Berpisah dengan Pdt. Kuntadi

Pak Kun bilang: Jari-jari tangannya sudah tidak mau nurut…,” kenang Indriani Kurniadi. Ia bercerita tentang bagaimana suaminya, Pdt. Kuntadi Sumadikarya, berusaha menyelesaikan buku karyanya Selusur Spiritual yang kelima. Di seri sebelumnya, Pak Kun selalu berusaha untuk menyusun dan menyunting kembali refleksi-refleksinya. Namun, sejak Juni lalu, kondisi kesehatannya sudah tidak memungkinkannya melakukan itu. Walhasil, karya itu pun agak terlambat untuk naik cetak, meski sudah selesai keseluruhan kontennya.

Indriani juga memohon maaf karena Pak Kun terpaksa tidak bisa memenuhi permintaan untuk melayani pemberitaan firman sejak bulan Juni. Baginya Pak Kun merasa tidak enak karena terpaksa melalaikan janji. Bagi Pak Kun dan keluarga, karya yang demikian adalah bagian dari tanggung jawab iman.

Tanpa menggurui, Indriani menegaskan satu warisan lagi dari hidup Pak Kun, sebelum ia wafat, pada semua pihak yang hadir memberangkatkan jenazahnya…

Sambutan yang mengampu semua ucapan itu, menjadi bagian terakhir sebelum jenazah Pdt. Kuntadi dikremasi pada Jumat siang (21/9) di Krematorium Oasis Lestari, Tangerang. Hari itu merupakan rangkaian terakhir dalam empat hari momen penghiburan persemayaman jenazah Pak Kun. Sebelumnya, di pagi hari, kebaktian penglepasan diadakan di GKI Gunung Sahari, Jakarta.

Masih cukup banyak kerabat, rekan sepelayanan maupun para pendeta yang turut melepas kepergian Pdt. Kuntadi. Kesempatan untuk memberi testimoni dan bertemu personal pada keluarga, terpaksa cukup banyak dikurangi, karena keterbatasan waktu.

Sebenarnya, jika beliau ada disini, ia pasti agak marah dan kurang setuju dengan semua pujian ini,” ucap Pdt. Arliyanus Larosa yang memimpin kebaktian. Menurut Sekum BPMS GKI ini, Pak Kun selalu meneladankan sikap untuk waspada dengan popularitas dan kultus individu. Namun, penghormatan tulus yang datang dari berbagai pihak ini, justru jadi bukti bahwa kehidupan Pak Kun adalah karya Allah yang menjadi berkat bagi banyak orang.

Pdt. Arliyanus merangkum ucapan perpisahan dengan Pak Kun dengan mengutip perkataan Yesus di Yohanes 11:25. “Kiranya kehidupan Pak Kun menjadi bukti sekaligus penggenapan ucapan Yesus, bahwa orang yang percaya pada-Nya akan tetap hidup, walaupun sudah mati. Semoga ide dan kiprah Pak Kun akan terus hidup dan terus dikembangkan oleh orang-orang yang terinspirasi darinya.**arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA