Leksionari yang Masih Muda

Penggunaan ‘kembali’ leksionari di gereja-gereja Protestan belakangan ini, termasuk di lingkup GKI, bukannya tanpa kendala. Sejumlah hal-hal yang dianggap sebagai tantangan kerap dikeluhkan oleh pengkhotbah maupun penyelenggara kebaktian lainnya.

Kendala itu ada terkait hal teknis semisal bagaimana memperkenalkannya pada jemaat yang asing dengan tradisi ini, atau bagaiman membuat agar pembacaan tidak terkesan monoton, atau terkait penyesuaiannya dengan event-event hari minggu tertentu yang sudah menjadi program di lingkup jemaat lokal.

Tentu saja hal-hal seperti ini lebih mengarah kepada kebiasaan penggunaan leksionari yang masih terbilang muda di gereja-gereja Protestan Indonesia. Pakem yang selama ini dominan terkait ibadah adalah hanya terdiri dari beberapa nyanyian pujian, doa, pengakuan iman dan khotbah yang diambil dari satu saja perikop Alkitab. Tidak harus empat bacaan, dengan Mazmur sebagai bacaan yang didaraskan.

Permasalahan seperti itu mungkin bisa diatasi dengan kreativitas penyelenggara ibadah. Sejumlah jemaat GKI, misalnya, mengaransemen Mazmur dengan cara yang unik dan musikalitas yang baik. Demikian pula pembacaan Injil bisa dilakukan dengan lebih dramatik. Atau tema-tema yang lazim diangkat dalam bulan musik atau bulan keluarga, misalnya, disesuaikan dengan tema bacaan. Atau jika memang dirasa perlu menekankan pengajaran, atau satu sesi kebaktian khusus yang dialokasikan untuk itu.

Namun sebenarnya ada kendala yang lebih esensial, ketimbang sekedar penyesuaian teknis seperti ini. Yaitu lebih kepada model ibadah yang sebenarnya gereja Protestan asumsikan.

Sebagaimana diungkap oleh Pdt. Robert Setio, penggunaan leksionari sebenarnya ada di jemaat dengan tradisi liturgis yang kuat, seperti Gereja Katolik/Ortodoks. Di tradisi ini, bacaan Alkitab dalam leksionari dipahami sebagai kerangka liturgis, bukan sebagai teks untuk dikhotbahkan atau disampaikan secara rasional pada jemaat.

Leksionari menjadi pengalaman jemaat berliturgi. Jemaat bersama membaca/mendengarkan Kitab Suci, lalu masuk ke dalam pengalaman persekutuan dengan firman Tuhan. Tanpa mesti dirasionalisasi dalam simpulan. Kalaupun dalam ibadah gereja yang demikian ada homili atau khotbah, maka khotbah pun dianggap sebagai bagian dari alur liturgis, hingga pengalaman liturgis puncaknya di momen persekutuan ekaristi.

Dalam pengertian ini, menurut Pdt. Robert Setio, penggunaan leksionari untuk khotbah malah menjadi tidak perlu. Tentu ini berbeda dengan kebiasaan beribadah di gereja Protestan yang biasanya juga dipakai sebagai kesempatan mengajar jemaat, terutama lewat khotbah. Ini menuntut si pengkhotbah merangkaikan tiap bacaan leksionari menjadi satu benang merah ide untuk disampaikan pada jemaat. Hal yang sayangnya dalam sejumlah kasus, justru sulit dilakukan.

Solusi yang diusulkan adalah memisahkan leksionari dengan khotbah. Apabila bacaan-bacaan tersebut tetap ingin ditempatkan dalam khotbah maka sebaiknya hal tersebut dilakukan bukan dengan menyambung-nyambungkan teks. Bagi Pdt. Robert Setio, teks-teks tersebut sebaiknya tetap dipahami dalam konteks dialog jemaat dengan Sang Sabda.

Posisi ini agak berbeda dengan pendapat Pdt. Yohanes Bambang Mulyono yang meyakini hermeneutika-leksionari bisa diterapkan di gereja Protestan. Benang merah antar bacaan sangat mungkin ditemukan.

Secara historis Pdt. Rasid Rachman menegaskan bahwa kebutuhan untuk pengajaranlah yang menjadi alasan tersusunnya kitab suci dan pola pembacaannya. Hal yang kemudian berlaku timbal balik sehingga leksionari pun bisa menjadi dasar untuk pengajaran. Dengan kata lain, leksionari ditempatkan dalam konteks khotbah, menurut Pdt. Rasid Rachman telah hidup di dalam kekristenan mula-mula dan bisa menjadi bagian dari praktik penggunaan leksionari pada masa kini.

Disarikan dari: Diskusi Hermeneutik Leksionari, KPT GKI SW Jawa Barat.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA