Berkarya Melampaui Sekat Duniawi

Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, sangat eksklusif. Memandang dirinya sebagai bangsa terpilih, umat yang beroleh keselamatan. Pada saat yang sama mereka memandang bangsa lain sedemikian rendah. Sehingga muncul ungkapan, sejahat-jahatnya orang Yahudi jauh lebih baik daripada orang baik dari kalangan bangsa-bangsa.

Orang Yahudi dilarang berkunjung ke rumah orang yang bukan Yahudi begitu pula sebaliknya, bangsa-bangsa lain dilarang berkunjung ke rumah orang Yahudi. Orang-orang yang bukan Yahudi betapapun banyak berbuat baik dan turut menyumbang kebutuhan rumah ibadah orang Yahudi, di mata orang Yahudi tetap mereka di sebut sebagai orang berdosa yang akan binasa.

Yesus adalah orang Yahudi, beragama Yahudi dan menghidupi adat istiadat sebagai orang Yahudi. Namun pertanyaan kita adalah Apakah Yesus setuju dengan cara hidup orang Yahudi waktu itu, yang pada umumnya, bersifat rasialis dan merendahkan bangsa-bangsa yang tidak termasuk dalam umat keselamatan? Pasti jawabnya, “Tidak!” Sebab dalam beberapa kesempatan Yesus memuji perwira Romawi yang memohon kesembuhan bagi hambanya yang sakit. Bahkan Yesus memuji orang Samaria yang baik hati dalam perumpamaan yang disampaikannya.

Kalau demikian mengapa dalam kisah di Markus 7, Yesus menjawab perempuan Kanaan (Siro-Fenisia) yang datang kepadanya meminta pertolongan Tuhan atas sakit penyakit yang diderita anaknya, dengan perkataan, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” (Markus7:27)?

Kalau kita menelusuri pembacaan Alkitab, kita menemukan Yesus tidak bersikap rasialis seperti bangsanya. Sebab di ujung kisah ini Yesus menyembuhkan anak perempuan yang kerasukan setan itu. Yesus bertanya demikian untuk melihat kualitas perempuan tersebut, apakah ia juga bersikap rasialis seperti bangsanya.

Seorang yang bebal adalah seorang yang membalas sikap hidup rasialis dengan sikap yang sama, seorang yang membalas kebencian dengan kebencian. Dalam konteks sosial kita sekarang, layaknya seorang yang karena marah disebut ‘cebong’ lalu balas mengumpat dengan menyebutnya ‘kampret’, atau berbagai umpatan dua kubu yang lain.

Yesus kagum dengan perempuan itu sebab ia lebih berkualitas dari bangsanya. Ketika bangsanya membuat kotak dan memasukannya ke dalam kotak, ia tidak menjadi marah dan melakukan hal yang sama. Matanya tertuju pada Kristus dengan keyakinan yang teguh, bahwa orang Yahudi yang berdiri di hadapannya itu terlalu besar jika dibanding dengan kotak yang dibuat bangsanya.

Kelemah-lembutan dan kerendah-hatian perempuan Kanaan itu yang sungguh mengagumkan. Itulah yang membuat Yesus membongkar kotak buatan bangsanya dan berkarya membebaskan anak perempuan Kanaan yang kerasukan setan.

Jadi apabila saudara diberi label dan diberi stigma (cebong, kampret, kafir, sesat, kurang iman, dll) belajarlah dari kelemah-lembutan dan kerendah-hatian perempuan Kanaan ini, maka kuasa Yesus yang melampaui batas akan menjadi nyata dalam kehidupan.

Penulis: Pdt. Suta Prawira (GKI Gunung Sahari)

Foto: The Atlantic

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA