Pak Kun Pulang!

Berita itu mungkin tidak terlalu mengejutkan. Ketika menggelar ibadah syukur 40 tahun kependetaannya September tahun lalu, Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya sudah wanti-wanti berpesan: “It might be my farewell. Ini bisa saja jadi perpisahan saya.” Pak Kun, begitu beliau biasa disapa, sadar betul kondisi kesehatannya membuatnya kian merasa dekat dengan ujung karya di dunia.

Tapi tetap saja kabar wafatnya beliau Senin malam (17/9), terasa menyesakkan. Sekian banyak yang pernah mengenal Pak Kun secara personal, lantas mengunggah kenangan serta pelajaran hidup dari penulis seri Selusur Spiritual ini.

Orang-orang tentu bisa mendaftar sekian banyak hal yang telah menjadi karya Pak Kun. Hidupnya amat kenyang akan kekayaan spiritualitas. Ia pun begitu murah hati ia membagikan sekaligus menghadirkannya bagi banyak orang. Baik lewat khotbah, tulisan, percakapan personal maupun teladan yang kokoh.

Dalam sejumlah ungkapan duka yang ditampilkan di media sosial, SELISIP mencatat ada yang amat mengingat kegigihannya demi kesatuan gereja (terutama saat mempertahankan klasis Priangan di Sinode GKI, juga merintis kembali kedekatan GKI SW Jawa Barat dengan GKP). Ada pula yang dengan jelas melihat perhatian khususnya kepada kaum muda dan anak-anak. Para aktivis lapangan mungkin lebih mengingat ide pria kelahiran 3 November 1949 itu untuk mendirikan GKI Humanitarian yang kini menjadi Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Serta usulannya yang belum kesampaian soal perlunya gereja mewadahi advokasi keadilan, semangatnya mengkampanyekan gerakan kekristenan global Oikotree.

Namun, jauh lebih banyak orang yang lebih mengingat interaksi dengannya sepanjang menjabat kepengurusan di sejumlah lembaga pelayanan (GKI SW Jawa Barat, Radio Pelita Kasih, BPK Penabur, UKRIDA, BPK Gunung Mulia, PGI, WCC, dll). Hampir semua bersaksi apa yang Pak Kun tuliskan dan khotbahkan di banyak forum, adalah juga yang mereka jumpai dalam keseharian. “Walk the talk,” begitu pendeta bersuara lantang ini selalu diingat.

Tidak sedikit yang juga mengenang perdebatan ide dan adu argumen mereka dengan Opa satu cucu ini. Pertanda bahwa beliau bukanlah sosok yang permisif dan sekedar ingin disukai. Semua dengan penuh kesadaran mengaku bahwa Pak Kun adalah mitra debat yang amat membangun. Ia laksana buku terbuka. Jelas dan terang untuk dilihat dan dikritisi siapa saja, sembari perlu untuk terus dibaca.

Buku itu pun kini ditutup. Saat jam dinding di RS Dharmais hampir menunjuk pukul sembilan malam, bab terakhir dari kisah hidup Pak Kun selesai. Pak Kun pulang, meninggalkan buku dengan segudang teladan itu, untuk kita. Selamat jalan Pak Kun! **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA