Gereja dan Tantangan Masa Depan

Jangan sampai kita membuat visi-misi dan statement macam-macam, tanpa pernah sadar kondisi di sekitar kita, kita tidak peduli masa kini dan masa depan,” dengan tegas Kresnayana Yahya menyorot soal sering dilupakannya analisis yang mumpuni dalam merancang program dan rencana jangka panjang gereja. Tidak hanya gereja, ia pun menyorot berbagai lembaga pelayanan Kristen, khususnya lembaga pendidikan.

Dalam sesi Seminar di hari pertama Persidangan Majelis Sinode Wilayah (PMSW) GKI SW Jawa Barat, Kamis (27/9), Kresna dengan serius mengangkat perubahan demografis dan disrupsi dalam teknologi informasi dan dunia bisnis di dunia. “Di tengah dunia yang berkembang dengan sangat cepat, gereja seharusnya juga menyesuaikan dirinya dengan perubahan yang ada. Termasuk di dalamnya melihat segala macam upaya yang selama ini dilakukan gereja untuk mendidik kaum muda,” ujarnya.

Indonesia mengalami bonus demografi. Struktur masyarakat kita sekarang didominasi oleh milenial. Mereka ada sekitar 40% dari populasi. Bahkan di negeri kita sekarang 60% lebih ada di bawah usia 40 tahun. Sepuluh tahun ke depan akan meningkat jadi 70%. Apakah struktur populasi di jemaat kita juga seperti itu? Kalau tidak, berarti kita tengah mempersiapkan diri untuk hilang perlahan-lahan,” tegas statiskawan senior dari Institut Teknologi Surabaya itu.

Kresna menegaskan tantangan untuk inovasi itu ada di semua bidang, tidak hanya terkait ekonomi bisnis, sosial maupun politik, tapi juga mencakup spiritualitas. Menurutnya gereja semestinya tidak hanya melakukan business as usual, mengerjakan apa yang selama ini telah dikerjakannya berpuluh-puluh tahun.

Peneliti di Bilangan Riset Centre itu menyoroti bahwa anak-anak muda Kristiani sudah mulai menunjukkan gejala meninggalkan gereja, tidak sekedar berpindah gereja. Itu terutama terjadi di kota-kota seperti Jakarta dan Bandung. Mereka umumnya sudah terserap dalam banyak kesibukan yang memberi tantangan dan pengalaman hidup yang dinilai lebih relevan.

Ia juga menyoroti bagaimana lembaga pendidikan Kristiani juga tidak menyasar beberapa bidang baru yang makin relevan di dunia masa kini. Kebanyakan masih berfokus pada bidang-bidang klasik yang dinilai menguntungkan secara personal. Padahal, banyak bidang baru yang makin penting untuk digarap dan dikerjakan bersama.

Penguasaan data dan informasi, serta kecakapan untuk menganalisis perubahan ini merupakan hal yang esensial bagi gereja masa kini. Lingkungan kita yang penuh perubahan (volality), ketidakpastian (uncertainity), kompleksitas (complexity) dan ambiguitas (ambiguity) membutuhkan pengerja gereja yang bisa memanfaatkan itu semua demi menggumuli dan berkarya dalam perannya. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA