Kasih Bapa yang Mengalir Deras

Helmut Thielicke, teolog Jerman, rektor Hamburg Universität menyarankan agar perumpamaan Luk. 15: 11-32 jangan diberi judul “Anak yang hilang” (LAI) tetapi “Bapa yang Menunggu-nunggu.” Saya merasa setuju dengan Herr Thielicke. Salah satu sebabnya adalah sebuah perumpamaan bukanlah alegori.

Dalam teologi, alegori adalah jenis sastra Alkitab dimana setiap ungkapan cerita mewakili hal yang lain. Sedangkan perumpamaan adalah jenis sastra Alkitab yang berusaha menampilkan keseluruhan cerita mewakili hal lain sebagai satu konsep yang kuat dan utuh.

Makin kita dalami perumpamaan Anak Hilang ini, makin kentara bahwa perumpamaan ini, pada dasarnya bukan bicara tentang anak bungsu, bukan pula bicara tentang anak sulung, melainkan bicara tentang sang Bapa. Perumpamaan ini bukan bicara tentang pengkhianatan anak bungsu atau sekam frustrasi anak sulung, melainkan bicara tentang kasih Bapa yang mengalir deras melampaui pengkhianatan dan frustrasi anak-anaknya.

Pembelajaran dalam Penderitaan
Setiap orang di dunia ini mempunyai hubungan dengan empat hal, diri sendiri, benda-benda, orang lain dan Allah. Perikop kita bicara tentang keempat hal tersebut. Anak bungsu datang pada ayahnya, dalam hatinya kira-kira berkata, “Aku berharap ayah cepat mati dan berandai hari ini adalah hari pemakaman ayah. Jadi berilah saya sepertiga dari kekayaanmu yang menjadi warisanku. Aku mau itu sekarang. Tanah dan barang-barang itu akan kujual sebab aku mau dalam bentuk cash. Aku merasa sangat tidak bahagia dengan orang-orang di sini. Hanya uang yang akan membuat aku bahagia.” Lalu ayahnya membagi-bagikan harta itu.

Apakah keputusan ayah itu bijaksana? Membagikan harta warisan selagi ia masih hidup? Dalam tradisi Asia ini adalah sebuah tabu. Orang tidak akan membagikan warisan sebelum orang tua meninggal dunia. Orang tua akan celaka besar jika tidak lagi memiliki hartanya selagi mereka masih hidup. Harta belum lagi menjadi warisan selagi ayah masih hidup.

Permintaan anak bungsu ini adalah sebuah kedurhakaan, karena menginginkan ayahnya cepat mati. Kedurhakaan, karena seorang ayah ingin ditukarnya dengan sejumlah harta. Kedurhakaan, karena ia lebih menyintai orang di tempat jauh ketimbang orang-orang di sekitarnya. Di banyak bagian dunia ini, termasuk di dunia kita, ayah manapun juga akan mendidih darahnya karena permintaan semacam itu.

Jadi, kita dapat membayangkan bagaimana sang ayah itu menjual tanahnya dengan hati yang sedih, membagi hartanya dengan rasa gundah, membiarkan anaknya pergi dengan rasa kehilangan. Setelah itu mungkin sang ayah berjalan dengan tulang-tulang terasa lemas, berpikir kalau-kalau ia telah melakukan kekeliruan.

Anak bungsu mendapat pembelajaran di negeri yang jauh. Untuk pembelajaran itu ia harus membayar “uang sekolah” yang mahal, yakni seluruh harta warisan yang diterimanya. Apa pembelajaran bagi anak bungsu ini? Pertama-tama, Jika Anda punya uang jangan mudah percaya kepada orang yang mengaku ‘teman’. Manakala Anda tidak punya uang, semua teman akan menghilang. Persahabatan sama sekali tidak boleh didasarkan pada uang. Karena itu ada peribahasa, A friend in need is a friend indeed (teman dalam kesulitan adalah sahabat sejati).

Kedua, dalam hukum Yahudi orang dilarang menyentuh babi (haram hukumnya!), tetapi anak ini bukan saja terpaksa melanggarnya. Dalam kehilangan sebagian kesadarannya karena lapar, ia mungkin membayangkan makanan babi seperti bubur kacang yang lezat. Oleh karena itu ia berniat memakan ampas makanan babi untuk mengatasi kelaparannya. Di kandang babi itulah kata Alkitab, “Ia menyadari keadaannya.” (15:17).

Kini ia mempunyai ukuran yang benar untuk membandingkan kesejahteraan dalam rumah ayahnya dan kesengsaraan di negeri jauh. Anak bungsu ini belajar bahwa visinya tentang kebahagiaan yang tadinya terang benderang, ternyata adalah visi yang palsu. Dulu ia menganut paham, “Orang-orang dekat terasa bau, orang-orang jauh terasa wangi,” namun kini ia telah belajar kebalikannya bahwa, “Orang-orang dekat terasa wangi dan orang-orang jauh terasa bau.” Bulatlah tekadnya untuk pulang.

Lalu ia mulai mereka-reka kalimat yang akan ia ucapkan di hadapan ayahnya: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (15:18-19). Boleh jadi berkali-kali ia mengulang-ulang kalimat-kalimat singkat itu. Kalimatnya singkat, tetapi berisikan seluruh eksistensinya dan penyesalannya, pengharapannya dan kesadarannya, pertobatan dan kematangan yang ia dapatkan melalui penderitaan ini.

Penderitaan dan kesengsaraan adalah cara pembelajaran yang paling efektif dan ampuh untuk “naik kelas” dalam spiritualitas. Karena itu jika merasa tidak nyaman dalam hidup ini, bahkan merasa menderita karena sebab apapun, jalanilah dengan benar, maka sejatinya akan ada ganjaran yang membuat kita makin matang dalam spiritualitas. Hal ini teruji bagi anggota jemaat, teruji bagi pendeta.

Kasih Sang Bapa yang Mengalir Deras
Sang ayah sejak kepergian anak bungsu itu, mestinya merasa kehilangan yang sangat besar. Walaupun mempunyai dua anak, hilang satu tidak membuat rasa sakit itu lebih ringan. Mungkin ayah ini tiap-tiap hari berjalan-jalan di luar rumah, berharap melihat anaknya pulang. Entah berapa lama ia tidak tahu, tapi kerinduannya tak pernah padam.

Jadi, “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya” (15:20). Apa yang dilihatnya? Mestinya ia melihat anak muda yang kurus dan compang-camping, dengan air muka tak bercahaya dan tanpa senyum, dua mata cekung dan tidak bersinar, berjalan lemah dan terhuyung sepeti setengah sadar. Sebab itu, “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (15:20).

Lalu ayah ini mulai berlari ke arah anaknya yang hilang itu. Dengan berlari, sang ayah melanggar kebiasaan Yahudi. Orang tua dalam masyarakat Yahudi tidak berlari, apalagi demi anaknya, sebab jika ia berlari hal itu mengikis habis martabatnya, hanya pelayan yang berlari. Namun ayah ini tak peduli dan berlari-lari menyongsong anaknya.

Si anak bungsu dengan setengah kesadaran, memaksa diri mengucapkan kalimat yang sudah ia siapkan. “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,” tapi ayahnya tidak mau mendengarkan. “Aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.” Ayahnya sibuk merangkul anaknya itu, tanpa peduli pada badan yang kotor. “Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Ayahnya sibuk menciumi anaknya itu, tanpa peduli pada wajah yang kumal. Ayah ini sama sekali tidak peduli kepada alasan mengapa anaknya kembali, yang ia peduli ialah bahwa anaknya telah kembali.

Tuhan Yesus Kristus mengajarkan bahwa penerimaan mendahului pertobatan dan mendahului pengakuan kita. Spiritualitas Kristiani menyebutkan, “Mereka yang mencari Allah sudah lebih dulu dicari oleh Allah.” Injil Kristus memberitakan keindahan ini; “Sebelum kita berubah Allah menyintai kita, sewaktu kita berubah Allah menyintai kita; Allah menyintai kita entah kita berubah atau tidak.”

Jadi kita bisa berkata, perumpamaan ini bukanlah cerita tentang anak bungsu atau anak sulung. Perumpamaan ini bercerita tentang kasih Sang Bapa yang mengalir deras melampaui segala pemberontakan, pengkhianatan, melampaui segala hati yang terluka dan berdarah-darah, melampaui segala tabu-tabu yang ada, melampaui segala logika insani.

Sang Bapa memerintahkan para pelayan, “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya.” Lalu “Kenakanlah cincin pada jarinya” dan “Sepatu pada kakinya.” (15:22). Dalam masyarakat Yahudi, budak dan pelayan tidak memakai jubah atau sepatu, itu adalah pertanda sang anak diterima sebagai anak, bukan sebagai orang upahan sebagaimana yang dia sendiri anggap layak.

Dengan itu sang ayah ingin anaknya yang kembali ini, juga kembali bercahaya, bersinar dan hidup. Kemudian kata sang Bapa, “Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.” (15:23). Lalu musik dan tarian mulai mengalir, seperti cinta yang mengalir deras dari Sang Bapa.

Posisi Orang Percaya
Di dunia ini ada dua kategori: orang berdosa yang tahu dirinya berdosa dan orang berdosa yang tidak mengetahui dirinya berdosa. Jadi dalam perumpamaan ini Yesus menurut Lukas, bercerita tentang satu ayah dan dua anak. Perbedaan kedua anak ini ialah, anak yang satu mengungkapkan krisis identitas yang ada padanya, sedangkan anak yang satu lagi tidak mengungkapkannya.

Kita sudah renungkan anak bungsu, kini sekilas kita renungkan anak sulung. Pada dasarnya anak sulung berperasaan sama dengan anak bungsu. Dia juga tidak menyukai orang-orang di sekitarnya. Anak sulung tidak menganggap anak bungsu adalah saudaranya terbukti ia berkata, “Baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.” (15:30). Ia melihat si bungsu sebagai anak ayahnya, tapi bukan sebagai saudaranya.

Baru sekarang, si sulung mengungkapkan segenap unek-uneknya dalam kemarahan. Ia punya kebencian dan iri hati kepada saudaranya, ia menyalahkan dan menyudutkan saudaranya. Selain itu, ia juga punya keinginan-keinginan. Ia ingin berpesta, ia ingin lepas dari bapanya, ia ingin hadiah atas pengabdiannya.

Maaf, saya sering bilang, panitia-panitia di gereja juga sering seperti anak sulung. Sesudah lelah menyelesaikan tugas sebagai panitia pembangunan, panitia natal, panitia paskah, dll bukan jarang panitia-panitia ini lalu mengadakan pesta pembubaran, sebab tahu dalam gereja tak ada yang akan membuat pesta bagi mereka. Untunglah kalau tidak memakai anggaran gereja.

Hikmah dari cerita tentang anak sulung ialah menyadari bahwa pengabdian kepada Tuhan bukanlah mencari pesta dan upah, sebab Tuhan sudah lebih dulu menyintai kita, menerima kita, menyelamatkan dan memelihara kita. Pengabdian yang kita lakukan bagi Tuhan adalah tindakan yang selayaknya tidak mengharapkan pesta bagi diri sendiri.

Pesta-pesta kita berlangsung setiap hari bersama Tuhan, karena kita digelimangi oleh kasih Tuhan yang tak terukur dan tidak terbandingkan. Kalau hal itu tidak terasa bagi kita, masalahnya hanyalah kesanggupan kita memang terbatas. Mungkin jendela-jendela hati kita agak buram dan perlu dijernihkan. Mungkin ruang-ruang dalam hati kita terlalu penuh dengan parkara lain, sehingga ruang bagi syukur menjadi begitu kecil.

Ini adalah masalah arsitektur batin, yang kita semua tanpa kecuali mampu mendesainnya ulang lebih baik. Ini adalah masalah model mental, yang kita semua tanpa kecuali mampu membentuknya lebih baik. Ini adalah masalah paradigma, yang kita semua tanpa kecuali mampu menggantinya dengan yang lebih baik, yang bersifat universal, inarguable and timeless, (berlaku di mana saja, tak terbantahkan, berlaku kapan saja) seperti kasih Allah yang mengalir deras itu

Dalam suatu kebaktian pengajaran di jemaat, seorang anggota menanyakan pertanyaan problematis. “Pak Kun, dapatkah seorang percaya kehilangan keselamatannya karena dia murtad?” Saya menarik nafas sejenak, tahu bahwa pertanyaan ini sudah memicu debat teologis berabad-abad. Lalu saya balik bertanya dengan sederhana: “Menurut saudara, mana lebih sakti (berkuasa) murtadnya orang itu dibandingkan darah dan nyawa Yesus Kristus Tuhan kita?” Penanya tanpa berpikir lagi lalu menjawab dengan tegas: “Darah dan nyawa Kristus!” Lalu saya bertanya lagi: “Apakah pertanyaan saudara yang semula sudah terjawab oleh jawaban saudara ini?” Ia berkata: “Sudah pak. Terima kasih”

Kita sering terombang-ambing karena kita memakai ukuran insani atas urusan luhur ilahi. Sudah jelas keduanya tidak kompatibel. Kasih Sang Bapa selalu mengalir deras tanpa henti bahkan melampui segala pengkhianatan, pemberontakan, frustrasi dan depresi, ilusi dan delusi insani. Itulah konsep perumpamaan “Bapa yang Menunggu-nunggu.” (KS): 20 Juli 2006.

Penulis: Pdt. (Em) Kuntadi Sumadikarya

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA