Seni dalam Ibadah

Johannes Calvin, tokoh reformasi gereja, pernah membuat sebuah keputusan radikal sewaktu ia mengatur kebaktian di Jenewa. Ia melarang alat musik apapun dipakai dalam ibadah. Paduan suara juga ditiadakan. Alhasil, hampir seratus tahun lamanya, jemaat-jemaat Prostestan di Jenewa menyanyi tanpa iringan musik!

Di Zurich, tokoh reformasi lainnya, Zwingli, melarang dipakainya seni lukis dan seni rupa dalam ruangan ibadah. Dibersihkannya gedung-gedung gereja dari lukisan maupun patung. Karya-karya seni bernilai tinggi itu dihancurkan. Bahkan simbol-simbol berupa lilin, kain dengan warna-warni liturgi, dan ornamen lainnya dikeluarkan dari gereja. Mengapa ini terjadi?

Aksi radikal ini terjadi akibat reaksi para reformator terhadap praktek ibadah (misa) di masa-masa sebelumnya. Ketika itu nyanyian jemaat di sepanjang ibadah dinyanyikan oleh paduan suara, dengan melodi dan komposisi yang ruwet. Karena susah, umat tidak bisa ikut menyanyi. Iringan musiknya juga lebih menonjolkan unsur seni dan kepiawaian pemusiknya. Sementara itu, karya seni berupa lukisan, patung, dan berbagai ornamen memenuhi ruang kebaktian dan menciptakan aura “magis.”

Semua itu dipandang mengalihkan perhatian umat dari mengarahkan hati untuk merenungkan firman Tuhan. Calvin dan Zwingli sebenarnya tidak anti seni. Buktinya, Calvin meminta Louis Bourgeois untuk menggubah nyanyian-nyanyian Mazmur baru. Namun ia keberatan jika seni di dalam ibadah lebih menonjolkan aksi ketimbang fungsi (fashion over function).

Kini gereja-gereja Protestan tidak lagi menerapkan kebijakan radikal Calvin dan Zwingli. Orang semakin menyadari peran seni sebagai alat bantu yang penting di dalam ibadah. Lewat seni, berbagai pesan spiritual bisa disampaikan secara lebih utuh. Lewat seni, orang dapat mengungkapkan perasaan dan pergumulannya kepada Tuhan. Bahkan keagungan dan kebesaran Tuhan dapat digambarkan lewat seni.

Itu sebabnya kini kita memanfaatkan berbagai bentuk seni dalam ibadah: seni musik, seni tari, seni teater, seni arsitektur, seni desain, seni lukis, seni merangkai bunga, dan lain-lain. Pelbagai simbol dan warna kembali menyemarakkan kebaktian gereja.

Walaupun sangat berguna, pemakaian seni hendaknya tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Kita beribadah bukan untuk menikmati seni, melainkan untuk mewujudkan bakti kepada Tuhan dan mendengarkan sabda-Nya. Seni dipakai hanya sejauh ia berfungsi dalam memperkaya makna, bukan sekedar untuk aksi (function over fashion). Ibadah adalah sebuah perayaan, namun ia bukan pagelaran!

Tom Driver, penulis Liberating Rites, menyatakan bahwa dalam perayaan ritual keagamaan, kita bisa menekankan modus ritual atau modus teatrikal. Ketika modus teatrikal diutamakan, unsur seni menjadi dominan. Ibadah menjadi penuh aksi dan kreasi. Berbunga-bunga. Menciptakan “efek wow”, namun makna ritualnya sendiri bisa terabaikan. Kemasannya lebih diperhatikan daripada isinya. Ibadah berubah menjadi konser musik atau drama musikal. Sebaliknya, ketika modus ritual ditekankan, ibadah bisa menjadi polos. Biasa, tanpa “efek wow.” Sederhana, namun bisa juga penuh makna.

Sebagian orang datang beribadah dengan harapan disuguhi sesuatu yang berbeda. Spesial. Keren. Apalagi di masa Natal dan Paskah. Modus teatrikal memang perlu juga diperhatikan dalam ibadah khusus. Gedung gereja dihias. Aransemen musiknya khusus. Paduan suara tampil prima.

Seni berperan, namun dosisnya perlu ditakar. Dalam 1Tim 6:6 kita diingatkan, ibadah bisa memberi manfaat besar hanya jika “disertai rasa cukup.” Jika kita tidak mengharapkan yang berlebihan. Jika kita tidak menjadi penonton yang gandrung disuguhi berbagai acara semarak. Kebaktian memang bukan acara pertunjukan seni atau pentas bakat. Yang membuatnya istimewa mestinya bukan unsur seninya, melainkan kehadiran-Nya: “di situ Aku (Kristus) ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20).

Penulis: Pdt. Juswantori Ichwan (GKI Samanhudi)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA