Memandang Muka

“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” – Yakobus 2:1

Di era 1776 SM, kerajaan Babilon barangkali adalah yang terbesar di dunia kala itu, dengan jumlah rakyat kira-kira sejutaan. Kekuasaannya ada di Mesopotamia, termasuk sebagian besar Irak modern, serta sebagian Suriah dan Iran masa kini. Raja Babilon paling terkenal bernama Hammurabi. Ia tenar salah satunya karena produk hukum legendaris yang disebut Undang-undang Hammurabi.

Dalam undang-undang ini, rakyat Babilon terbagi menjadi dua jenis kelamin dan tiga golongan masyarakat, warga kelas atas, warga biasa dan para budak. Ketiga golongan masyarakat ini memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Demikian pula hukuman yang mereka timpa ketika melakukan kesalahan diukur berdasarkan di golongan mana mereka berada.

Sebagai contoh yang ditulis di undang-undang itu adalah: bila orang kelas atas membutakan mata orang kelas atas lainnya, matanya harus dibutakan. Namun, bila ia membutakan mata rakyat biasa, dia harus menimbang dan membayarkan enam puluh syikal perak. Dan bila ia membutakan mata seorang budak miliki orang kelas atas, dia harus menimbang dan membayarkan setengah nilai budak itu.

Setiap jenis kelamin dan kelas juga bernilai berbeda. Nyawa perempuan jelata senilai tiga puluh syikal sementara nyawa perempuan budak dua puluh syikal perak.

Hammurabi berpendapat susunan hirarki, yang membeda-bedakan kelas dan memandang muka ini memang sangat dibutuhkan untuk membuat tatanan sosial yang teratur. Pada hakikatnya, penggolongan manusia berdasarkan golongan masyarakat dan jenis kelamin itu adalah semata-mata pemikiran Hammurabi. Namun kemudian diterima, dipercaya dan diyakini sebagai sebuah kebenaran yang mewujudnyata dalam keseharian Kerajaan Babilon.

Jemaat yang Memandang Muka
Kita seharusnya tidak terkejut bahwa produk pemikiran dari sebuah kerjaaan yang primitif itu masih berlangsung di segala abad dan tempat. Bahkan kita pun harus jujur mengakui bahwa hukum Taurat juga menyebut-nyebut berbagai golongan masyarakat seperti Yahudi asli dan Non Yahudi (biasanya budak). Perlakuan yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan pun terdapat di sana. Jelas, para lelaki menduduki kursi yang lebih tinggi daripada para wanita.

Di Perjanjian Baru, Rasul Yakobus juga mengeluhkan fenomena ini. Ia mengamati bahwa meski pun orang-orang telah menjadi pengikut Kristus, iman dan perbuatan mereka masih sarat dengan memandang muka (Yakobus 2:1-4). Perlakuan kepada orang kaya berbeda dengan orang miskin. Kepada orang kaya, mereka memberikan penghormatan; sementara kepada orang miskin mereka memberikan penghinaan.

Menghapus Praktik Memandang Muka
Usaha menghilangkan praktik memandang muka tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tidak pula semudah kita mematikan sebuah “tombol” tertentu dalam otak kita. Kita adalah manusia yang dibentuk oleh dunia dan kebiasaan di mana kita lahir dan dibesarkan – dan tidak ada sebuah lingkungan yang bersih bagaikan kertas kosong. Namun kita bisa secara perlahan-lahan kita mulai mengikisnya dengan sejumlah cara.

Pertama, hendaknya kita memandang dan menilai diri tidak berdasarkan kepemilikan yang kita punyai. Kedua, kita bisa belajar bersikaplah adil sejak dari pikiran. Artinya, sejak dari pikiran kita tidak memilah-milah sikap, kata-kata dan bahasa tubuh tertentu untuk orang-orang berdasarkan penampilan lahiriah tertentu. Adil sejak dari pikiran sangat menolong kita untuk memiliki ketulusan.

Yakobus memberikan nasihat pamungkas untuk mengobati virus memandang muka. Nasihat yang kuno, namun masa berlakunya menembus hingga keabadian. Nasihat itu sederhana saja: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Yakobus 2:8).

Nasihat ini memang terdengar mudah, dan mudah pula dihafal. Hanya saja, meskipun ajaran ini mampu menembus keabadian, tapi ternyata sulit menembus alam pikiran kita. Semoga anugerah-Nya memampukan kita.

Penulis: Pdt. Andy Gunawan (GKI Citra Raya)

Ilustrasi: bustle.com

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA