GKI Cimahi: Ibadah Syukur 25 Tahun Pdt. Ujang Tanusaputra

Jangan lupa, Romo Semar, ini di GKI Cimahi, jangan kebanyakan pakai bahasa surgawinya GKJ…

Tawa penonton pecah, saat Pdt.Tanto Kristiono beberapa kali keceplosan mengucapkan kosa-kata khas Jawa dalam lakon wayangnya. Dalam gurauan lanjutan, pendeta dari GKJ Margoyudan, Solo itu menegaskan bahwa penggunaan bahasa Jawa bagi warga GKJ, itu layaknya penggunaan Bahasa Arab bagi umat Islam, atau Bahasa Latin bagi umat Katolik. Hal yang membuat jemaat yang mendengarkannya kian tertawa.

Senin Malam (24/9), Pdt. Tanto didaulat untuk menyampaikan refleksi pada Ibadah Syukur 25 tahun Kependetaan Pdt. Ujang Tanusaputra yang diselenggarakan di GKI Cimahi. Rekan seangkatan Pdt. Ujang di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana itu memberikan refleksi dengan gaya unik. Ia menukil lakon wayang saat Gatotkaca dan Abimanyu menghadap Semar, Sang Punokawan, lengkap dengan pernak-pernik wayangnya.

Pdt. Tanto merefleksikan bagaimana seorang pendeta, layaknya seorang senopati, haruslah memiliki ketahanan mental dan spiritual. Baginya, 25 tahun kependetaan Pdt. Ujang Tanusaputra menunjukkan ketahanan itu. Sejumlah besar tanggung jawab dapat diembannya dengan baik, meski di tengah sejumlah tantangan.

Menjadi Sang Bahu
Menjadi Sang Bahu, demikian tema ibadah syukur ini sengaja dipilih untuk menggambarkan sosok Pdt. Ujang yang menjadi sandaran sekaligus rekan berbagi pergumulan bersama jemaatnya, sejak ia ditahbiskan menjadi pendeta di GKI Maulana Yusuf, pada 13 September 1993. Dalam sejumlah pelayanannya, ia kerap menghadapi kondisi dimana jemaat yang dilayaninya perlu untuk melakukan sejumlah rekonsiliasi dan perbaikan relasi.

Warga GKI dan para pegiat toleransi di Indonesia tentu mengingat peran Pdt. Ujang saat menjadi pendeta di GKI Pengadilan sembari menemani kasus GKI Yasmin (2006-2014). Pelayanannya kini di GKI Cimahi pun merupakan permintaan jemaat, karena ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki dalam tubuh jemaat yang sudah mencapai usia enam puluh lima tahun itu. Ia bersama Pdt. Sutanto Teddy bahu-membahu dengan seluruh majelis dan warga jemaat membangun kembali GKI Cimahi yang tengah mengalami banyak transisi.

Saya tak dapat membayangkan betapa kuatnya bahu Pdt. Ujang mengemban sejumlah tanggung jawab itu,” komentar rekannya, Pdt. Daud Solichin saat memberi sambutan. “Namun, tentu saja itu karena Pak Ujang bersandar pada Sang Bahu yang Agung, Tuhan Kita Yesus Kristus.

Ibadah syukur ini dihadiri sekitar 200-an orang, baik dari GKI Cimahi, GKI Pengadilan Bogor, GKI Maulana Yusuf, maupun sejumlah rekan pendeta dan kerabat Pdt. Ujang. Dalam ibadah syukur ini juga diluncurkan buku Bahu Sang Hamba, yang berisi kesan dari 60 sahabat tentang kiprah Pdt. Ujang. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA