Benang Merah Leksionari

Berkhotbah dengan leksionari punya tantangan tersendiri. Terkadang ada godaan besar untuk menyatukan empat bacaan Alkitab itu menjadi satu tema spesifik. Tentu harapannya, agar teks-teks itu dirangkai sebagai satu pesan utuh kepada jemaat.

Di masa hari raya gerejawi, kebutuhan itu mungkin dapat terpenuhi dengan baik. Leksionari pada hari raya gerejawi secara khusus mempersaksikan peristiwa dan karya Yesus, sehingga umat dapat memahami makna peristiwa kelahiran, kematian, kebangkitan serta karya penebusan-Nya. Dalam pola hermeneutik leksionari, pada masa hari raya gerejawi terdapat “benang merah” teologis yang saling mendukung dan melengkapi.

Sekedar mengangkat contoh, untuk Minggu Pra-Paskah IV, misalnya, bacaannya terdiri dari: Yosua 5:9-12, Mazmur 32, II Korintus 5:16-21 dan Lukas 15:1-3, 11b-32. Kisah Anak yang Hilang di Lukas 15 dalam The Revised Common Lectionary (RCL) sengaja dihubungkan dengan Yosua 5:9-12, dimana Allah berkenan menghapus cela Israel.

Pembacaan ini menghayati bahwa dalam karya penyelamatan-Nya, Allah telah meniadakan status perbudakan Mesir secara final terhadap umat Israel sehingga kini Israel telah dipulihkan sebagai umat kepunyaan Allah. Pemahaman teologis ini sesuai dengan pesan dari Mazmur 32 yang menyatakan “Berbahagialah mereka yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya.” Surat Rasuli yang diangkat di Korintus juga menegaskan bahwa Kristus telah membuka transformasi kehidupan, sebagai ciptaan yang baru, karena Allah di dalam Kristus pada hakikatnya telah mendamaikan kita dengan diri-Nya.

Penafsiran dari tiap teks yang disediakan oleh RCL tersebut dapat memberikan perspektif teologis dan pencerahan yang lebih luas, dibandingkan kita hanya menafsirkan perikop Kisah Anak Yang Hilang. Sangat jelas bahwa tema utama dari Minggu Pra-Paskah IV tersebut merupakan manifestasi dari rekonsiliasi dan tindakan pengampunan Allah yang berkenan menghapus dosa-dosa kita dengan kuasa anugerah-Nya.

Jadi, perumpamaan Anak yang Hilang merupakan paradigma teologis tentang pendamaian dengan Allah  dan sesama, bukan sekedar mempersaksikan pengampunan Allah kepada orang berdosa secara pribadi. Pemahaman teologis ini memberi pengajaran gerejawi yang lebih sehat untuk mencegah jemaat dari sikap individualistik dalam relasinya dengan Tuhan, tetapi juga perlu serius memperhatikan makna pendamaian dengan sesama.

Masa raya gerejawi memang merupakan masa pengisahan (Narrative Time), berbeda dengan masa Minggu Biasa (Ordinary Time). Pada masa biasa yang dimulai setelah Minggu Pentakosta, RCL memberi kepada kita dua alternatif bacaan untuk Kitab Perjanjian Lama dan Mazmur.

Alternatif pertama disebut dengan semi-sinambung (semi-continous), di mana bahan bacaan pertama diambil dari sebuah kitab PL yang dibacakan secara berkesinambungan dari minggu ke minggu. Alternatif kedua disebut, dengan komplementer (complementary), dimana bahan bacaan pertama dipilih dari perikop PL yang berhubungan erat dengan bacaan Injil, sehingga PL tidak dibaca secara sinambung.

Dalam metode semi-sinambung sangat mungkin pada minggu tertentu teks-teks bacaan tampak kurang terkait erat. Tentu, para pengkhotbah tidak perlu memaksakan diri untuk mencari-cari hubungan antar teks. Pada masa ini, bisa saja pengkhotbah mengeksplorasi atau menggali secara lebih mendalam salah satu bacaan.

Sebagai tambahan, tema yang muncul dari penafsiran keempat bacaan dapat saja beragam. Contohnya tema masa Advent I pada satu sisi mempersaksikan Pengadilan Zaman Akhir, tetapi dapat juga mengungkapkan pengharapan umat percaya dalam menyongsong kedatangan Tuhan yang dahsyat. Hal-hal seperti ini sangat terbuka dan dengan seimbang ditemukan dalam lesksionari.

Disarikan dari: Hermeneutika Leksionari, Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA