Ghetto

Secara sederhana, ghetto (Bahasa Italia) berarti tempat hidup kelompok tertentu, yang terpisah dan terisolasi dari masyarakat luas. Sepanjang sejarah, kita tahu sejumlah ghetto sengaja dibuat untuk mengisolasi etnis atau agama tertentu. Seperti sejumlah ghetto Yahudi di Eropa berabad lalu, atau ghetto Afro-Amerika semasa diskriminasi rasial di Amerika Serikat.

Namun, ghetto tidak selalu dalam wujud ruang fisik. Ghetto bisa hadir dalam mental masyarakat yang merasa inferior, kecil, dan diperlakukan tidak adil.

Umat Tuhan bisa bermental ghetto. Ini terjadi, misalnya di zaman nabi Yeremia. Ketika harus berada di pembuangan Babel, mereka cenderung menutup diri. Mereka tinggal terpisah, tidak mau bergaul dengan masyarakat Babilonia dan hanya memikirkan eksistensi mereka. Umat Tuhan apatis terhadap kota di mana mereka ada.

Kepada mereka yang seperti itu, Tuhan berfirman melalui nabi Yeremia: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”(Yer 29:7). Perintah Tuhan jelas. Mereka diminta berdoa dan bekerja untuk kota di mana mereka ada, sebab kalau kota itu sejahtera, mereka juga sejahtera.

Perintah Tuhan mendorong mereka keluar dari ghetto, baik dalam arti fisik maupun mental. Mereka tidak boleh hidup dalam ketakutan dan kemarahan, karena merasa kecil dan diperlakukan tidak adil. Mereka tetap harus mengupayakan kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan mereka saja.

Ghetto di Indonesia

Perintah Tuhan ini juga relevan untuk masyarakat Indonesia yang masih bermental ghetto. Ada kelompok yang secara sosial kecil jumlahnya, yang cenderung hidup dalam ghetto karena merasa kecil dan diperlakukan tidak adil. Mereka apatis terhadap konteks di mana mereka ada, lalu hidup hanya memikirkan eksistensi kelompoknya. Mereka hidup dalam ketakutan dan kebencian kepada kelompok yang lebih besar.

Perintah Tuhan ini juga relevan buat kelompok masyarakat yang walaupun secara jumlah besar tetapi bermental kecil. Mereka selalu merasa takut dan terancam dengan kelompok lain, sehingga hidupnya hanya memikirkan eksistensi kelompok sendiri, bahkan membenci kelompok lain yang lebih kecil.

Sebagai bangsa, kita perlu keluar dari mental ghetto, jika ingin menjadi besar dan maju. Tiap kelompok masyarakat perlu berdoa dan berusaha mengupayakan kesejahteraan Indonesia. Tiap kelompok perlu berpikir untuk kepentingan semua, bukan kelompoknya saja. Kita perlu menyadari, sesuatu yang hanya baik untuk kepentingannya sendiri, sesungguhnya tidak rohani.

Penulis: Pdt. Darwin Darmawan

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA