Seri Tokoh: Eka Darmaputera yang Menghidupi Teologi (2)

Gereja Gang Padang, demikian orang dulu mengenal nama jemaat ini. Gereja yang terbilang kecil dan belum terlalu tua. Jemaat ini mandiri sejak tahun 1954 dan bergabung dengan THKTKH (GKI) Jawa Barat, pada Juli 1956. Kita kemudian mengenalnya sebagai GKI Bekasi Timur. Tahun 1960-an jemaat ini mengalami perkembangan. Apalagi selepas 1965, cukup banyak warga etnis Tionghoa yang kemudian bergabung ke gereja.

Di tengah konteks seperti itulah, tahun 1966, Eka Darmaputera datang sebagai mahasiswa praktik teologi. Gayanya slengean. Ia kerap terlihat dengan pakaian cowboy, rambut agak gondrong, serta kepulan rokok di tangan. Namun, semua jemaat, khususnya kaum muda, ternyata suka dengan khotbah-khotbahnya. Ia kemudian menjalani masa persiapan calon pendeta dan resmi menjadi pendeta GKI Bekasi Timur pada 15 September 1967.

**
Sebenarnya Eka punya potensi besar masuk dunia politik seperti rekan-rekan seangkatannya. Aktivitas organisasinya, serta koneksinya dengan tokoh-tokoh politik sangat pas untuk akses ke kekuasaan. Tapi entah kenapa ia memilih tetap melanjutkan praktik dan menjadi pendeta.

Jangan tanya saya, kenapa menjawab: ‘Ya’ waktu itu,” kenang Eka di suatu wawancara. “Keputusan itu saya ambil hampir tanpa refleksi. Padahal kalau dipikir secara normal nggak ada enaknya jadi pendeta disini. Ini jemaat yang sulit, orangnya sedikit, sangat konservatif dan homogen secara etnis.

Namun ternyata itulah laboratorium pastoral-teologis bagi Eka. Perlahan, ia secara sistematis mengubah jemaat menjadi terbuka serta menghayati nasionalisme dan semangat ekumenis. Mulai dengan kelas PA yang membangun spiritualitas terbuka, memperkenalkan keanekaragaman budaya Indonesia lewat program Malam Indonesia Indah, hingga menggelar seminar bertema sosial-politik. Tentu saja usaha itu tidak selalu mulus. Namun kegigihan ini memang berhasil mengubah wajah jemaat GKI Bekasi Timur.

**
Tidak hanya di jemaat, Eka pun terlibat dalam gerakan kesatuan gereja, baik di lingkup GKI maupun DGI/PGI. Lewat forum-forum Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) yang diselenggarakan DGI, gagasan utama Eka tentang peran gereja dalam masyarakat semakin banyak terkumpul.

Eka meyakini bahwa gereja dan umat Kristiani tidak boleh hanya berjuang untuk dirinya sendiri. “Platform perjuangan Kristen adalah bagi semua orang, bagi seluruh bangsa. Dan itu berangkat dari keyakinan teologis saya bahwa sesuatu yang baik hanya untuk orang Kristen saja itu tidak Kristiani. Something which is good only for Christian is un-Christian. Yang Kristiani adalah kalau itu baik untuk semua orang,” tulisnya dengan tegas.

Ide-ide ini membuat Pdt. Eka semakin dikenal di berbagai forum teologis dan kemasyarakatan. Atas dorongan sejumlah tokoh, Eka akhirnya melanjutkan studinya ke Boston, Amerika Serikat.

**
Mei 1982 Eka berhasil memperoleh gelar doktor lewat disertasinya Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society – An Ethical and Cultural Analysis. Di dalamnya dengan fasih Eka menuliskan penghayatan Pancasila sebagai ideologi terbuka, bukan sekedar yang diformalkan, namun yang dihidupi oleh keseharian masyarakat Indonesia.

Ide itu sangat progresif. Berbeda dengan cara dan pendekatan pemerintahan Orde Baru terhadap Pancasila yang kaku dan tertutup. Ide Eka ini kemudian dimatangkan bersama T. B. Simatupang saat mereka mengusulkan kepada presiden Soeharto tentang Pembangunan Nasional Sebagai Pengamalan Pancasila (PNSPP). Usulan kritis itu sebenarnya diterima secara formal saat GBHN 1984 dirumuskan dengan menjadikan pengamalan Pancasila sebagai jantung pembangunan. Namun, nampaknya itu hanya sebatas kertas.

Di titik ini Eka mulai banyak mengkritisi gereja dan PGI yang dinilainya bermain aman dengan status quo mendukung pemerintahan Orde Baru. Tindakan yang menurutnya hanya cari keselamatan diri sendiri, namun melupakan panggilan dan tanggung jawab.

**
Eka juga menggagas forum demokrasi, kemanusiaan dan lintas iman. Bersama Th. Sumartana, Djohan Effendi, Gus Dur, Gedong Bagus Oka, dan sejumlah tokoh lain, mereka menggagas forum lintas iman progresif, sebagai tandingan atas forum-forum kerukunan beragama ala Orde Baru. Tahun 1991, Interfidei dibangun sebagai wujud ide itu.

Sudah jelas bila orientasi kita adalah pada eksistensi diri kita (gereja) sendiri, maka kita akan cenderung melihat semua kekuatan lain sebagai ancaman atau paling sedikit sebagai saingan. Namun apabila orientasi kita adalah pada kepentingan seluruh rakyat, maka kita tidak punya pilihan lain kecuali harus melihat Islam dan umat beragama lain sebagai kawan seperjuangan,” tulisnya terkait aktivitas ini.

Era 1990-an adalah masa produktif menulisnya di berbagai media, berkhotbah, berbicara di banyak ceramah. Kumpulan pemikirannya mencakup banyak topik, sembari menjadi inspirasi banyak tokoh Kristen Indonesia, maupun pemikir lintas agama lainnya. Pada 1999, Eka sempat melibatkan diri dalam politik praktis. Ia bergabung dengan PDI-Perjuangan, namanya termasuk dalam bakal calon, namun tidak jadi dicantumkan dalam daftar calon jadi.

Sayang di masa ini Eka mulai mengalami kanker yang amat mempengaruhi kesehatannya. Namun ia tetap setia memimpin PA, mengisi seminar dan berkhotbah, apalagi jika berorientasi bagi kaum muda. Hal yang nampaknya ranah panggilannya sebagai pendeta, sebagaimana ia simpulkan sendiri:

Di dalam setiap khotbah, dalam setiap ceramah saya, bukan hanya dalam lingkungan Kristen, tetapi juga kalau saya menyampaikan makalah atau ceramah kepada mereka yang non-Kristen, selalu ada dimensi pastoral. Saya tidak pernah melihat tugas pastoral sebagai tugas untuk memberikan jawaban yang siap pakai melainkan lebih kepada pengidentifikasian diri saya. Jadi saya bersama-sama dengan mereka.” **arms

Baca juga: Eka Darmaputera yang Menghidupi Teologi (1)

Foto: Jakatarub

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA