyak persoalan yang ada. Juga menghadirkan keutuhan spiritualitas.

Kita tidak perlu risau dengan terlalu banyak memilah-milah, ngomong berbeda untuk kalangan sendiri, lalu beda lagi saat berhadapan umat lain. Itu yang membuat prasangka buruk selalu berkembang. Padahal harusnya kita utuh dan bersama dalam karya. Kita pun bisa belajar dari umat beragama lain,” demikian pesan Pdt. Albertus Patty saat mengantar sesi tentang pandangan ekumenis.

Eric Lincoln dari Peace Generation saat membawakan sesi tentang pembuatan konten perdamaian, menegaskan bahwa berkembangnya prasangka antar kelompok wajar sekali terjadi. “Cara paling ampuh untuk melampauinya adalah dengan perjumpaan untuk saling memahami. Seperti yang teman-teman lakukan ini,” pujinya. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA