Jokowi, Thanos dan Paulus

Baru‐baru ini Presiden Jokowi kembali menjadi pusat perhatian. Itu terjadi dalam pembukaan pertemuan World Economic Forum on the Association of South East Asian Nation, di Hanoi Vietnam. Ketika berbicara tentang perang dagang dunia yang sedang memanas, Jokowi mengibaratkannya dengan hal yang sangat trendy di kalangan millenial. Ia mengangkat tokoh Thanos, si penyulut Infinity Wars dalam salah satu film populer besutan Marvel Studio.

Thanos adalah tokoh super, yang setelah menguasai seluruh Infinity Stones, ingin memusnahkan separuh populasi jagad raya. Sebabnya, Thanos meyakini bahwa sumber daya yang ada di semesta ini tidak cukup untuk menopang kehidupan seluruh penghuninya.

Yang menarik, berlawanan dengan dugaan banyak orang, Jokowi tidak menunjuk tokoh Thanos itu pada satu figur atau individu tertentu, tetapi bisa hadir dalam diri setiap orang lewat keyakinan yang keliru bahwa agar kita berhasil maka yang lain harus gagal atau menyerah. Pemahaman yang keliru bahwa kebangkitan seseorang atau satu kelompok mengharuskan kejatuhan yang lain.

Tema yang diangkat memang masalah ekonomi. Tetapi ini juga berlaku bagi hal‐hal lainnya. Banyak hal bukanlah soal menang‐kalah. Bukan soal bagaimana saya menang dan orang lain kalah. Tetapi bagaimana seluruh dunia bekerja sama sehingga sumber daya yang ada bisa digunakan untuk kebaikan bersama.

Thanos di Jemaat Kristen

Dalam kehidupan murid‐murid Kristus, keyakinan yang keliru akan menang‐kalah tersebut juga dapat terjadi. Surat 1 Korintus merekam pertikaian yang terjadi dalam tubuh jemaat Kristen di kota Korintus yang sesungguhnya sangat kaya dengan berbagai sumber daya, material juga non‐material (karunia‐karunia Roh). Namun, mereka justru terpecah dalam berbagai kelompok yang mau saling mengalahkan.

Nampaknya mereka semua berusaha mencari dukungan dan “fatwa” dari Rasul Paulus, cara pandang, posisi manakah yang benar. Tetapi Rasul Paulus justru memberi sudut pandang yang berbeda. Alih‐alih berpikir legalis hitam-putih, ia justru memberi perspektif yang berbeda.

Misalkan ketika berbicara tentang masalah memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala (1 Korintus 8: 10). Di awal nampaknya Rasul Paulus setuju dengan mereka yang berpendirian bahwa daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala – karena dalam iman Kristiani bahwa berhala‐berhala tersebut tidak bermakna lagi – harusnya tidak menjadi masalah.

Namun kemudian, ia justru menegur mereka karena dalam menjalankan keyakinan mereka (yang tidak keliru), mereka mengabaikan perasaan saudara‐saudara seimannya yang lain, yang terganggu dengan tingkah laku mereka.

Bagi Rasul Paulus ini bukan soal daging atau makanan, tapi soal manusia, saudara‐saudara yang “untuknya Kristus telah mati…” (ay. 11). Cara pandang dan bertindak yang zero sum, bahwa kalau saya benar maka yang lain harus kalah, itulah yang ditolak oleh Rasul Paulus.

Menjadi murid Kristus berarti meletakkan tanggung jawab terhadap sesama, kebaikan kehidupan bersama, menjadi hal yang utama. Bahkan di pasal 10, Rasul Paulus melanjutkan agar jemaat memilih untuk melakukan apa yang berguna dan membangun, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain juga (10:23‐24).

Hidup bersama sebagai murid‐murid Kristus berarti kesediaan untuk mendengar, memberi ruang, bahkan bekerjasama, berkolaborasi demi kebaikan hidup bersama. Untuk mengakui perbedaan dan keunikan, untuk menghargai bahkan merayakan perbedaan tanpa perlu kehilangan identitas dan jatidiri, bahkan mencari titik temu untuk melakukan kebaikan bersama.

Keyakinan bahwa hanya diri kita yang paling benar dan yang lain patut disingkirkan, pada akhirnya hanya akan membuat kita menjadi Thanos. Sosok yang merasa berhak memusnahkan atau menyingkirkan yang lain demi kemenangan sendiri.

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Gading Indah

Ilustrasi: polygon

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA