Mengurai Selamat dari Pdt. Andar Ismail (2)

Seorang penatua jemaat memarahi Andar kecil. Anak itu baru saja mengantarkan koran yang dilanggani gereja. Namun, koran itu tidak ditaruh di tempat semestinya. Andar hanya bisa diam dan beringsut dengan hati agak tawar. Kejadian di halaman depan GKI Kebonjati itu sedikit banyak membekas di hatinya.

Namun, Andar Ismail tidak undur dari pelayanan gereja, semata karena hal itu. Ia tetap merasa sebagai benih yang ditanam di gereja. Siapa sangka, ternyata si penatua, yang dirahasiakan namanya, juga melihat kesungguhan hati Andar dalam melayani. Orang itulah yang kemudian memberi bekal uang saku dan membelikan tiket kereta api, agar Andar berangkat ke Sekolah Teologi Balewijoto, Malang…

Karya Balas Budi
Momen seperti itu bukan sekali dua kali terjadi dalam hidup Pdt. Andar Ismail. Studinya di Balewijoto diperoleh karena dukungan beasiswa dari GKI Kebonjati. Demikian pula studi-studi lanjutan yang ia tempuh di luar negeri, selalu karena dukungan berbagai pihak. Bahkan, pernikahannya pun sepenuhnya ditanggung oleh jemaat GKI Samanhudi tempatnya melayani.

Andar melihat begitu banyak pribadi yang dengan tulus membantunya. Mereka meyakini pria sederhana ini punya talenta luar biasa yang akan memberkati banyak orang.

Kepercayaan itulah yang membuatnya semakin mantap untuk berkarya di kepenulisan dan pendidikan Kristiani. Ia ingin talenta yang dimilikinya, bisa mendorong dan menguatkan banyak orang. Seri Selamat adalah salah satu cara utama Pdt. Andar Ismail dalam karya itu. Ini layaknya balas budi atas bantuan dan kepercayaan sekian banyak orang.

Meja kerja Pdt. Andar di BPK Gunung Mulia setidaknya menunjukkan harapan tadi. Ada salib Taize tergantung dengan wajah Kristus yang menunduk menatap ke meja tulis. Pada kaki salib tersebut, terpampang tulisan tangan yang berbunyi:

“Karunia yang Ku berikan kepadamu adalah menulis Seri Selamat untuk menjelaskan yang susah menjadi mudah. Teruslah menulis, jangan kecewa dan putus asa. Teruslah menulis sampai nanti Aku menepuk pundakmu, mengangguk tersenyum padamu dan menjemput kamu.”

Soal Angka 33
Sampai 2018 kita telah melihat 29 Seri Selamat dengan tema-tema yang sangat dekat dengan kebutuhan keseharian Kristiani di Indonesia. Di tiap seri itu akan ada 33 refleksi sederhana, namun mengajak orang untuk merenung dan memikirkan kembali hal-hal yang dianggap begitu lazim.

Mengapa 33? Secara umum angka itu memang mengacu pada masa hidup Yesus di bumi. Karya besar Kristus dalam waktu sedemikian singkat itu selalu membuat Pdt. Andar terpesona. Ia berharap bisa meneladani-Nya.

Namun, secara personal angka itu juga mengacu pada periode khusus dalam kehidupan pendeta jemaat GKI Samanhudi ini. “Di umur 33 saya pernah sakit parah dan diopname di rumah sakit. Itu membuat saya merenungi kembali makna hidup. Maka bagi saya, angka itu sangat menarik,” jelas Pdt. Andar.

Kedalaman Kekristenan
Tema-tema dalam Seri Selamat bisa saja berwujud seperti apologetika dan pengetahuan Kristiani, misalnya terkait Natal, Paskah, Kristologi, atau Alkitab. Namun, Andar bukanlah berlaku seperti apologet atau pengajar Kristen yang pamer pengetahuan. Dengan gaya yang tidak menggurui, ia mengajak pembaca bertualang dengan kekayaan informasi dan tradisi Kristiani sembari menimbang dengan kritis keyakinannya selama ini.

Maka pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa benar Yesus lahir 25 Desember? Apa benar Yesus bangkit? Apakah Alkitab itu tidak diubah? Tidak dijawab dengan gaya ngotot dan siap berdebat. Namun justru menantang jawaban yang lebih hakiki dan mewujud nyata. Bagi Pdt. Andar justru itulah yang diharapkan dari kekristenan.

Sebagai contoh, saat ia mengangkat tema tentang kebangkitan (Selamat Paskah, 1982). Di masa itu, kontroversi terkait ditemukannya makam Yesus di Talpiot sedang hangat-hangatnya dibicarakan teolog maupun kaum awam Protestan. Sebagian orang jadi ragu soal kebangkitan Yesus. Akan tetapi, Andar justru dengan tegas keluar dari polemik itu saat menjawab:

Tidak adakah bukti bahwa Yesus bangkit dari kematian? Tidak. Kebangkitan Yesus tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Kalau toh ingin bukti, bukti itulah yang masih harus kita buat. Bukti itu adalah perilaku kita sebagai pengikut Yesus.

Bagi sebagian orang, jawaban seperti ini nampaknya kurang memuaskan. Namun, justru disitulah letak kedalaman Kristiani. Tak heran, banyak pembaca yang justru merasa sangat diberkati karena diajak untuk masuk ke hal yang lebih esensi.

Yang lebih sering, Pdt. Andar memang mengangkat tema yang lebih keseharian seperti keluarga, gereja, pelayanan atau kenyataan bahwa kita tinggal di masyarakat majemuk. Tak jarang, ia juga menyelipkan sejumlah teladan tokoh Kristen, terutama teolog-teolog Indonesia. Lewat itu semua ia selalu mengangkat refleksi untuk digeluti bersama.

Seri Selamat tentu tidak hanya dibaca warga GKI. Seorang pembaca dari latar gereja kharismatik pernah menulis komentar unik. Ia menyoal yang ditulis Pdt. Andar dalam Selamat Berkiprah (2001) soal kesaksian Kristen. Menurutnya, ide itu sangat berbeda dengan apa yang diajarkan di lingkungannya. Namun, ia justru merasa mendapat banyak pencerahan baru, sisi yang tak pernah digelutinya selama ini.

Memang disitulah keistimewaan Seri Selamat. Tema-tema yang dimunculkan meski meluaskan pengetahuan, tidak mendorong orang jadi besar kepala dan menengadah sombong, namun justru diajak untuk sejenak menunduk, melihat kedalaman diri, menguji spiritualitas, relasi, dan sikap hidup selama ini. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA