Keluarga: Masihkah Penting dan Berharga?

Di era 1990-2000-an, ada sebuah sinetron yang amat populer, berjudul Keluarga Cemara. Sinetron ini menjadi tayangan serial televisi yang tayang amat lama, lebih dari 5 tahun. Ceritanya dibangun dengan menampilkan sebuah rumah tangga sederhana, namun menghidupi nilai nilai yang luhur.

Keluarga Cemara juga menjadi judul lagu yang menjadi soundtrack sinetron tersebut. Liriknya sederhana namun sarat dengan pesan yang amat dalam. Dalam lagu tersebut, sebutan paling berharga, paling indah, paling bermakna dan mutiara tiada tara adalah sebutan yang disematkan untuk keluarga. Sesungguhnya itulah milik kita yang teramat bernilai, bahkan tak ternilai.

Pesan penting itu adalah sebuah kebenaran yang nampaknya diakui oleh semua orang secara universal. Tatkala kehilangan keluarga, maka seseorang betapapun ia memiliki harta atau jabatan, akan mengalami kehilangan yang tak dapat digantikan oleh apapun. Memiliki mereka yang dekat itu bagi kita manusia, adalah sesuatu yang teramat penting.

Suatu ketika, saya bersama dengan tim, melayankan perjamuan kudus keliling. Kami berkeliling dari rumah ke rumah, melayankan perjamuan bagi mereka yang terhalang karena kelemahan tubuh atau sakit. Pelayanan diakhiri dengan doa dan sebelum berdoa, biasanya kami menanyakan terlebih dahulu kepada oma atau opa yang kami layani tentang permintaan apa yang akan dimohonkan kepada Tuhan.

Ketika ditanya, ada yang mengatakan: “Saya tidak minta apa-apa sebab saya sudah punya banyak, saya hanya minta orang, sebab yang tidak ada itu orang di rumah ini.” Kami ternganga mendengarnya.

Keluarga Kristen di Tengah Kemajuan Informasi
Dalam perspektif iman kristen, keluarga memang memiliki arti yang teramat besar dan penting. Bukan hanya penting bagi seseorang, karena kehadiran orang-orang dekat adalah sebuah kebutuhan, namun penting sebab memiliki tugas dan panggilan luhur dari Allah. Paus Paulus VI, mengatakan bahwa ”…Keluarga patut diberi nama yang indah yaitu sebagai gereja rumah tangga (domestik). Ini berarti bahwa di dalam setiap keluarga Kristiani hendaknya terdapat bermacam-macam segi dari gereja.

Sebagai gereja, keluarga merupakan tubuh Kristus dan karena itu, juga dipanggil untuk menyatakan kasih Allah yang begitu luar biasa baik di dalam maupun di luarnya. Karena cinta kasih ada di dalamnya, ia juga adalah mutiara, di mana setiap luka atau penderitaan yang terjadi dapat diolah menjadi mutiara yang tiada tara.

Era ini adalah era perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sedemikian pesat. Jika ada benda yang paling lekat dengan manusia di era ini, maka itu adalah gawai atau gadget. Di dalamya dibenamkan juga teknologi yang menyajikan aneka macam aplikasi permainan, bisnis, pendidikan, agama dan lain sebagainya secara virtual. Pendeknya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah membuat seseorang kebanjiran informasi dan cukup sibuk sendiri.

Apakah kedekatan keluarga masih menjadi berharga dan penting untuk dibangun dan diperjuangkan? Kita dinasehatkan oleh firman Tuhan dalam Efesus 5:15, agar memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup, kita harus seperti orang arif.

Kemajuan teknologi harus disambut dengan sikap arif, sebab jika tidak, kita bisa memberhalakannya atau mengutukinya. Jika kita arif, maka kita akan menempatkannya secara proporsional, bahwa teknologi hanyalah alat yang harus dipergunakan bukan untuk merusak, namun untuk menjadi alat bantu, membantu keluarga membangun kedekatan dan memperjuangkan tugas kewajibannya yang luhur.

Penulis: Pdt. David Sudarto (GKI Gunung Sahari)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA