Posisi Tubuh dalam Ibadah

Ketika lagu kebangsaan dikumandangkan sebelum pertandingan olahraga dimulai, lazimnya kita berdiri tegak sebagai tanda hormat pada negara. Namun, Colin Kaepernick, diikuti sejumlah rekannya, malah berlutut saat lagu kebangsaan Amerika dinyanyikan. Pemain football NFL berkulit hitam ini sengaja melakukan aksi, sebagai bentuk protes terhadap diskriminasi rasial yang sedang marak di sana. Tindakan itu mengundang reaksi pro dan kontra. Sebagian mendukung, sebagian menuduhnya tidak berjiwa patriotik.

Yang dipersoalkan tentu bukan sekedar soal posisi berdiri atau berlutut. Posisi tubuh itu merepresentasikan sesuatu yang penting. Bagi Kaepernick, berlutut itu simbol keprihatinan. Bagi lawan-lawannya, itu bentuk penghinaan.

Dalam Ibadah Minggu, posisi tubuh juga punya arti simbolik yang penting. Kita duduk atau berdiri bukan sekedar karena kebiasaan. Sikap berdiri berarti hormat atau siap siaga. Itu sebabnya kita berdiri ketika menerima Berita Anugerah, ketika mengucapkan Pengakuan Iman, juga ketika menerima Pengutusan dan Berkat.

Di banyak tradisi gereja, umat juga berdiri saat pembacaan Injil. Mengapa? Bacaan Injil adalah inti dan puncak pembacaan Alkitab, sebab didalamnya tertera kisah hidup dan perkataan Kristus. Karena ibadah kita berpusat pada Kristus, umat berdiri saat Injil dibacakan, sebagai tanda hormat dan siap menerima perkataan-Nya.

Selain itu, umat juga berdiri saat prosesi. Mengapa? Ritual prosesi (artinya arak-arakan; masuk beriringan alias antre) adalah simbol perziarahan hidup manusia. Setiap minggu kita diingatkan bahwa kita sedang berziarah menuju Yerusalem Baru. Dalam perziarahan itu, kita dipimpin oleh firman Tuhan (ditandai dengan Alkitab yang diarak), oleh Kristus sendiri (ditandai dengan tiang salib), dan diterangi oleh hadirnya Tuhan (ditandai dengan lilin).

Idealnya seluruh umat ikut berprosesi. Namun karena alasan praktis, hanya para pelayan ibadah yang berprosesi sebagai representasi umat. Sebagai simbol keikutsertaan kita dalam prosesi itu, kita berdiri sambil menyanyikan nyanyian prosesi.

Posisi duduk juga punya arti tertentu. Duduk menunjukkan sikap reflektif. Ia menandakan kita sedang dalam modus “merenung.” Itulah sebabnya kita duduk saat firman Tuhan dibacakan (selain bacaan Injil) dan dijelaskan. Saat Pengakuan Dosa, kita duduk dan tunduk sebagai tanda penyesalan. Di beberapa gereja, pengakuan dosa dilakukan dengan berlutut. Posisi tubuh ini dapat menciptakan suasana yang sangat khusuk, namun tidak banyak lagi dijumpai di gereja Protestan.

Selain duduk dan berdiri, ada berbagai posisi dan gerakan tubuh lain dalam ibadah. Kita bersalaman pada ritual Salam Damai dan melipat tangan saat berdoa. Sebagian umat menengadahkan tangan saat menerima berkat.

Ini menunjukkan bahwa kita bukan hanya memakai telinga, mata, dan pikiran saat beribadah. Seluruh tubuh ikut terlibat. Oleh karena itu tubuh perlu dipersiapkan untuk beribadah. Bahkan menurut Rasul Paulus, tubuh harus dilatih untuk beribadah (1 Tim 4:7), sama seperti tubuh harus menjalani “latihan badani” saat berolahraga (1Tim 4:8). Melatih diri beribadah berarti mendisipin tubuh kita untuk masuk dalam modus ibadah. Sadar bawah kita beribadah bukan hanya lewat kata-kata, nyanyian, doa, dan kehadiran kita. Seluruh tubuh, termasuk posisi dan gerakan tubuh, perlu diarahkan untuk menunjukkan bakti kepada Tuhan.

Sejak internet dapat diakses di telepon genggam, kini ada posisi tubuh baru di dalam ibadah. Beberapa orang terlihat duduk, tunduk, dan serius. Dari jauh tampak seperti sedang berdoa, namun matanya berfokus pada layar kaca didepannya. Jari-jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk layar kaca itu. Ini namanya posisi “mainan HP.” Posisi ini juga punya makna. Itu adalah simbol kebosanan dan keengganan mengikuti ibadah. Tubuhnya ada di gereja, tetapi hati, pikiran dan jari-jemarinya lagi beroperasi di dunia maya.

Penulis: Pdt. Juswantori Ichwan (GKI Samanhudi)

Foto: ABC7news

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA