Ketelepasan

“Jangan menjawab ketika marah, jangan berjanji ketika gembira, jangan membuat keputusan ketika sedih.” – Anonim

Orang Betawi punya istilah ‘ketelepasan’ alias “terlanjur terkatakan” untuk menggambarkan kata-kata yang terlepas. Maksudnya, sebetulnya kita tidak berencana untuk mengatakannya, namun, karena satu dan lain hal, akhirnya justru tersampaikan juga.

Urusan ketelepasan ini bisa membawa masalah. Sebab, kata-kata yang terlepas tersebut kemudian disesali. Misalnya saja, karena, ternyata, kata-kata itu melukai perasaan seseorang. Atau, rupanya, bersifat rahasia, tidak baik diketahui orang lain.

Menurut kata-kata bijak yang dikutip di atas, ada tiga jenis situasi yang berpotensi menghadirkan ketelepasan, yaitu, saat kita sedang marah, atau ketika gembira, atau juga tengah bersedih. Bagaimana bisa begitu? Disadari atau tidak, dalam ketiga situasi ini, biasanya emosi cenderung lebih dominan daripada pikiran, sehingga ia “mengambil-alih” kemampuan mempertimbangkan serta menilai situasi. Akibatnya, kita kerap abai plus lalai terhadap dampak ucapan atau tindakan kita. Apa yang tersimpan dalam hati seolah meluncur begitu saja dari bibir. Tak terkendali.

Terpengaruh marah, bisa saja, kita menjawab, berseru, “Saya tidak mau melihat mukamu lagi di rumah ini!” – Padahal, sebetulnya, kita sama-sekali tidak bermaksud mengusir. Atau, mungkin saja, ketika rasa gembira tengah menguasai, kita berjanji, “Beres, saya yang akan membiayai kuliahmu sampai tamat S1.” – Padahal kita belum menghitung kondisi keuangan kita dan belum berunding dengan keluarga. Atau, saat kesedihan terasa berat menggelayut, kita memutuskan, “Tidak ada lagi gunanya aku hidup. Keluargaku tidak peduli padaku. Lebih baik aku mati saja!” Aduh, sangat gawat kalau seperti ini.

Menyadari benar potensi bahaya ketelepasan ini, Pemazmur dengan sungguh hati memohon kepada Tuhan, “… Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mazmur 141:3). Dengan demikian, sekalipun kita sedang marah, atau saat gembira, atau tengah bersedih, Tuhan menolong kita untuk tidak tenggelam dalam emosi. Untuk tetap mampu menilai situasi dan dapat mengendalikan diri serta kata-kata. Tentu saja kita sependapat dengan Pemazmur, bukan?

Penulis: Pdt. Timur Citra Sari (GKI Bekasi Timur)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA